Dinda Hauw: Jadi Ibu Itu Belajar Seumur Hidup, Doa Ibu Pasti Didengar Allah

Dinda Hauw curhat soal tantangan jadi ibu bekerja, rasa gagal, dan perjuangannya hadir untuk anak. Ia percaya, menjadi ibu adalah proses belajar seumur hidup.

Diperbarui 21 Juli 2025, 12:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aktris Dinda Hauw blak-blakan soal perjuangannya menjalani peran sebagai ibu sekaligus wanita karier. Dia mengaku tak mudah menjalani keduanya secara bersamaan.

Tak jarang, dia harus tersenyum di depan kamera meski baru saja menenangkan anak-anak yang menangis.  "Menjadi ibu yang bekerja itu tidak semudah itu," kata Dinda Hauw. 

Saat syuting, dia dituntut untuk tetap tampil ceria, padahal dalam hati masih ada lelah yang belum selesai. Kondisi ini kerap memunculkan dilema antara pekerjaan dan keluarga. 

Dinda menegaskan bahwa saat bersama anak-anak, dirinya berusaha hadir sepenuhnya sebagai seorang ibu.

Namun, ketika kembali bekerja, dia harus menguatkan niat bahwa apa yang dia lakukan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab. 

"Aku harus profesional, tetap akting, tetap tersenyum di depan kamera, dan melakukan semuanya," ujarnya. 

Curhatan jujur ini disampaikan Dinda dalam acara BeeMom Squad Affiliate Gathering 2025: Rumah Berdaya bagi Para Ibu Indonesia.

Di hadapan para ibu, Dinda membagikan kisah nyata yang penuh emosi, mulai dari tantangan menjadi ibu pekerja, tekanan batin, hingga pelajaran hidup dari kedua anaknya. 

Ingin Jadi Ibu Terbaik Versinya

Dinda menyadari bahwa dia tidak bisa menjadi ibu yang sempurna, tapi dia berkomitmen untuk menjadi ibu terbaik versinya.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah sikap anak perempuannya yang sedang berada di fase manja. 

"Aku pengin jadi ibu versi terbaikku, walaupun kadang rasanya seperti ‘Astagfirullahaladzim, sabar, sabar'," kata Dinda sambil tertawa kecil. 

Bahkan, untuk hal sederhana seperti mengambil mainan, anaknya tetap ingin dibantu oleh sang bunda.

"Padahal aku bilang, ‘Bunda lagi kerja sebentar ya,’ tapi mereka tetap bilang, ‘Pokoknya Bunda'," tambahnya.

Meski terlihat tangguh, Dinda mengakui pernah merasa gagal dalam perannya sebagai ibu. Salah satu momen yang paling menyakitkan adalah ketika pengasuh lebih tahu kebiasaan anaknya dibanding dirinya sendiri. 

"Itu tuh nyesek banget, karena aku ngerasa gagal jadi ibu," katanya. Meski begitu, dia tetap bersyukur karena memiliki suami yang pengertian dan selalu mendukung. 

"Alhamdulillah suamiku super baik. Dia selalu bilang, ‘Nggak apa-apa, itu anak masih kecil. Kalau udah besar, mereka bakal tahu siapa ibunya," tambahnya.

Komunikasi dan Doa Adalah Kunci

Dalam menjalani peran sebagai istri dan ibu, Dinda menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dalam keluarga.

Ketika merasa lelah, dia tidak ragu untuk meminta maaf pada anak dan menunjukkan kasih sayang secara langsung.

"Kalau aku salah, aku minta maaf. Aku bilang, ‘Abang, Bunda sayang Abang.’ Dan dia jawab, ‘Aku juga sayang Bunda.’ Itu bikin aku merasa dikuatkan," ujarnya. 

Dinda juga memiliki kebiasaan membisikkan afirmasi positif saat anak-anaknya tertidur. "Aku yakin mereka tetap mendengarnya, meskipun tidur."

Proses Belajar Seumur Hidup

Menurut Dinda, menjadi ibu adalah proses belajar seumur hidup. Ia menggambarkan dirinya sebagai "gelas" yang harus dikosongkan agar bisa diisi dengan ilmu dan pengalaman baru.

"Kalau gelasnya udah penuh, nggak bisa masuk ilmu baru. Harus dikosongin dulu," katanya. 

Dia juga menekankan bahwa penting bagi ibu untuk berbagi cerita dengan sesama agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi tantangan.

Dinda pun memberikan pesan penuh semangat bagi para ibu di Indonesia yang tengah berjuang menjalani peran ganda.

"Untuk para ibu di luar sana yang lagi capek, kalian luar biasa. Kalian mungkin lelah, tapi kalian bisa melewati semuanya. Jangan pernah merasa sendiri. Semangat terus. Doa yang kalian panjatkan pasti akan didengar oleh Allah," pungkasnya.