Sukses

Suhu Bisa Capai 43 Derajat Celsius Saat Musim Haji, Waspadai Heat Stroke

Liputan6.com, Jakarta Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Budi Sylvana mengatakan pada ibadah haji 2022 suhu di Arab Saudi bisa mencapai 43 derajat Celsius. Cuaca panas ekstrem bisa berimbas pada kesehatan jemaah haji yang menyebabkan heat stroke yang bisa berujung kematian.

Maka dari itu Budi mengingatkan kepada para petugas haji untuk memiliki jiwa edukasi kesehatan. Jangan sampai ada tingkat kematian yang tinggi pada jemaah haji seperti di 2017 yang mencapai 645 kasus.

“Jangan sampai kejadian di tahun 2017 terulang, kematian melonjak tajam karena suhu sangat tinggi. Promosi kesehatan menjadi penting dan vital fungsinya. Saya ingin semua petugas PPIH bisa membuktikan diri mampu melakukan edukasi dan promosi kesehatan” kata Budi pada rapat koordinasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Bidang Kesehatan pada Kamis, 26 Mei 2022.

Suhu tinggi di Arab Saudi petugas dan jemaah haji rentan alami heat stroke atau serangan panas. Maka dari itu pastikan petugas dan jemaah yang berangkat ke Tanah Suci mengenali tanda-tanda heat stroke.

“Jangan sampai mereka tidak menyadari bahwa sudah masuk dalam tahapan heat exhausted," kata Kepala kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah, Muhammad Imran di kesempatan yang sama mengutip keterangan resmi Kemenkes.

Imran menjelaskan ada kondisi sebelum mengalami heat stroke yakni heat exhausted.

Ciri heat exhausted:

  • sakit kepala
  • keringat berlebihan
  • kulit terlihat pucat, lembab, dan terasa dingin,
  • napas cepat
  • mual
  • nyeri otot

Kondisi ini dapat diatasi dengan minum air yang cukup, mengganti elektrolit yang hilang, menyemprot tubuh dengan air dan beristirahat setidaknya 30 menit.

Bila kondisi itu tidak diatasi maka bisa alami kondisi lebih parah yakni heat stroke atau serangan panas. Ini merupakan kondisi paling berat pada tubuh akibat cuaca panas, karena tubuh tidak dapat mengontrol suhu badan. Terjadi peningkatan suhu badan dengan cepat hingga mencapai 41 derajat Celsius dalam kurun waktu 10-15 menit, dan tubuh sudah tidak dapat mengeluarkan keringat.

 

2 dari 4 halaman

Heat Stroke Bisa Sebabkan Kematian

Heat stroke atau serangan panas dapat memperberat kondisi orang yang sedang sakit dan menyebabkan kematian.

“Untuk itu upaya-upaya pencegahan harus gencar dilakukan, untuk petugas mulai dari edukasi cara menyemprot air, bagaimana cara melarutkan dan waktu yang tepat untuk minum cairan elektrolit. Sementara untuk jemaah, selalu melengkapi diri dengan APD dan jangan tunggu haus untuk minum” tambah Imran.

 

3 dari 4 halaman

Banyak Minum, Jangan Tunggu Haus

Koordinator Promosi Kesehatan PPIH Bidang Kesehatan dr. Edi Supriyatna mengatakan, perbedaan suhu yang ekstrem ditambah kelembaban yang rendah di Arab Saudi, menimbulkan potensi dehidrasi bagi jemaah haji.

Kondisi ini dapat mengarah pada situasi yang lebih parah yakni heat exhausted bahkan heat stroke. Sehingga asupan mineral yang cukup menjadi kunci penting menjaga jemaah haji tetap terhidrasi dengan baik.

“Kunci dehidrasi adalah mineral loss, jadi harus minum air yang dicampur elektrolit, jangan tunggu haus” ujar Edi.

Fungsi elektrolit di sini bukan sebagai obat diare, melainkan sebagai pengganti mineral yang hilang selama menjalankan aktivitas di tengah cuaca yang sangat terik dan minim kelembaban.

Konsumsi elektrolit dilakukan setelah jemaah haji melakukan aktifitas di luar hotel, dengan mencampurkan 1 saset oralit dengan 600 ml air. Selain itu jemaah juga diminta untuk minum air 5-6 botol sehari dengan takaran 600 ml air setiap botolnya.

 

4 dari 4 halaman

Jemaah Haji Hindari Pajanan Langsung Matahari

Edi menyampaikan Jjemaah haji sebaiknya menghindari pajanan sinar matahari langsung. Caranya dengan melengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD), salah satunya dengan menggunakan topi dengan bibir (pinggiran) yang lebar sehingga kepala bisa terhindar dari sengatan langsung.

Selain itu juga jemaah diminta untuk sering menyemprot bagian tubuh yang terpapar pajanan matahari langsung, terutama muka dan tangan. Jemaah juga diminta untuk menggunakan pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat, serta selalu menggunakan alas kaki saat bepergian.

“Edukasi ini harus dijalankan mulai dari sekarang, sebelum jemaah haji berangkat” tutup Edi.