Influenza Subclade K Dijuluki Super Flu, Epidemiolog Ungkap Alasannya

Ini alasan di balik julukan Super Flu untuk influenza subclade K yang picu lonjakan kasus di Eropa dan AS.

Diterbitkan 30 Desember 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Super flu disebut sebagai biang kerok lonjakan kasus influenza di beberapa negara selama musim dingin tahun ini.

Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan, super flu adalah nama yang disematkan oleh media dan masyarakat untuk merujuk pada influenza subclade K atau subvariant dari A H3N2.

“Untuk diketahui, infeksi influenza itu disebabkan oleh virus yang ada empat sebenarnya, ada A, B, C, dan D. Yang menjadi wabah musiman itu terutama adalah influenza A dan B. Influenza yang terutama menginfeksi itu ada H1N1 dan H3N2,” kata Dicky kepada Health Liputan6.com melalui pesan suara, Selasa (30/12/2025).

Dia menambahkan, H3N2 ini cenderung lebih parah ketimbang H1N1. Turunan ke sekian dari H3N2 ini adalah subclade K dan yang kini dikenal sebagai super flu.

“Super flu pertama ditemukan Juni 2025 di Eropa termasuk di Jepang. Dia ini kenapa disebut super flu? Pertama lebih cepat menyebabkan wabah, jadi mungkin bisa satu bulan lebih cepat dari siklus rutin.”

Artinya, super flu kerap memicu kenaikan kasus satu bulan sebelum musim dingin tiba. Padahal, biasanya flu lain terjadi di saat musim dingin.

“Selain lebih cepat menyebabkan wabah, gejalanya juga lebih kentara dan sedikit lebih parah terutama pada kelompok lanjut usia (lansia) dan anak di bawah lima tahun (balita),” ujarnya.

 

Gejala Akibat Super Flu Lebih Parah

Dicky mengatakan, gejala akibat super flu memang lebih parah dari flu musiman lainnya. Ini juga menjadi alasan mengapa influenza subclade K dijuluki super flu.

“Flu lebih berat, batuk lebih lama, banyak dahak, nyeri menelan yang lebih nyeri lebih pedas,” jelas Dicky.

Sementara, angka kematian akibat super flu tidak berubah signifikan. Namun, secara global sudah sekitar 3 juta orang yang terinfeksi dengan ratusan ribu pasien mengalami gejala parah.

“Angka kematiannya jauh lah di bawah COVID-19 di saat awal-awal pandemi. Namun, pada kelompok risiko tinggi seperti lansia di atas 65 apalagi sudah di atas 80 tahun, orang dengan komorbid, orang dengan gangguan imunitas, dan anak itu bisa parah. Angka kematiannya bisa lebih tinggi dibanding kelompok lain.”

 

Super Flu di Inggris

Sebelumnya, National Health Service (NHS) atau Layanan Kesehatan Nasional Inggris melaporkan lonjakan rawat inap akibat super flu.

Kasus melonjak lebih dari setengahnya hanya dalam kurun waktu satu minggu. Membuat NHS berada dalam situasi "skenario terburuk" di bulan Desember.

Super flu adalah bagian dari influenza A H3N2, tepatnya subclade K, yang kini menjadi strain dominan di beberapa negara.

Per 11 Desember 2025, rata-rata 2.660 pasien per hari dirawat di rumah sakit karena flu. Ini adalah angka tertinggi selama tahun ini dan angkanya naik 55 persen dibandingkan seminggu sebelumnya. Ini berarti ada cukup pasien flu setiap hari untuk mengisi penuh lebih dari tiga rumah sakit, seperti mengutip laman resmi NHS England.

 

Dorong Vaksinasi Flu

Para petinggi NHS telah memperingatkan bahwa totalnya telah meningkat tajam tanpa puncak yang terlihat.

Di waktu bersamaan, jumlah pasien norovirus (virus yang ganggu saluran cerna) di rumah sakit juga meningkat sebesar 35 persen – menjadi rata-rata 354 setiap hari di pekan awal Desember– karena virus musim dingin mulai melanda rumah sakit.

Hal ini terjadi ketika permintaan untuk UGD dan layanan ambulans sudah melonjak. Angka bulanan terbaru menunjukkan kunjungan ke UGD mencapai rekor tertinggi untuk bulan November dengan 2,35 juta pasien, dan lebih dari 30.000 lebih tinggi dibandingkan November 2024.

NHS mendesak siapa pun yang memenuhi syarat untuk segera mendapatkan vaksinasi flu guna membantu mencegah sakit parah. Hingga 11 Desember sudah lebih dari 17,4 juta orang telah divaksinasi sejauh tahun ini – lebih dari 170.000 lebih banyak daripada waktu yang sama tahun lalu.