Sukses

Tak Selalu Membangkang, Pahami Penyebab Anak Tidak Mau Mendengarkan Orangtua

Liputan6.com, Jakarta Beberapa orangtua mungkin menganggap bahwa anaknya membangkang saat tidak mau mendengarkan atau menuruti permintaannya. Namun ternyata masih ada lho penyebab lain yang bisa berkontribusi dibaliknya.

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani atau yang akrab disapa Nina mengungkapkan bahwa sebenarnya ada banyak penyebab mengapa anak tidak mau mendengarkan orangtua.

"Ada banyak sekali kemungkinan penyebab anak itu tidak mau mendengarkan orangtua. Ada hal yang sangat wajar banget, natural banget," ujar Nina melalui sambungan telepon pada Health Liputan6.com ditulis Rabu, (11/5/2022).

"Misalnya, anak lagi fokus banget sama apa yang ia perhatikan. Sehingga dia tidak bisa mendengarkan hal-hal lain termasuk orangtuanya," tambah Nina.

Selain itu, Nina menjelaskan, dalam beberapa kasus memang akan ada anak yang pada dasarnya mendengarkan. Namun menolak untuk mendengarkan atau menuruti orangtuanya.

Hal tersebut lantaran memang ada tahap perkembangan usia dimana anak memiliki egonya sendiri. Secara singkat, Nina menyebutnya sebagai tahap usia membangkang.

Misalnya, pada tahap usia satu tahun, mulai muncul banyak kemauan pada diri anak. Pada tahap usia tiga tahun, anak mulai memiliki banyak inisiatif baru. Serta, pada tahap usia enam tahun dimana anak mulai punya banyak ide untuk berkarya.

"Pada usia-usia itu, membangkang jadi sesuatu hal yang wajar. Justru kalau misalnya membangkang, bisa jadi tanda-tanda anak ini berkembang dengan baik karena dia punya idenya sendiri," kata Nina.

2 dari 4 halaman

Hal yang Perlu Diperhatikan

Lebih lanjut Nina mengungkapkan bahwa justru yang harus diperhatikan orangtua saat anak membangkang adalah cara untuk mengomunikasikannya.

"Nah yang perlu kita perhatikan kalau anaknya lagi membangkang itu caranya kita untuk meminta anak melakukan sesuatu bukan dengan memaksa. Harus ada strateginya untuk membuat anak ini mendengarkan," ujarnya.

Selain itu, penyebab lainnya mengapa anak tidak mau mendengarkan orangtua adalah adanya trust issue. Hal tersebut dapat membuat anak tidak mau mendengarkan orangtuanya karena faktor kepercayaan.

Mengingat bisa saja sebelumnya ada hal-hal yang pernah mengecewakan hati anak. Sehingga orangtua bukan menjadi figur yang dapat dipercaya oleh anak.

"Jadi selain masalah tumbuh kembang, tahap perkembangannya dia, bisa juga karena sebenarnya dia tidak trust (percaya) pada orangtuanya. Sehingga dia juga malas mendengarkan," kata Nina.

Berkaitan dengan masalah kepercayaan, Nina menjelaskan bahwa bila memang anak sudah terlanjur memilikinya, maka perlu untuk mengetahui lebih dulu dimana akarnya.

3 dari 4 halaman

Akar Trust Issue Anak pada Orangtua

Menurut Nina, anak memang bisa memiliki masalah kepercayaan atau trust issue pada orangtua. Salah satunya bisa disebabkan oleh orangtua yang tidak dapat memenuhi kebutuhan anak.

"Contohnya kalau dari bayi, misalnya anak ngompol sampai basah, kotor. Tapi orangtuanya enggak ngeh, jadi enggak ganti-gantiin. Berarti dia akan merasa tidak nyaman dengan dirinya. Dia bisa menjadi tidak trust bahwa ada orang lain yang bisa membantu dia," kata Nina.

"Kayak gitu-gitu kalau kebawa sampai besar, enggak bisa juga tiba-tiba orangtuanya bilang mau ganti popoknya. Kan anaknya juga udah enggak pakai popok kalau sudah gede," tambahnya.

Hal tersebut merupakan contoh paling sederhana cikal bakal masalah kepercayaan anak pada orangtua. Artinya, masih ada kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih serius yang dapat berkontribusi dibaliknya. 

"Kalau misalnya trust issue-nya seperti itu, orangtua harus ngebalikin lagi perilakunya supaya dia menjadi lebih dekat lagi sama anaknya," ujar Nina.

"Dia bisa ngobrol lagi dengan nyaman sama anaknya, anaknya bisa ketawa-ketawa bareng sama dia. Benar-benar sampai menciptakan rasa nyaman sedemikian rupa. Nah di situ bisa muncul trust kembali," Nina menuturkan.

4 dari 4 halaman

Kontribusi Peristiwa Tidak Langsung

Hal berbeda yang menjadi akar dari masalah kepercayaan anak pada orangtua juga bisa disebabkan oleh adanya penyebab tidak langsung yang terjalin dari waktu ke waktu.

"Kalau popok tadi itu kan pengalaman langsung. Tapi ada juga yang mengalaminya karena si orangtua tidak bisa dipercaya oleh orang di sekitarnya seperti saudara kandungnya atau ibu bapaknya," kata Nina.

"Jadi misalnya, si ibu sering berbohong sama bapaknya. Meskipun ibunya jujur pada anak, tapi anak ini bisa jadi enggak trust sama ibunya," tambahnya.

Sehingga dalam kasus tersebut, menurut Nina, yang harus dibenahi bukan hanya relasi anak dan orangtua. Melainkan relasi keseluruhan di keluarga dimana satu sama lain harus bisa merasa nyaman.

"Trust issue itu seringkali soal bagaimana dia merasa nyaman dan nyaman itu memang sangat relatif. Nyaman itu juga bukan hanya masalah fisik ya, oh udara nyaman, oh kenyang, bukan, bukan cuma itu. Tapi secara emosional, dia merasa didengarkan, dihargai pendapatnya, merasa didampingi, ditemani," ujar Nina.

Terlebih untuk mengatasi trust issue juga membutuhkan waktu yang tidak dapat ditentukan bahkan kadang terapi untuk mengobatinya.

"Kuncinya memang semuanya harus mau belajar ulang untuk memiliki relasi yang lebih dekat dan nyaman satu sama lain," tutup Nina.