Sukses

Sunat Dilakukan Ketika Bayi, Boleh atau Tidak?

Liputan6.com, Jakarta Sunat atau yang sering dikenal dengan sebutan khitan merupakan sebuah tindakan untuk membuang kulup atau kulit yang menutupi kepala penis. Tak jarang orangtua menyunat anaknya sejak bayi, namun apakah sebenarnya sunat memang sebaiknya dilakukan ketika bayi?

"Berdasarkan anjuran medis, idealnya dilakukan di atas 7 tahun. Karena ada psychological effect yang mungkin bisa jadi traumatik," ucap Dr. Encep Wahyudian, praktisi sunat di Rumah Sunat dr. Mahdian, Rabu (13/11/2019).

Menurut Encep, sunat lebih baik dilakukan ketika anak sudah paham dan bisa berkomunikasi dengan lancar. Walaupun sebenarnya, sunat memang bisa dilakukan pada usia berapa pun asalkan tetap menggunakan cara yang aman dan higienis.

Encep menyarankan, apabila orangtua menghendaki sunat dilakukan ketika anak masih bayi, orangtua harus sering mengganti popok agar tetap bersih dan terhindar dari kuman.

"Anak bayi kan sebenarnya masih pakai popok, dan ketika itu bisa kena urine yang sebenarnya kotor. Harus dijelaskan ke keluarga kalau urine yang keluar itu kotor, jadi bisa dipertimbangkan," ucap Encep dalam acara Seminar Media Sunat Zaman Now Pakai Klem di Lamina Pain and Spine Center, Jakarta Selatan.

Selain itu, melakukan sunat di klinik atau rumah sakit pun jadi pilihan yang lebih aman. Karena di sana orangtua bisa melakukan konsultasi dan perawatan lebih lanjut seusai sunat.

 

 

2 dari 2 halaman

Menggunakan metode klem

Orangtua juga bisa mencoba teknik sunat modern yakni menggunakan alat klem. Selain lebih praktis, sunat juga menjadi lebih mudah, cepat, tanpa jahitan, serta proses penyembuhan yang lebih cepat.

"Metode klem ini juga boleh basah, seperti kalau kayak pada bayi terkena urin. Tapi operator atau dokternya juga harus ajarin gimana cara perawatannya," ucap Encep.

Proses metode klem dilakukan dengan prosedur bius lokal. Artinya yang akan dikenakan obat bius hanyalah area penis. Kulit yang membungkus kepala penis harus dibuka terlebih dahulu sebelum akhirnya dibersihkan.

"Kotoran ini yang biasanya menyebabkan infeksi saluran kemih. Makanya harus dibuka dan kotorannya dibersihkan. Baru setelah itu diukur untuk dipasangkan tabung klem-nya," jelas Encep.

Anak yang melakukan sunat dengan metode klem ini juga diwajibkan melakukan kontrol setelah lima hari. Tujuannya untuk melihat hasil akhir dan memberikan perawatan yang tepat setelah sunat.

Penulis: Diviya Agatha

Loading
Artikel Selanjutnya
Bila Tidak Sesuai Aturan Medis, Sunat Bisa Berisiko Fatal
Artikel Selanjutnya
Klem, Metode Sunat untuk Anak Zaman Now yang Praktis