Manfaat Kulit Manggis untuk Apa Saja? Peneliti IPB Ungkap Potensinya sebagai Antidiabetes Alami

Penelitian IPB mengungkap kulit manggis berpotensi menjadi antidiabetes alami berkat kandungan bioaktifnya yang tinggi.

Diterbitkan 02 Januari 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kulit manggis yang selama ini kerap dibuang ternyata menyimpan potensi besar bagi kesehatan. Penelitian yang dilakukan IPB University menunjukkan bahwa bagian buah manggis ( Garcinia mangostana L. ) ini mengandung senyawa bioaktif dengan manfaat farmakologis tinggi, terutama sebagai antioksidan alami dan antidiabetes.

Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Prof. Sedarnawati Yasni, menjelaskan, manggis memiliki dua sumber gizi penting. Daging buahnya kaya akan pektin dan polifenol, sementara kulitnya mengandung xanthon, tanin, flavonoid, dan antosianin yang berperan sebagai antioksidan.

"Daging buah manggis mengandung pektin dan polifenol, sedangkan kulitnya mengandung xanthon, tanin, flavonoid, dan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan alami," ujar Sedarnawati dikutip dari ipb.ac.id pada Jumat, 2 Januari 2026.

Kandungan tersebut membuat kulit manggis berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku pangan fungsional dan produk farmasi. Sejumlah penelitian juga melaporkan bahwa senyawa bioaktif dalam manggis berperan dalam pencegahan berbagai penyakit degeneratif, mulai dari diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, stroke, kanker, hingga Alzheimer.

Dalam riset yang dilakukannya, Sedarnawati menemukan bahwa ekstrak etanol 70 persen dari kulit manggis mampu menghambat aktivitas enzim alfa-amilase secara in vitro. Enzim ini berperan dalam proses pemecahan pati menjadi glukosa di dalam tubuh.

"Ekstrak kulit manggis terbukti mampu menghambat aktivitas enzim alfa-amilase, sehingga berpotensi menurunkan kadar glukosa darah dan bekerja sebagai antidiabetes," katanya.

 

Dukungan Riset Kulit Manggis

Meski hasilnya menjanjikan, Sedarnawati menegaskan bahwa riset ini masih perlu dilanjutkan ke tahap in vivo dan uji klinis sebelum dikembangkan secara luas. Menurutnya, proses standardisasi, uji keamanan pangan, hingga pengujian efektivitas menjadi tahapan krusial sebelum produk dipasarkan.

Tak berhenti di laboratorium, Sedarnawati juga mengembangkan berbagai inovasi produk turunan manggis, seperti minuman kesehatan, enkapsulat nanopartikel ekstrak kulit manggis, hingga fruit leather berbasis puree daging buah yang dipadukan dengan ekstraknya.

"Inovasi ini tidak hanya memperpanjang umur simpan buah manggis, tetapi juga meningkatkan nilai tambah ekonominya," ujarnya.

Dengan dukungan riset terapan dan kemitraan industri, Sedarnawati optimistis potensi kulit manggis dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kesehatan masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional.