Liputan6.com, Jakarta Makanan ultra-proses atau ultra-processed foods dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan, seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Thorax, penelitian ini dilakukan pada 102.000 orang yang terdaftar dalam uji skrining kanker prostat, paru-paru, kolorektal, dan ovarium.
Partisipan penelitian tersebut dibagi dalam 4 tim sesuai dengan porsi konsumsi makanan ultra-proses harian. Setelah waktu pengamatan selama 12,2 tahun, sebanyak 1.706 peserta terdiagnosis kanker paru-paru.
Advertisement
Meskipun risiko keseluruhan cenderung rendah, kurang dari 2 persen, tetapi para ahli menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah besar memiliki risiko terkena kanker paru-paru 41 persen lebih tinggi.
“Meskipun penelitian lebih lanjut pada populasi dan tempat lain diperlukan, temuan ini menunjukkan manfaat sehat dari membatasi makanan ultra-proses,” tulis para peneliti mengutip Prevention, Senin, 11 Agustus 2025.
Apa itu Makanan Ultra-Proses?
Kategori makanan diklasifikasikan dalam sebuah skala yang disebut dengan skala NOVA. Jenis makanan dibagi menjadi empat kategori, berdasarkan bagaimana makanan tersebut disajikan.
1. Makanan tanpa diolah dan diolah secara minimal
Kategori ini adalah jenis makanan yang penyajiannya tanpa melalui proses olahan terlebih dahulu, atau diolah tapi seminimal mungkin. Contoh dari makanan ini adalah wortel, susu, dan stroberi.
2. Bahan kuliner olahan
Makanan di kategori ini adalah makanan yang diproses secara minimal dengan beberapa cara seperti menekan atau menggiling. Contohnya adalah minyak zaitun dan tepung.
3. Makanan olahan
Kategori ini adalah makanan yang telah diubah dari bentuk aslinya, biasanya mengandung bahan lain seperti garam, minyak, dan gula. Contohnya adalah keju dan ikan kaleng.
4. Makanan ultra-olahan
Makanan olahan adalah makanan yang penyajiannya di proses serta mengandung bahan-bahan bantuan lainnya, seperti pewarna dan perasa buatan.
Makanan jenis ini juga biasanya mengandung pengawet untuk menjaga kestabilan dan tekstur makanan, dan biasanya dikemas. Contohnya adalah makanan instan kemasan.
Advertisement
Mengapa Dikaitkan dengan Kanker Paru
Penelitian ini tidak menyebut adanya bukti bahwa memakan makanan ultra-proses dapat menyebabkan penyakit kanker, tetapi ditemukan hubungan antara makanan ultra-olahan dengan diagnosis kanker paru-paru.
Meskipun begitu, para ahli tetap mengatakan adanya kemungkinan bahwa makanan ultra-proses ini dapat meningkatkan risiko perkembangan kanker paru-paru dalam tubuh,
“Meksipun makanan ultra-proses belum diklasifikasikan sebagai karsinogen (zat pemicu sel kanker), data epidemiologis dan laboratorium menunjukkan bahwa makanan tersebut mungkin merupakan faktor risiko kanker yang potensial,” kata Matthew Schabath, Ph.D, seorang ahli epidemiologi di Moffitt Cancer Center.
“Studi laboratorium telah menunjukkan bahwa komponen makanan ultra-olahan dapat mengubah mikrobiota usus, meningkatkan peradangan, merusak DNA, dan memodifikasi ekspresi gen, di antara efek lainnya. Pola makan tinggi makanan ultra-proses juga meningkatkan peradangan sistemik dan stres oksidatif–keduanya berkontribusi pada perkembangan kanker,” lanjutnya.
Ahli onkologi dan direktur medis MemorialCare Todd Cancer Institute di Long Beach Medical Center, Long Beach, California, Nilesh Vora, MD mengatakan, zat aditif yang sering digunakan dalam makanan ultra-proses seperti glutamat yang dan karagenan yang tidak diatur dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru.
Cara Mengurangi Konsumsi Makanan Ultra-proses
Meskipun hubungan antara makanan ulta-proses dan kanker paru-paru masih terus diteliti, tetapi semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa yang terbaik adalah membatasi seberapa banyak makanan ultra-proses yang dimakan.
Scott Keatley, RDm pemilik Keatley Medical Nutrition Therapy mengatakan, untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, sebaiknya berfokus mengonsumsi makanan yang lebih padat nutrisi.
“Makanan ultra-proses menjadi masalah ketika menggantikan serat, protein, dan mikronutrien yang dibutuhkan tubuh untuk mengatur peradangan dan memperbaiki sel,” kata Keatley.
“Ini bukan tentang menghindari kepraktisan, melainkan tentang memberi ruang bagi makanan yang lebih bermanfaat bagi Anda,” lanjutnya.
Keri Gans, R.D.N., penulis The Small Change Diet mengatakan, untuk memulai mengurangi makanan ultra-proses adalah membuat makanan dengan bahan-bahan seperti sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan protein rendah lemak.
“Ketika hal-hal tersebut menjadi pusat perhatian, secara alami akan ada lebih sedikit ruang untuk pilihan makanan ultra-proses,” ujarnya.
Gans menyarankan untuk mengisi dapur dengan makanan siap saji yang tidak diproses secara berlebiihan, seperti tomat kalengan, kacang-kacangan, oat, sayuran beku, dan beras merah.
“Bahan-bahan pokok ini memudahkan Anda menyiapkan makanan cepat saji dan seimbang,” kata Gans.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3882770/original/ACg8ocLbv7jla1PF_pi9eZ1BFXtQePWMmKXxkFDYi_MhcbTaTwECPA%3Ds200.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4826214/original/012813300_1715172131-sausages-grill-pan-wooden-table.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8583299/original/047451600_1782545178-AP26178061252747.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8384804/original/025311600_1782263854-kroasia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8581680/original/086573300_1782542126-AP26178050808259.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513111/original/058658300_1782436597-063_2283345627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8574835/original/057277000_1782531340-AP26177858339524.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5536006/original/086441000_1774220619-kanker_paru.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3629518/original/030680300_1636605394-MV5BMWYyY2VmNjktM2JlOS00OWExLWFiNzQtYjZiZDQyYjU0MjI1XkEyXkFqcGdeQXVyMjI1OTQ2MjU_._V1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5533642/original/073453000_1773752388-ClipDown.com_652758325_18591832546049266_2798123858733125513_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5514927/original/017366200_1772121996-WhatsApp_Image_2026-02-26_at_20.18.42.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5514898/original/015286900_1772117631-WhatsApp_Image_2026-02-26_at_20.14.06.jpeg)