Sukses

Terbukti Ilmiah, Tingkat Stres Bisa Dilihat Lewat Kotoran Telinga

Liputan6.com, Jakarta Analisis kotoran telinga dianggap bisa menjadi cara baru untuk mencari tahu tingkat stres yang dialami seseorang. Setidaknya, itulah yang dilaporkan oleh para peneliti dalam sebuah studi di Inggris.

Dalam sebuah studi yang dimuat di jurnal Heliyon beberapa waktu lalu, para peneliti melakukan sebuah studi terhadap metode baru untuk mengetahui kadar hormon stres kortisol, lewat analisa kotoran telinga.

Mereka menilai bahwa cara ini bisa menjadi strategi yang sederhana dan murah, untuk memeriksa kesehatan mental pada mereka yang mengalami Depresi dan kecemasan.

Dalam jangka pendek, hormon kortisol bertanggung jawab atas respon "lawan atau lari" yang penting bagi kelangsungan hidup. Namun, tingkat kortisol yang tinggi terus-terusan memiliki efek negatif pada sistem kekebalan tubuh, tekanan darah, dan fungsi tubuh lainnya.

Dikutip dari Live Science pada Selasa (10/11/2020), ada banyak cara untuk mengukur kortisol mulai dari air liur, darah, hingga rambut. Namun, ada banyak kekurangan dari pengambilan sampel-sampel tersebut.

"Pengambilan sampel kortisol sangat sulit, karena tingkat hormon dapat berfluktuasi, sehingga sampel mungkin tidak mencerminkan tingkat kortisol kronis seseorang secara akurat," kata Andrés Herane-Vives, pengajar di University College London's Institute of Cognitive Neuroscience and Institute of Psychiatry.

"Selain itu, metode pengambilan sampel itu sendiri dapat menyebabkan stres dan mempengaruhi hasilnya," kata Herane-Vives dikutip dari EurekAlert.

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

2 dari 4 halaman

Lebih Stabil

Untuk itu, Herane-Vives dan rekan-rekannya mencoba untuk melihat ke sampel lainnya yaitu kotoran telinga. Ia mengatakan, kotoran telinga lebih stabil dan tahan dari kontaminasi bakteri, sehingga bisa dikirim ke laboratorium dengan mudah untuk dianalisis.

Selain itu, kotoran telinga dapat menyimpan catatan tingkat kortisol selama beberapa pekan.

"Kadar kortisol dalam kotoran telinga tampaknya lebih stabil, dan dengan perangkat baru kami, itu mudah untuk mengambil sampel dan mengujinya dengan cepat, murah, dan efektif."

Metode pengambilan kotoran telinga sebelumnya membutuhkan penusukan jarum suntik ke telinga, menyiramnya dengan air, dan bisa sedikit menyakitkan sehingga rentan membuat stres.

Maka dari itu, Herane-Vives dan rekan-rekannya pun mengembangkan metode pengambilan secara swab atau usap, yang tidak terlalu rentan membuat stres. Selain itu, pemakaiannya pun tidak terlalu dalam sehingga mencegahnya merusak gendang telinga.

Dalam studinya, para peneliti mengumpulkan darah, rambut, dan kotoran telinga dari 37 peserta di dua waktu yang berbeda. Mereka juga mengambil satu sampel kotoran telinga dari satu telinga dengan jarum suntik serta metode usap mandiri yang mereka kembangkan dari satu telinga lainnya.

3 dari 4 halaman

Berharap dapat Digunakan untuk Kondisi Lain

Para peneliti menemukan bahwa sampel kotoran telinga menghasilkan lebih banyak kortisol daripada sampel rambut. Selain itu, teknik baru yang mereka kembangkan adalah metode tercepat dan punya potensi menjadi yang termurah.

Teknik baru tersebut juga paling sedikit yang dipengaruhi oleh faktor perancu seperti peristiwa pemicu stres atau konsumsi alkohol yang berkontribusi terhadap fluktuasi kortisol selama sebulan sebelumnya.

Herane-Vives pun telah memulai sebuah perusahaan bernama Trears untuk nantinya memasarkan metode baru ini. Ke depannya, ia berharap agar kotoran telinga ini juga bisa digunakan untuk memantau hormon lain.

Para peneliti pun juga perlu melakukan studi lanjutan terhadap orang-orang Asia, yang tidak termasuk dalam studi percontohan ini karena sebagian besar peserta hanya menghasilkan kotoran telinga yang kering.

Herane-Vives dan timnya pun tengah melakukan penelitian untuk melihat apakah perangkat mereka dapat mengukur kadar glukosa dari sampel kotoran telinga untuk memantau diabetes, bahkan untuk mencaritahu antibodi COVID-19.

"Setelah studi percontohan yang berhasil ini, jika perangkat kami dapat diteliti lebih lanjut dalam uji yang lebih besar, kami berharap dapat mengubah diagnosis dan perawatan bagi jutaan orang dengan depresi atau kondisi terkait kortisol lain seperti penyakit Addison dan sindrom Cushing, serta kemungkinan banyak kondisi lainnya."

4 dari 4 halaman

Infografis 4 Hal Positif untuk Kesembuhan Pasien Covid-19