Sukses

Cerita Sedih Jurnalis Kehilangan Putra Tercinta yang Berstatus PDP COVID-19 di Usia 16

Liputan6.com, Jakarta - Farma Dinata tak menyangka, putra tercintanya yang masih remaja meninggal dunia akibat terinfeksi COVID-19. Fabyan Devara, 16 tahun, termasuk remaja yang sehat dan rajin beribadah meninggal dunia pada 24 April 2020 saat menjalani perawatan di RS Pusat Otak Nasional (PON), Jakarta Timur, tepat hari pertama puasa Ramadan.

Awalnya, Fabyan tidak didiagnosis COVID-19, melainkan ada gangguan pada saraf. Kejadian ini bermula di pekan terakhir Maret 2020, saat Fabyan mengeluh tangannya kebas, tapi lama-kelamaan mati rasa sehingga sulit menulis dan makan. Memasuki April 2020, kebiasaan tidur Fabyan tampak aneh, dia bisa tidur 20 sampai 23 jam sehari.

Akhirnya, Farma membawa Fabyan ke RS Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hasil pemeriksaan, ada gangguan di otak kiri dan bolak-balik rumah sakit tersebut untuk CT-scan. Selepas ulang tahunnya pada 13 April 2020, dia mengalami muntah-muntah dan dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Untuk perawatan lebih lanjut, Fabyan dirujuk ke RS PON. Dokter di sana mendiagnosis stroke, padahal hasil CT Scan menunjukkan, tidak ada masalah pada otaknya. Kasus langka terus diselidiki para dokter. Selama 5 hari dirawat, kondisi Fabyan tak kunjung membaik, keluhan batuk, demam, dan kejang-kejang muncul.

Hasil tes thorax terbukti terpapar COVID-19. Ia pun dirawat di ruang isolasi dengan kondisi yang Hari ke-4 di ruang isolasi, Fabyan meninggal pukul 04.40 WIB, saat azan subuh berkumandang. Namun, hasil tes swab belum keluar. Dokter menyatakan, kematian Fabyan akibat COVID-19, yang mana sudah terjadi kerusakan organ yang sangat cepat dalam waktu singkat.

Cerita sedih Farma, yang sehari-hari berprofesi sebagai jurnalis ini diunggah di akun media sosial pribadinya. Ia mengizinkan Health Liputan6.com berbagi kisah sedih tersebut untuk ditayangkan.

"Iya, silakan ditayangkan," ujar Farma saat dikonfirmasi Health Liputan6.com, Rabu (29/4/2020).

Berikut ini tulisan penuturan Farma terkait sang putra yang terpapar COVID-19:

2 dari 5 halaman

Tangan Mati Rasa dan Tidur 20-23 Jam

Fabyan sakit apa?

Putra kami Fabyan Devara insyaAllah remaja yang sehat, enerjik, santun, cerdas, rutin tahajud, duha dan sholat berjamaah di masjid sebelum masjid-masjid ditutup akibat pandemi.

Kami sekeluarga sempat menikmati masa-masa isolasi mandiri, saya WFH, fabyan dan adiknya keyzar devario belajar di rumah. Kami bertiga bergilir menjadi imam untuk sholat berjamaah sekeluarga.

Sampai suatu hari di pekan terakhir bulan maret lalu, si ganteng mengeluh tangan kanannya kesemutan lalu kebas. Semakin hari dia mengeluh tangan kanannya mati rasa, hingga kesulitan menulis dan makan.

Untuk mengerjakan tugas2 sekolah, Byan kadang minta bantuan adik atau mamahnya untuk menuliskan. Untuk makan, kami sering pergoki dia menggunakan bantuan tangan kiri.

Sepekan setelahnya, dia mulai memperlihatkan kebiasaan aneh, tidur sepanjang hari. Bangun cuma untuk sholat lantas tidur lagi. Makan, mandi trus tidur. Dalam sehari semalam dia bisa tidur 20 sampai 23 jam!

Kami sempat kesulitan mencari RS yg ada praktek dokter saraf karena saat itu pas dengan kebijakan PSBB sehingga banyak poli tutup.

Kami akhirnya menemukan dokter saraf yg aktif di salah satu RS di Pasar Rebo, jaktim. Diagnosa dokter saat itu ada masalah di otak kiri anak kami.

