Sukses

Bersyukur Bikin Mental Sehat, Catat Tiga Tahapan dan Cara Melatihnya

Liputan6.com, Jakarta - Psikolog dari Himpunan Psikolog Jawa Barat, Riani Fitria menjelaskan bahwa bersyukur memiliki kaitan erat dengan kesehatan mental. Maka dari itu, bersyukur penting dilakukan oleh setiap orang dan perlu dilatih.

“Bersyukur erat banget dengan kesehatan mental, kalau setiap orang benar-benar menghayati bersyukur itu, sebenarnya kebahagiaan itu gampang. Happiness itu kan lagi dicari-cari, nah bagaimana agar kebahagiaan itu terus terjalin, salah satu kuncinya adalah bersyukur,” kata Riani seminar daring bersama Geriatri TV, dikutip Selasa (2/8/2022).

Bersyukur merupakan cara berterima kasih kepada Tuhan, yang mana dalam bersyukur ada pengakuan bahwa ada nikmat yang diberikan oleh Tuhan.

Sedangkan menurut peneliti topik bersyukur, Dr Robert Emmons, ada tiga tahap rasa syukur yakni:

-Mengenali apa yang kita syukuri

“Kita kenali apa yang harus disyukuri karena apa yang terjadi pada setiap orang di setiap harinya tentu berbeda,” kata Riani.

-Mengakuinya

“Kemudian kita akui, ‘oh iya ini memang harus saya syukuri’.”

-Menghargai

“Yang ketiga kita apresiasi dan ini perlu dilatih setiap hari. Kalau ini kita latih, akan ada perubahan secara kesehatan mental yang lebih positif.”

“Dengan kata lain, apresiasi merupakan komponen terakhir dan tahap terakhir dalam proses bersyukur. Tanpa kesadaran dan pengakuan awal, apresiasi berpotensi muncul tidak autentik dan tidak tulus,” kata Riani.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Bersyukur Setiap Waktu

Apresiasi yang didahului dengan mengenali dan mengakui apa yang perlu disyukuri dapat membuat rasa syukur yang dimiliki menjadi lebih paripurna.

“Bukan sekadar mengucap syukur ‘Alhamdulillah’ tapi dalam hati ‘Alhamdulillah hari ini makan tempe, tapi kemarin juga makan tempe, besok jangan-jangan makan tempe lagi.”

Apa yang diucapkan harus senada dengan apa yang ada di hati. Jika itu sejalan, maka kebahagiaan yang dirasakan atau yang diterima akan lebih besar dan lebih besar lagi.

Ia juga menyampaikan bahwa dewasa ini orang-orang cenderung memiliki kecemasan dan kegelisahan yang tinggi. Jika rasa bersyukurnya diperbanyak, maka kecemasan, kegelisahan, dan susah tidur yang dialami akan semakin berkurang.

Umumnya, orang-orang bersyukur setelah mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun, kebahagiaan sendiri tak selalu datang setiap waktu. Maka dari itu, hal yang lebih baik adalah bersyukur kapanpun walau tidak mendapat suatu kebahagiaan.

“Bersyukur itu perlu dilakukan kapanpun, kalau tidak kita latih kita jadinya memilih, kapan kita bersyukur dan kapan tidak bersyukur dan akhirnya kebahagiaannya pun tentatif, kalau bahagia baru bersyukur dan kalau tidak bahagia tidak bersyukur, akhirnya enggak ada kebahagiaan yang permanen.”

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Jurnal Bersyukur

Seperti yang dikatakan Riani sebelumnya bahwa rasa syukur bisa dilatih. Salah satu caranya adalah dengan jurnal bersyukur.

“Jurnal bersyukur adalah cara kita melatih bersyukurnya kita dengan cara menulis dengan tinta ketimbang dengan gadget. Gerakan tertentu ketika menulis itu menstimulasi langsung ke otak.”

Membuat jurnal bersyukur dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

-Siapkan 1 buku

-Luangkan waktu 10-30 menit sebelum tidur malam

-Pejamkan mata, bayangkan dan ingat kembali segala kejadian di hari ini

-Tuliskan 3-5 hal baik yang dinikmati hari ini dengan menggunakan kata-kata positif

-Lakukan setiap hari selama seminggu

-Rasakan perubahan perasaan hati dan pikiran yang lebih positif.

“Lakukan ini selama seminggu untuk kita bangun menjadi kebiasaan baik selama bertahun-tahun.”

Riani pun memperlihatkan contoh jurnal bersyukur yang ia buat sebagai berikut:

Sabtu, 30 Juli 2022

SAYA BERSYUKUR HARI INI:

-Saya tidur dengan lelap bersama ketiga anak saya. Anak-anak yang penuh dengan kelucuan, kejahilan, dan ketulusan hati menyayangi saya tanpa pamrih. Terima kasih Ya Allah atas amanah yang Kau berikan kepadaku.

4 dari 4 halaman

Sudah Diujicobakan

Kalimat di atas dapat dilanjutkan dengan setidaknya dua hal lain yang patut disyukuri. Penulisan kalimat di atas perlu menghindari kata-kata negatif seperti “tapi, jangan,” dan lain-lain.

Hal yang disyukuri pun tak harus hal-hal besar seperti tiba-tiba mendapat hadiah mobil. Hal-hal sederhana pun bisa disyukuri, misalnya bisa tidur lelap, karena di luar sana pasti ada orang yang tengah berjuang dengan gangguan tidur.

Efektivitas jurnal bersyukur sudah banyak diujicobakan di luar negeri. Ada satu kelompok diminta menulis jurnal bersyukur selama satu minggu kemudian ada kelompok lainnya yang diminta menulis hal-hal tidak menyenangkan.

“Ketika dibandingkan, ternyata yang menulis hal-hal baik itu jadi positif, kondisi badannya jadi lebih bagus, kondisi jiwanya lebih bagus dan lebih bersemangat menjalani hidup.”

“Tapi pada kelompok yang menulis hal-hal tidak baik, jadinya mereka lebih Depresi dan lebih agresif.”

Riani menambahkan, jika banyak mengingat hal positif maka hormon kebahagiaan dalam tubuh juga akan lebih banyak. Akhirnya, kebahagiaan itu tercipta juga secara hormonal dan kimiawi.

“Jadi dari mentalnya dapat dari kesehatan fisiknya juga dapat karena mereka kan bersinergi ya. Kita mulai dari kesehatan jiwa, setelah sehat jiwa maka memengaruhi kesehatan fisik,” pungkasnya.