Menunda Penjepitan Tali Pusat Turunkan Risiko Anemia Defisiensi Besi pada Anak

Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia akibat tubuh kekurangan zat besi, tunda penjepitan tali pusat jadi salah satu cara mencegahnya.

Diterbitkan 17 Juni 2025, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menunda penjepitan tali pusat sekitar satu hingga tiga menit dapat menurunkan risiko anemia defisiensi besi (ADB) pada anak.

Anemia defisiensi besi adalah jenis anemia akibat tubuh kekurangan zat besi. Menurut dokter spesialis anak subspesialis hematologi onkologi, Profesor Harapan Parlindungan Ringoringo, 50 persen penyebab anemia adalah anemia defisiensi besi.

Dia pun menjelaskan kaitan antara penundaan penjepitan tali pusat dengan penurunan risiko anemia defisiensi besi.

“Biasanya kalau bayi lahir suka langsung dijepit tali pusatnya, langsung dipotong. Ada penelitian, tunggulah satu sampai tiga menit supaya aliran darah dari ibu melalui plasenta ke dalam tali pusat bayi lebih lama. Sehingga, lebih banyak darah yang masuk ke tubuh bayi,” kata dokter yang akrab disapa Parlin kepada Health Liputan6.com dalam webinar bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (17/6/2025).

Lebih banyak darah yang masuk ke tubuh bayi melalui tali pusat dapat menekan risiko status besi yang rendah.

Lantas, apakah memang harus satu sampai tiga menit?

“Alangkah baiknya satu sampai tiga menit, tergantung situasi dokter menghadapi kelahiran bayi. Kalau pada waktu dia lahir ada suatu masalah, mungkin tidak terlalu terpikirkan ya. Tapi kalau itu elektif proses kelahirannya, akan sangat mudah dilakukan,” paparnya.

“Intinya supaya darah lebih banyak masuk ke tubuh bayi,” imbuhnya.

 

Apa Penyebab Anemia Defisiensi Besi?

Parlin memaparkan, ada beberapa penyebab anemia defisiensi besi baik pada anak maupun pada orang dewasa, yakni:

  • Persediaan besi yang kurang akibat berat badan lahir rendah (BBLR).
  • Bayi lahir kembar.
  • Ibu alami anemia saat hamil.
  • Masukan besi yang kurang dari makanan tambahan.
  • Jenis makanan kurang mengandung zat besi (Fe-Heme).
  • Adanya kebutuhan besi yang meningkat akibat pertumbuhan yang cepat.
  • Infeksi akut berulang atau infeksi kronik.
  • Sindrom malabsorbsi atau kelainan dalam penyerapan zat besi.
  • Malnutrisi.
  • Kehilangan zat besi berlebih misalnya karena perdarahan gastrointestinal kronis.
  • Menstruasi berlebihan.
  • Kombinasi dari penyebab-penyebab di atas.

Apa Saja Gejala Anemia Defisiensi Besi?

Beberapa gejala anemia defisiensi besi adalah:

  • Iritabel atau rewel tanpa sebab.
  • Lesu, lemas, cepat lelah.
  • Berdebar-debar.
  • Sakit kepala.
  • Tidak lincah bermain.
  • Pucat.
  • Glossitis atau peradangan lidah.
  • Spoon nail atau kuku jadi lentik.
  • Organomegali atau pembesaran organ.
  • Bising sistolik (suara jantung tak normal).

 

Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

Pengcehajan anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti suplementasi zat besi berupa besi elemental dengan dosis 1 mg per kilogram berat badan (kgbb) per hari. Diberikan kepada semua bayi yang lahir normal (aterm) sejak lahir.

“Suplementasi besi diberikan kepada semua anak, dengan prioritas usia balita (0-5 tahun), terutama usia 0-2 tahun,” papar Parlin.

Langkah lain yang dapat diikuti adalah:

  • Bayi sejak lahir diberikan air susu ibu (ASI) selama mungkin.
  • Berikan pendamping ASI yang telah diperkaya dengan Fe (zat besi).
  • Fortifikasi Fe dalam makanan padat.
  • Hindari peningkatan berat badan berlebihan.
  • Berikan makanan yang meningkatkan absorpsi (penyerapan) Fe seperti buah-buahan, ikan, dan hati.
  • Gencarkan penyuluhan soal makanan yang banyak kandungan Fe.
  • Tunda penjepitan tali pusat 1-3 menit.
  • Peningkatan layanan antenatal.
  • Suplementasi Fe 60 mg Fe elemental /minggu hingga 16 minggu, trimester ke-3.
  • Pengentasan kemiskinan.
  • Suplementasi besi 1 mg/kgbb/hari 0 – 24 bulan.
  • Pencegahan sekunder melibatkan skrining, diagnosis, dan
  • pengobatan ADB.
  • Skrining laboratorium universal untuk ADB pada usia sekitar 1 tahun untuk anak yang sehat.