Saya sempat bertanya, apa penyebabnya, apakah luka, infeksi atau tumor otak? Bukan, kata dokter, kalau itu biasanya penderita akan mengalami sakit kepala, sementara Byan mengaku tidak.

Apakah akibat mengkonsumsi narkoba dok? Bukan juga katanya, karena efek narkoba biasanya hilang dalam 1-2 hari, sementara Byan sudah tidur terus hampir sepekan ketika itu.

Apakah kemungkinan virus? Bukan juga kata dokter saat itu, karena kalau virus atau bakteri di otak akan menyebabkan kelumpuhan kedua sisi tubuh, sementara Byan hanya sebelah kanan.

kami sempat bolak balik RS itu untuk cek darah dan ct scan dengan kondisi Byan harus menggunakan kursi roda, karena sama sekali sudah tidak bisa mengontrol rasa kantuknya.

 

3 dari 5 halaman

Muntah-muntah dan Didiagnosis Stroke

Kami sempat merayakan milad ke-16 fabyan pada 13 April. Saat itu dia tampak bahagia, dikunjungi beberapa teman dan keluarga kami di rumah. Namun kondisinya sudah tak sanggup berdiri. Masya Allah, dalam keadaan sakit Fabyan sebelumnya masih menjadi imam sholat berjamaah kami sampai kakinya tak kuasa lagi berdiri.

Setelah ultah, fabyan muntah-muntah. Kami khawatir, karena setiap makanan yg disuapi selalu dimuntahkan kembali. Akhirnya kami larikan ke IGD RS terdekat di pondok labu jaksel. Dokter tak mau merawat inap, meminta kami kembali lagi besoknya untuk periksa ke poli saraf.

Hasil tes darah normal, ct scan pun tidak terlihat ada masalah di otaknya. Akhirnya dokter saraf RS itu merujuk fabyan ke RS Pusat Otak Nasional di cawang jakarta timur.

Dokter RS PON mendiagnosa fabyan mengalami stroke. Kasus langka, tp katanya memang pernah ada kejadian pada remaja. Namun dokter jg belum menemukan penyebabnya, karena hasil cek lab ulang terlihat normal, begitupun ct scan.

Hingga 5 hari dirawat di RS PON kondisi fabyan memburuk, dia sama sekali sudah tidak bangun dari tidurnya. Bahkan sudah tidak bisa merespon apalagi komunikasi. Dan yang mengerikan, fabyan mulai batuk, suhu tubuhnya sempat beberapa kali tinggi, kejang kejang.

4 dari 5 halaman

Terindikasi Terpapar COVID-19

Hasil tes thorax, fabyan terindikasi terpapar. Dia harus pindah ke ruang isolasi di lantai khusus pasien covid dan diambil sample tes swab keesokan paginya. Dengan berat hati, saya harus menandatangani protokol covid, diantaranya: biaya perawatan diambil alih pemerintah dan jika dia meninggal dunia harus menjalani proses pemulasaran jenasah hingga pemakaman sesuai protokol covid. Saya tidak punya pilihan lain.

Hari ke-4 di ruang isolasi, fabyan meninggal dunia. Tepat di hari pertama Ramadhan, jumat 24 april 2020. Secara medis fabyan dinyatakan meninggal pukul 4.40 wib, saat azan subuh berkumandang.

Hasil test swab belum keluar, namun dokter meyakini kematian akibat covid karena kerusakan organ terjadi sangat masif dalam waktu singkat.

Alhamdulillah, meski harus menjalani protokol covid, saya masih bisa mengumandangkan azan di telinga kanan anak sholeh itu sebelum dibawa ke kamar jenasah. Keluarga kami juga masih diberi kemudahan oleh Allah untuk mensholatkan Fabyan sebelum dibawa ambulans ke pemakaman. Tidak sedikit Keluarga dekat masih berkesempatan mengantar fabyan hingga pemakamannya di TPU Pondok Rangon.

Walau pedih hati tak terkira, Insya Allah kami ikhlas.

Ya Rab, kuatkan hati dan iman kami keluarga yg ditinggalkan. Semoga fabyan memilih dan memberi syafaat pada kami untuk menemani kehidupan kekalnya di surga-Mu ya Allah. ***

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini: