Sukses

1 Orang Suspek Cacar Monyet di Jawa Tengah, Kemenkes: Bukan Kelompok Gay

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan RI membenarkan ada satu suspek cacar monyet atau monkeypox di Jawa Tengah.

"Benar tapi masih suspek," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI Maxi Rein Rondonuwu lewat pesan singkat ke Health-Liputan6.com, pada Rabu (3/8/2022).

Maxi menerangkan bahwa pasien tersebut masuk dalam dalam kategori suspek cacar monyet karena memperlihatkan gejala mirip penyakit itu.

"Kami sudah meminta konfirmasi, memang gejalanya mirip monkeypox dan didiagnosa suspek monkeypox," kata Maxi.

Maxi mengatakan juga bahwa pasien suspek cacar monyet tersebut bukan termasuk dalam kelompok gay. "Tidak (bukan kelompok gay)."

Seperti diketahui data dunia menunjukkan bahwa kasus cacar monyet yang saat ini lebih banyak terjadi di kelompok gay dan biseksual.

Sebuah studi yang dipublikasi dalam The New England Journal of Medicine menemukan bahwa cacar monyet (monkeypox) 98 persen terjadi pada gay dan pria biseksual. Studi yang dipublikasikan pada Kamis, 21 Juli 2022 tersebut melibatkan 528 partisipan pada tanggal 27 April s.d 27 Juni 2022 di 16 negara.

Maxi juga menyebut bahwa pasien tersebut merupakan orang dalam negeri yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. 

 

2 dari 4 halaman

Pengambilan Sampel untuk Pemeriksaan Laboratorium

Usai mendapatkan kabar suspek pasien cacar monyet, Maxi sudah meminta jajarannya untuk melakukan pengambilan sampel. Lalu, segera mengirimkan sampel tersebut ke laboratorium untuk dicek kepastian apakah terinfeksi cacar monyet atau bukan.

"Kami sudah minta segera ambil sampel dan dikirim ke laboratorium BKPK Kemenkes," kata Maxi.

Bila melihat definisi kasus menurut WHO, seseorang baru dikatakan terkonfirmasi cacar monyet bila sudah keluar hasil laboratorium positif.

Sementara, seseorang masih dikatakan suspek cacar monyet dengan kondisi berikut:

A. Orang tersebut dengan ruam akut, penyebab tidak umum, dan

B Memenuhi satu atau lebih gejala sebagai berikut:

- sakit kepala

- demam lebih dari 38,5 derajat Celsius

- limfadenopati

- myalgia

- sakit punggung

- kelemahan tubuh

- gejala ruam yang tidak menampakkan penyakit kulit lain.

3 dari 4 halaman

Kondisi Pasien Suspek Cacar Monyet Membaik

Kadinkes Jateng Yunita Dyah Suminar mengatakan kondisi pasien suspek cacar monyet itu semakin membaik. Pasien tersebut masih berada di ruang isolasi dan mendapatkan pemantauan dari tim medis di sana.

"Masih observasi, keadannya membaik," kata Yunita mengutip Regional Liputan6.com. 

4 dari 4 halaman

Belum Ada Kasus Cacar Monyet di Indonesia

Sejauh ini, Indonesia belum melaporkan adanya kasus cacar monyet. Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masuk dalam Klasifikasi 1 cacar monyet bila merujuk pada rekomendasi WHO. Hal tersebut lantaran Indonesia belum melaporkan adanya kasus cacar monyet.

"WHO mengelompokan negara berdasarkan rekomendasi. Ada yang disebut dengan Klasifikasi 1. Nah, Klasifikasi 1 ini adalah negara yang belum melaporkan kasus atau negara yang pernah melaporkan kasus namun tidak melaporkan lagi selama 21 hari," ujar Syahril.

"Indonesia saat ini masuk Klasifikasi 1 karena belum pernah melaporkan kasus monkeypox ini ke WHO," tambahnya.

Meski tak ada kasus Satgas Monkeypox Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan mengingatkan untuk tetap waspada.

"Sampai di hari ini belum terdapat kasus konfirmasi infeksi monkeypox namun pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat harus tetap waspada," ujar Ketua Satgas Monkeypox PB IDI Hanny Nilasari dalam konferensi pers daring yang diikuti di Jakarta, Selasa (2/8/2022).