1,3 Miliar Ton Makanan Terbuang Setiap Tahun, Sementara 735 Juta Orang Alami Kelaparan Kronis

Ironis, sampah makanan dunia capai miliaran ton per tahun sementara ratusan juta orang masih alami kelaparan kronis dan angka stunting masih tinggi.

Diterbitkan 19 Juni 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia adalah penyumbang sampah makanan terbesar kedua di Asia. Hal ini disampaikan Direktur Kewaspadaan Pangan dari Badan Pangan Nasional, Nita Yulianis.

“Menurut laporan FAO (Food and Agriculture Organization) pada 2023, lebih dari 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun secara global, setara dengan sepertiga produksi pangan dunia. Sehingga penting bagi pemerintah dan komunitas melakukan langkah konkret mengurangi sampah makanan,” kata Nita dalam peringatan Hari Gastronomi Berkelanjutan di Jakarta, Rabu (18/6/2025).

Dalam kesempatan yang sama, Sekjen Indonesian Gastronomy Community (IGC), dr. Ray Wagiu Basrowi, banyaknya sampah makanan menjadi sebuah ironi. Pasalnya, saat ini lebih dari 735 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan kronis

“Bahkan di Indonesia, kelaparan dan angka kurang gizi masih sangat tinggi. Ini ironis dengan banyaknya sampah makanan yang terbuang,” ucap pakar kedokteran komunitas itu. 

Di sisi lain, limbah makanan menyumbang 8 hingga 10 persen emisi gas rumah kaca global. Itu sebabnya IGC sebagai komunitas memulai suatu gerakan agar mengedukasi dan mengontrol pengurangan sisa makanan sejak di tingkat rumah tangga. 

United Nations Environment Programme (UNEP) Food Waste Index 2024 menunjukkan, 61 persen dari 931 juta ton makanan yang terbuang secara global pada tahun 2019 berasal dari rumah tangga.

Bila dilakukan intervensi di rumah tangga dengan mengurangi 50 gram limbah makanan per hari, maka dampaknya akan besar. Yakni, sekitar 470 ribu ton makanan terselamatkan, setara dengan pangan untuk 2 juta orang miskin per tahun. Angka ini tentu akan lebih besar jika pengurangannya lebih dari 50 gram per hari.

 

Sumbang Sampah Makanan Rumah Tangga Setinggi Monas

Indonesia sendiri menjadi "juara" dua di Asia dengan sumbangan limbah makanan tertinggi.

"Dalam setahun, sisa makanan rumah tangga itu bisa hampir setengah tinggi Monas. Maka dalam dua tahun, kita membangun satu tugu Monas, tapi dalam bentuk sampah makanan," jelas Ray.

Di Indonesia, 23–48 juta ton makanan berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahun (Bappenas, 2021). Ironisnya, ini terjadi saat negara ini masih menghadapi angka stunting yang tinggi dan ketahanan pangan yang rapuh.

“Makanan bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga dihargai. Kontrol limbah makanan bukan soal mengurangi rasa, tapi menambah makna,” ujar Ray. 

 

Serukan 3 Aksi Konkret

Melihat situasi ini, Ketua Umum ICG, Ria Musiawan, menyerukan tiga aksi konkret kepada masyarakat dan pelaku industri, yakni:

  1. Mulai dari piring sendiri – ambil secukupnya, habiskan sepenuhnya.
  2. Dukung restoran dan pelaku gastronomi yang menerapkan prinsip zero food waste.
  3. Edukasi dan ubah pola makan menuju makan yang sehat dan berkelanjutan.

Sementara itu, Pembina IGC dan pemerhati kemasyarakatan Ninuk Pambudy menegaskan, gerakan ini memperkuat komitmen pemerintah dalam Asta Cita. Khususnya dalam upaya ketahanan pangan, pengurangan food loss and waste, dan promosi gastronomi berkelanjutan sebagai bagian dari pembangunan peradaban Indonesia modern. 

 

Ajak Industri Kuliner hingga Food Blogger Lakukan 3 Hal Ini

Kampanye ini juga mengajak pelaku industri kuliner termasuk restoran, chef, hotel, UMKM, hingga food blogger untuk:

  1. Mengedepankan pangan lokal. 
  2. Menyusun menu berbasis pemanfaatan utuh bahan makanan (root-to-stem, nose-to-tail). 
  3. Mengedukasi konsumen lewat konten dan praktik nyata.

Komitmen bersama ini turut ditandatangani oleh Ketua Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, Ketua IGC Ria Musiawan, serta didukung para tokoh seperti Prof. Nila F Moeloek, Ninuk Pambudy, dan Chef William Wongso.

“IGC mengajak masyarakat untuk terlibat aktif, mendukung pelaku usaha yang peduli lingkungan, dan menjadikan gaya hidup anti-food waste sebagai identitas gastronomi Indonesia ke depan,” pungkas Ria.