Sukses

BKKBN: Edukasi Pernikahan di Masa Sekarang Tak Bisa Lagi Pakai Cara Lama

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan bahwa dibutuhkan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman agar edukasi soal pernikahan bisa diterima dengan baik oleh generasi muda.

"Hari ini tentu kita harus menjalankan nasehat 'didiklah anak cucumu sesuai dengan zamannya karena dia tidak lahir di zamanmu,'" kata Hasto dalam siaran daring peluncuran situs Siap Nikah pada Senin (4/5/2020).

Hasto mengatakan, perilaku dan permasalahan remaja maupun kaum muda yang dihadapi saat ini tidaklah sama dengan era orangtuanya di masa lalu. Sehingga, apabila pembekalan didasarkan dari pola pikir lama, maka hasilnya juga akan mengecewakan.

Inilah yang membuat edukasi seputar pernikahan juga harus didasarkan pada pola pikir yang sesuai dengan generasi muda dan perkembangan zamannya.

"Hanya kita ini harus memberikan bekal ilmu pada generasi muda supaya mereka berubah mindsetnya, terhadap kebaikan, setelah itu perilakunya berubah," kata Hasto.

2 dari 5 halaman

Edukasi Berangkat dari Pola Pikir Generasi Muda Saat Ini

Dalam pemaparannya, Hasto mengatakan bahwa apabila pembekalan ilmu atau edukasi hanya dilakukan dengan perintah atau doktrinasi, strategi tersebut tidaklah efektif.

"Kalau hari ini orangtua orangtua itu, BKKBN, ayo jangan nikah dulu dong, jangan nikah dulu dong sebelum usia 20 atau 21 tahun. Kalau kita hanya doktrinasi begitu terus, mereka itu bosan," kata Hasto.

"Kalau mereka paham, kalau menikah usia 16 tahun itu ternyata risiko kanker mulut rahimnya tinggi, kalau hubungan seks pada usia 16 tahun itu ternyata mereka ini mulut rahimnya masih terbuka, daerah yang mau jadi kanker masih di luar. Kalau usia 20 tahun ternyata mulut rahimnya sudah sangat berbeda. Ini namanya kita memberi pengetahuan," ujar mantan Bupati Kulon Progo ini menjelaskan.

Apabila seorang remaja tahu, maka pola pikirnya pun ikut berubah. Nantinya, dirinya sendiri yang akan menentukan untuk tidak menikah di usia yang terlalu dini.

"Mengubah mindset itu penting untuk mengubah perilaku. Jangan kita sibuk menggiring perilaku tanpa mengubah mindset," pungkas Hasto.

 

3 dari 5 halaman

Luncurkan Situs Siap Nikah

Dalam presentasinya, Hasto mengatakan bahwa angka perempuan yang hamil dan melahirkan di usia remaja di Indonesia masih terbilang tinggi.

Hal ini karena perilaku pacaran yang berisiko tinggi dan mengakibatkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan serta pernikahan di usia dini. Selain itu, kondisi tersebut juga berisiko pada kesehatan ibu dan bayi.

Masalah-masalah seputar pernikahan dan keluarga inilah yang mendasari BKKBN mengambil inisiatif untuk mengembangkan Indeks Kesiapan Berkeluarga yang berkembang menjadi laman www.siap-nikah.id dan pada Mei 2020 dikembangkan menjadi laman Siap Nikah atau www.siapnikah.org.

4 dari 5 halaman

Keluarga Muda Harus Punya Kemampuan Literasi Digital

BKKBN mengatakan bahwa laman Siap Nikah bertujuan untuk menghadirkan berbagai konten yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda dalam mempersiapkan pernikahan, termasuk mempersiapkan diri dalam pengasuhan anak. Adapun, BKKBN menggandeng Rumah Perubahan untuk pengembangan situs ini.

Rhenald Khasali dari Rumah Perubahan mengatakan bahwa generasi maupun keluarga muda harus memiliki kemampuan literasi digital, salah satunya adalah dalam menyaring informasi.

Dalam pemaparannya, Rhenald mengatakan bahwa banyak hoaks yang beredar di tengah banjir informasi saat ini. Termasuk soal yang berkaitan dengan keluarga maupun pengasuhan anak.

Hasto berharap agar laman yang mereka luncurkan bisa menjadi rujukan bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki gerbang pernikahan, maupun bagi keluarga muda yang ingin belajar mengenai ilmu yang dibutuhkan terkait pengasuhan anak.

5 dari 5 halaman

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini