Cara Unik Mahasiswa Kedokteran UNESA Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja agar Tak Terjebak Mitos Menyesatkan

Mahasiswa Kedokteran UNESA edukasi remaja soal kesehatan reproduksi agar tak terjebak mitos menyesatkan.

Diterbitkan 06 November 2025, 17:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Masih banyak remaja yang salah paham soal kesehatan reproduksi. Mulai dari mitos tentang pubertas, hingga anggapan keliru soal perubahan tubuh yang membuat sebagian dari mereka bingung atau bahkan takut. Kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi yang ilmiah dan mudah dipahami sejak usia sekolah. 

Menjawab tantangan itu, Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surabaya (FK UNESA) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk 'Memutus Rantai Mitos, Menyambung Literasi: Pendekatan Holistik Ilmiah dan Interaktif untuk Kesehatan Reproduksi Remaja'

Kegiatan berlangsung di SMP Labschool Unesa 3 pada Kamis, 30 Oktober 2025, dengan melibatkan mahasiswa kedokteran semester 1 sebagai edukator muda. Kegiatan ini dipimpin dosen FK UNESA sekaligus pengampu praktikum Tumbuh Kembang,  Dini Aulia Cahya, S.Si., M.Biomed. 

Dalam kegiatan yang dikemas secara interaktif ini, para siswa diajak berdiskusi santai tentang berbagai mitos dan fakta seputar pubertas serta kesehatan reproduksi. Mahasiswa kedokteran berperan sebagai fasilitator dengan pendekatan sebaya agar suasana lebih nyaman. 

"Hasilnya, para siswa lebih terbuka dan berani bertanya tentang hal-hal yang selama ini dianggap tabu," ujar Dini.

 

Skrining dan Konseling Kesehatan Reproduksi

Dia, menjelaskan, PKM ini tidak hanya bertujuan memberi penyuluhan, tetapi juga melatih mahasiswa agar mampu berkomunikasi empatik dan berbasis bukti di tengah masyarakat. 

“Kami ingin mahasiswa belajar menjadi komunikator kesehatan yang empatik dan berbasis bukti, sementara siswa memperoleh pemahaman yang benar tentang tubuh mereka. Dengan cara ini, pendidikan tinggi dan masyarakat bisa saling belajar,” ujar Dini Aulia Cahya. 

Selain sesi edukasi, kegiatan juga mencakup skrining dan konseling kesehatan reproduksi. Dekan FK UNESA, Dr. dr. Endang Sri Wahjuni, M.Kes, yang memberikan dukungan dan pembinaan langsung di lapangan, mengatakan, edukasi reproduksi yang ilmiah sejak usia remaja adalah kunci mencegah kesalahpahaman dan risiko perilaku berisiko. 

"Remaja perlu mendapat informasi yang benar agar tidak terjebak dalam mitos dan kesalahpahaman. Di sinilah peran perguruan tinggi hadir untuk menjembatani ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat," katanya.

Guru BK SMP Labschool Unesa 3, Endah Rachma, S.Pd, turut mengapresiasi kegiatan ini. "Kegiatan ini tidak hanya memberi edukasi, tetapi juga membantu mendeteksi dini masalah kesehatan yang mungkin dialami siswa. Kami berharap FK UNESA dapat terus mengadakan kegiatan seperti ini," katanya.

Remaja Jadi Tahu soal Pubertas 

Salah satu peserta, Arzaqi Naiwa Nagaragil, juga mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. "Saya jadi tahu banyak hal baru tentang pubertas yang sebelumnya belum pernah dijelaskan dengan cara seperti ini," katanya.

Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan kedokteran bisa berperan langsung dalam peningkatan literasi kesehatan remaja. Selain memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 5 (Kesetaraan Gender).