Sukses

Paramedis RSUI Dukung Pemerintah Karantina WNI dari Wuhan di Natuna

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah mengevakuasi 238 warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China setelah virus corona merebak. Ratusan WNI itu dikarantina selama 14 hari di hanggar Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) mendukung langkah pemerintah tersebut. Spesialis Mikrobiologi RSUI, Fera Ibrahim mengatakan mengarantinakan ratusan WNI di hanggar sudah tepat ketimbang di Kapal Republik Indonesia (KRI).

“Kalau di kapal kondisi misalnya ruangan tertutup. Sementara kalau sekarang di hanggar lebih luas, lebih terbuka dan dia (WNI) bisa keluar,” kata Fera di RSUI, Depok, Jawa Barat, Selasa (4/2).

Selain terbuka, hanggar juga dinilai tepat bagi WNI agar mereka bisa berolahraga atau aktivitas serupa. Potensi virus corona berkembang juga kecil bila manusia berada di tempat terbuka dengan suhu panas. 

“Saya rasa itu sudah diperhitungkan pemerintah. Menurut saya apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini sudah tepat,” ujarnya. 

Fera menjelaskan virus corona dapat mengalami kelumpuhan di tengah suhu 56 derajat Celcius saat berada di luar sel inang atau ketika berada di ruang terbuka. 

“Jadi corona virus itu sensitif terhadap suhu panas,” ujarnya. 

Menurut Fera, virus corona merupakan mikroorganisme parasit yang tidak dapat berproduksi di luar sel inang. Virus tersebut baru bisa bereplikasi memperbanyak diri kalau sudah masuk ke dalam sel hidup. Artinya, saat virus corona berada di ruang terbuka belum menjangkiti sel inang. 

“Virus dapat dilumpuhkan salah satunya melalui pemanasan pada suhu sekitar 56 derajat Celcius selama 30 menit,” jelas dia.

“Virus tersebut juga dapat dilumpuhkan dengan alkohol pada kadar tertentu dan cairan disinfektan yang mengandung chlorine, hydrogen peroxide dan pelarut lipid,” sambungnya.

Sebagai informasi, warga Natuna menolak wilayahnya jadi tempat karantina bagi WNI dari Wuhan. Mereka khawatir kedatangan ratusan WNI itu justru menularkan virus corona. Meskipun pemerintah mengatakan jarak pemukiman warga dengan hanggar Natuna sekitar 6 kilometer.

Warga Natuna menyarankan agar pemerintah mengarantinakan WNI dari Wuhan di tengah laut menggunakan KRI. 

“Karantina mereka selama 14 hari di tengah-tengah laut, dengan begitu tak ada yang berhubungan langsung dengan penduduk setempat, apalagi sampai membuat resah warga," kata Ketua KNPI Natuna, Haryadi, dilansir dari Antara.

2 dari 3 halaman

Pemerintah Siap Tangani Virus Corona

Wabah virus corona asal Wuhan, China mulai menyasar sejumlah negara di dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengantisipasi masuknya virus corona.

Dokter Spesialis Paru RS Universitas Indonesia, Raden Rara Diah Handayani menilai pemerintah sudah siap menangani virus corona. Siap dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun fasilitas kesehatan. 

“Kalau menangani wabah seperti ini (virus corona) kan ada sistem rujukan, maksudnya itu yang dipersiapkan pemerintah. Misalnya pemerintah telah menyiapkan thermal detector di bandara atau pintu-pintu masuk Indonesia seluruhnya. Itu bukti kesiapan,” kata Diah di RS UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (4/2).

Pemeritah juga disebut telah menetapkan sejumlah rumah sakit di berbagai daerah sebagai pusat rujukan pasien suspect virus corona. Rumah sakit tersebut diklaim telah dilengkapi dengan fasilitas kesehatan yang memadai. 

“Bahkan Menteri Kesehatan (Terawan Agus Putranto) langsung mengawasi langsung bebrapa RS yang dijadikan pusat rujukan,” lanjutnya.

Meski demikian, Diah mengakui belum ada obat virus corona. Namun, dia menyebut penanganan pasien suspect virus corona tak sepenuhnya membutuhkan antivirus melainkan obat-obatan lain yang bisa menangani gejala awal. 

“Infus dan sebagainya itu bagian yang dibutuhkan (untuk pengobatan pasien virus corona),” ujarnya.

RS UI sendiri, lanjut Diah, sudah mempersiapkan SDM dan fasilitas kesehatan untuk menangani pasien yang terjangkit virus corona. Dia juga memastikan RS UI sudah menyediakan tempat tidur maupun alat bantu napas bagi pasien. 

“Kita langsung mempersiapkan seperti standby petugas. Ada tidak ada kasus kita standby ya. Alat-alat dipersiapkan berapa, jumlah tempat tidur yang dibutuhkan kira-kira berapa, sampai mesin bantu napas berapa yang diperlukan. Jadi kesiapan sampai seperti itu,” jelasnya.

Penulis: Titin Supriatin

 

3 dari 3 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini: