Dekan FKUI: Keracunan Makanan Berulang Bisa Picu Penyakit Radang Usus Kronis

Keracunan makanan berulang bukan sekadar masalah sementara. Jika tidak dicegah, kondisi ini dapat menimbulkan peradangan kronis pada usus yang berisiko mengganggu organ lain.

Diterbitkan 01 Oktober 2025, 14:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keracunan makanan kerap dianggap masalah sepele yang bisa hilang dalam hitungan hari. Padahal, jika terjadi berulang, kondisi ini dapat berujung pada masalah serius di saluran cerna. 

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH mengingatkan bahwa keracunan makanan berulang bisa menjadi pemicu peradangan kronis pada usus atau inflammatory bowel disease (IBD). 

"Ketika orang yang sering bolak-balik terinfeksi itu harus hati-hati, karena dia suatu waktu nanti bisa mengalami perubahan struktur dari dinding ususnya. Itu termasuk juga inflammatory bowel disease (penyakit inflamasi usus). Penyakit radang kronis non-infeksi itu juga dari situ pencetusnya," kata Prof. Ari seperti dikutip dari ANTARA pada Kamis, 1 Oktober 2025.

Infeksi yang berulang akibat makanan terkontaminasi bakteri atau kuman akan membuat struktur dinding usus berubah. Keparahan kondisi ini, menurut Prof. Ari, sangat bergantung pada jenis kuman yang masuk ke dalam tubuh. 

Pencegahan Keracunan Makanan

Jika infeksi terus berulang, risiko peradangan kronis hingga gangguan organ lain pun meningkat. "Adanya inflamasi pada usus itu nantinya juga berisiko menyebabkan gangguan di beberapa organ tubuh tertentu. Kondisi kesehatan seseorang jauh makin serius jika membutuhkan antibiotik," ujarnya.

Untuk mencegah keracunan makanan dan dampak jangka panjangnya, Prof. Ari menekankan pentingnya kebersihan dan pengolahan makanan yang benar. Makanan harus dimasak dengan suhu cukup tinggi agar bakteri mati sempurna. 

Dia, menambahkan, makanan tidak boleh terlalu lama dibiarkan pada suhu kamar karena bakteri dapat berkembang biak dengan cepat.

"Bahan-bahan makanan sebaiknya disimpan dalam kulkas dengan pengaturan suhu yang tepat. Kalau makanan terlalu lama berada di suhu kamar, kemungkinan besar sudah tidak aman dikonsumsi," tambahnya.

Prof. Ari juga menekankan pentingnya mencegah kontaminasi silang di dapur. Misalnya, pisau yang digunakan untuk memotong daging mentah atau seafood tidak boleh dipakai untuk memotong makanan matang. Begitu pula dengan talenan dan peralatan dapur lain yang harus dibedakan penggunaannya. 

Selain itu, menjaga kebersihan tempat memasak menjadi faktor penting. "Cegah makanan yang sudah masak tercemar oleh daging dan seafood mentah. Pertahankan makanan hangat agar tetap hangat, dan makanan dingin agar tetap dingin," ujar Prof. Ari.

Dia, menjelaskan, makanan hangat sebaiknya dijaga pada suhu di atas 65 derajat Celcius, sementara makanan yang dipanaskan untuk disajikan harus mencapai suhu minimal 85 derajat Celcius.

Penyimpanan Makanan yang Aman

Selain pengolahan, cara menyimpan makanan juga tidak kalah penting. Prof. Ari menyarankan agar masyarakat tidak melakukan defrost makanan di suhu ruang. "Lakukan defrost di kulkas, dengan air keran yang mengalir, atau menggunakan microwave. Jangan dibiarkan mencair di meja dapur karena itu berisiko membuat bakteri berkembang," katanya.

Sementara untuk makanan dan minuman kemasan, penyimpanan harus mengikuti petunjuk pada label. Ada yang harus disimpan di suhu 2-8 derajat Celcius, ada pula yang harus ditempatkan di freezer, atau cukup di suhu ruang selama tidak terkena paparan sinar matahari langsung.

Pentingnya Edukasi Masyarakat

Kasus keracunan makanan di Indonesia kerap terjadi, baik akibat makanan yang tidak higienis, cara penyimpanan yang salah, maupun makanan kemasan yang tidak sesuai standar. Menurut Prof. Ari, edukasi kepada masyarakat sangat penting agar risiko ini bisa ditekan.

"Kita harus lebih disiplin dalam mengolah dan menyimpan makanan. Keracunan makanan mungkin terlihat ringan, tapi kalau berulang-ulang dampaknya bisa serius, bahkan kronis," pungkasnya.