Sukses

Studi: Negara dengan Tingkat Obesitas Tinggi Sumbang 2,2 Juta Kematian akibat COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Negara yang memiliki tingkat kelebihan berat badan atau obesitas tinggi, memiliki tingkat kematian akibat COVID-19 yang juga tinggi. Hal ini diungkap dalam sebuah studi terbaru.

World Obesity Federation melaporkan, sekitar 2,2 juta dari 2,5 juta kematian akibat infeksi virus corona, terjadi di negara-negara dengan tingkat penyandang obesitas yang tinggi.

Beberapa negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Italia, di mana lebih dari 50 persen orang dewasa mengalami kelebihan berat badan, memiliki proporsi kematian terbesar akibat COVID-19.

Dilansir The Guardian pada Senin (8/3/2021), World Obesity Federation pun mendesak agar orang dengan kelebihan berat badan, juga menjadi prioritas dalam vaksinasi dan tes karena risiko tersebut.

Menurut laporan tersebut, di antara negara dengan lebih dari setengah populasi dewasanya kelebihan berat badan, Belgia memiliki tingkat kematian tertinggi, diikuti Slovenia dan Inggris. Sementara Italia dan Portugal di urutan 5 dan 6, sementara AS di urutan 8.

Di Inggris dengan hampir 64 persen orang dewasa kelebihan berat badan atau obesitas, 20 persen pasien COVID-19 dalam perawatan intensif memiliki berat badan normal, 32 persen kelebihan berat badan, dan 48 persen obesitas.

Sementara di AS dengan angka berat badan berlebih mencapai 68 persen, 12 persen pasien COVID-19 dalam perawatan intensif memiliki berat badan normal, 24 persen kelebihan berat badan, dan 64 persen obesitas. 

 

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 5 halaman

Konsisten di Seluruh Dunia

Vietnam, negara dengan tingkat kelebihan berat badan terendah dalam populasi mereka, juga memiliki tingkat kematian terendah akibat COVID-19 terendah kedua di dunia.

Dalam laporan tersebut, faktor risiko kematian terbesar akibat COVID-19 memang usia. Namun, obesitas menempati urutan kedua. Kondisi ini juga sudah diketahui meningkatkan risiko apabila seseorang terkena penyakit menular seperti flu.

"Kami tahu ada masalah di beberapa negara, tetapi kami menemukan itu sangat konsisten di seluruh dunia," kata Tim Lobstein, penulis laporan itu yang juga mantan penasehat World Health Organization dan Public Health England.

Lobstein mengatakan, ada beberapa negara dengan temuan yang berbeda seperti Selandia Baru dan Islandia, di mana mereka mengambil langkah tegas dengan melindungi populasi yang rentan.

3 dari 5 halaman

Tak Terkait Tingkat Pendapatan

Lobstein mengatakan, studi ini memasukkan usia dan tidak terpengaruh pendataan yang buruk di beberapa negara. Kematian cenderung dilaporkan akurat meski tidak dirawat di rumah sakit.

Penyesuaian Pendapatan Domestik Bruto juga tidak menemukan adanya peran tingkat pendapatan terhadap temuan ini. Ia menyebut, beberapa negara kaya dengan tingkat kelebihan berat badan rendah seperti Jepang dan Korea Selatan, memiliki tingkat kematian COVID-19 yang rendah.

"Demikian pula, ada negara berpenghasilan rendah seperti Afrika Selatan dan Brasil, di mana kelebihan berat badan sekarang mempengaruhi lebih dari setengah populasi, di mana kami melihat tingkat kematian Covid-19 yang tinggi," katanya.

"Kami sekarang tahu bahwa populasi yang kelebihan berat badan adalah pandemi berikutnya yang menunggu untuk terjadi."

Menurut Lobstein, hal tersebut dikarenakan pemerintah yang lalai, dan mengabaikan nilai ekonomi dari populasi yang sehat dengan risiko yang ditimbulkan.

"COVID-19 hanyalah infeksi terbaru yang diperburuk oleh masalah berat badan, tetapi tanda peringatannya sudah ada," kata Lobstein.

4 dari 5 halaman

Infografis Kunci Hadapi Covid-19 dengan Iman, Aman dan Imun

5 dari 5 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini