Sukses

PDPI: Kanker Paru Bukan Penyakit yang Ujug-Ujug Muncul

Liputan6.com, Jakarta - Ketua POKJA Kanker Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K)Onk, menjelaskan perbedaan kanker terutama kanker paru dengan COVID-19.

Menurutnya, kanker adalah penyakit gen yang tumbuh di dalam tubuh setelah waktu yang lama. Sedang, COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus menular.

COVID-19 cenderung tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan gejala. Sedangkan kanker membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk tumbuh sebesar satu cm dan baru terdiagnosis.

“Kanker itu bukan penyakit yang ujug-ujug, tapi kanker itu memerlukan proses yang lama disebut carcinogenesis atau proses pertumbuhan sel normal menjadi sel kanker dan dapat terdeteksi secara klinis,” ujar Elisna dalam Webminar Lungtalk IPKP pada Sabtu, 1 Agustus 2020.

“Kenapa kanker paru repot, karena dia di dalam gak terlihat, beda dengan kanker payudara yang kalau ada benjolan kecil langsung diperiksakan.”

2 dari 3 halaman

Faktor Risiko

Ia menambahkan, faktor risiko dari kedua penyakit ini juga berbeda. Seseorang bisa terinfeksi COVID-19 jika tidak mematuhi protokol kesehatan seperti tidak jaga jarak, tidak mengenakan masker, dan aturan lainnya. Sedangkan faktor risiko kanker paru yang utama adalah rokok dan polusi udara.

“Sebenarnya faktor risiko kanker itu jelas dan ada 4 dari 10 kanker itu bisa dicegah termasuk kanker paru. Salah satu penyebab utama dari kanker paru adalah paparan asap rokok.”

Selain perokok aktif, perokok pasif juga memiliki risiko tinggi terkena kanker paru.

Di samping asap rokok, ada faktor risiko lain yang datang dari makanan-makanan tidak sehat. Makanan-makanan cepat saji yang enak tanpa disadari memiliki risiko tinggi memicu kanker, bukan hanya kanker paru tapi kanker secara umum.

“Untuk kanker secara umum, berat badan yang berlebih juga meningkatkan risiko. Jangan minum alkohol, jangan coba-coba. Jangan terlalu santai harus aktif bergerak.

Menurutnya, kanker paru bukan penyakit turunan. Namun, jika orangtua mengalami kanker tersebut maka anaknya memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibanding anak lain yang orangtuanya sehat. 

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini: