Kanker Paru-Paru di Indonesia Banyak Terjadi pada Usia Muda, Ini Pentingnya Skrining!

Kanker paru-paru kini tak pandang usia atau jenis kelamin. Makin banyak kasus ditemukan pada usia muda, bahkan tanpa riwayat merokok.

Diperbarui 20 Mei 2025, 13:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kanker paru-paru tak lagi hanya menyerang perokok berat usia lanjut. Di Indonesia, penyakit mematikan ini justru semakin banyak ditemukan pada usia yang lebih muda, termasuk perempuan yang tidak merokok. 

Menurut Dokter Spesialis Paru Subspesialis Onkologi Toraks dari MRCCC Siloam Hospitals,  dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, SpP(K), rata-rata usia penderita kanker paru di Indonesia 10 tahun lebih muda dibandingkan data global. 

"Rata-rata usia pasien kanker paru di Indonesia lebih muda 10 tahun dari data internasional. Bahkan, jumlah kasus pada perempuan yang tidak merokok juga makin meningkat," ujar dr. Sita kepada Health Liputan6.com belum lama ini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap kanker paru, termasuk kelompok yang selama ini dianggap memiliki risiko rendah.

Kapan Harus Skrining Kanker Paru-Paru?

Skrining kanker paru adalah proses pemeriksaan untuk menemukan kanker sebelum muncul gejala.

Menurut dr. Sita, skrining sebaiknya dilakukan pada kelompok berisiko tinggi agar penyakit bisa dideteksi sejak dini. Kelompok berisiko tinggi meliputi:

  • Usia di atas 40 tahun dengan riwayat keluarga mengidap kanker.
  • Usia di atas 45 tahun dengan kebiasaan merokok, termasuk penggunaan rokok elektrik (vape).

Banyak masyarakat masih keliru menganggap bahwa vape lebih aman dari rokok. Padahal menurut dr. Sita, vape tetap termasuk dalam kategori produk tembakau berisiko tinggi.

"Vaping itu rokok. Isinya nikotin dan bahan kimia. Efek jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui karena ini teknologi baru. PDPI juga sudah menyatakan bahwa vape bukan alat berhenti merokok," ujarnya.

Selain rokok dan vape, polusi udara serta paparan zat karsinogen lainnya juga turut meningkatkan risiko kanker paru, khususnya pada perempuan yang tidak memiliki riwayat merokok.

Kanker Paru di Indonesia Mayoritas Ditemukan Saat Sudah Stadium 4

Salah satu tantangan besar dalam pengendalian kanker paru di Indonesia adalah terlambatnya diagnosis. Menurut dr. Sita, lebih dari 95 persen pasien kanker paru di Indonesia baru terdeteksi saat sudah masuk stadium 4.

"Karena tidak ada screening, pasien merasa tidak bergejala. Tahu-tahu sudah stadium lanjut. Padahal kalau ditemukan lebih dini, kanker paru bisa disembuhkan," katanya.

Pada stadium awal, kanker paru masih bisa diatasi dengan operasi. Peluang kesembuhan pun tinggi, bahkan angka harapan hidup lima tahun bisa sangat baik. 

Namun, jika sudah stadium lanjut, pengobatan menjadi lebih kompleks dan peluang sembuh menurun.

Metode Pengobatan Apa yang Umumnya Digunakan untuk Kanker Paru? 

Kabar baiknya, pengobatan kanker paru-paru kini tersedia luas di Indonesia. Termasuk operasi, kemoterapi, terapi target seperti EGFR TKI dan ALK inhibitor, hingga imunoterapi.

"Kalau ada mutasi genetik tertentu, pasien bisa mendapat terapi target dalam bentuk tablet, tanpa harus langsung kemoterapi," ujar dr. Sita.

Sebagian besar pengobatan kanker paru bahkan sudah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, termasuk kemoterapi dan terapi target. Namun, imunoterapi belum sepenuhnya tercakup dalam program jaminan tersebut.

Untuk proses diagnosis seperti CT scan, bronkoskopi, hingga biopsi, pasien bisa mendapatkan layanan tersebut melalui BPJS dengan rujukan dari faskes tingkat pertama.

Ketakutan menjadi salah satu alasan utama masyarakat enggan melakukan screening kanker paru-paru. 

Mulai dari takut hasil diagnosis, hingga kekhawatiran soal biaya pengobatan. Padahal, deteksi dini justru bisa menyelamatkan nyawa.

"Jangan takut untuk periksa. Makin cepat diketahui, makin besar kemungkinan untuk hidup lebih lama," pungkas dr. Sita.

Â