Sukses

Setelah Anak Disunat, Cek Berbagai Kondisi yang Menyertainya

Liputan6.com, Jakarta Bagi orang Indonesia, sunat atau sirkumsisi banyak dilakukan bukan sebagai tindakan medis melainkan tradisi. Orangtua saat ini bahkan cenderung melakukan prosedur tersebut pada anaknya di usia dini.

Meskipun sudah menjadi operasi yang umum dan biasa dilakukan, tapi tidak ada salahnya untuk mengetahui apa saja kondisi yang bisa terjadi pada anak setelah sunat. Hal ini karena, proses sirkumsisi adalah sebuah tindakan medis.

Yessi Eldiyani, dokter spesialis bedah anak mengatakan, umumnya setelah pasien disunat, mereka akan mengalami reaksi jangka pendek yang tidak membahayakan dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

"Reaksi tersebut antara lain seperti rasa ngilu pada kepala penis yang baru dikhitan. Hal tersebut wajar dan terjadi karena kepala penis menjadi lebih sensitif terhadap sentuhan atau kontak celana dalam," kata dokter Rumah Sakit Pondok Indah, Bintaro Jaya itu dalam rilis yang diterima Health Liputan6.com, ditulis Jumat (28/6/2019).

Biasanya, perasaan ngilu itu akan semakin berkurang dalam waktu dua sampai empat minggu.

2 dari 3 halaman

Perdarahan Karena Sunat

 Beberapa masalah seperti infeksi atau komplikasi setelah sirkumsisi bisa saja terjadi. Namun, infeksi luka terbilang jarang. Yessi mengatakan, angkanya kurang dari lima persen.

"Namun, apabila itu terjadi maka pemberian antibiotik oral dan mandi teratur dapat mengurangi infeksi tersebut," katanya.

Ketika tindakan berlangsung, pasien juga bisa mengalami perdarahan ringan di sela-sela jahitan sirkumsisi. Meski begitu, jika ini tidak sampai mengalir atau terjadi perdarahan lain ketika anak ereksi di pagi hari satu hingga dua hari setelah disunat, kondisi tersebut masih normal.

"Ketika terjadi, perdarahan tersebut cukup dikeringkan dan dioles salep antibiotik topikal untuk membantu proses penyembuhan dan mencegah infeksi," ujar Yessi.

 

3 dari 3 halaman

Yang Patut Diwaspadai

Yang patut diwaspadai adalah ketika ada perdarahan tidak wajar dengan jumlah banyak bahkan tidak berhenti setelah ditekan dengan kain kassa. Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk menangani masalah itu.

Masalah lain yang juga bisa muncul adalah meatal stenosis atau penyempitan atau perlekatan muara saluran kemih. Yessi mengatakan, kondisi tersebut bisa terjadi pada 11 persen kasus pasien sirkumsisi.

"Pada bayi, hal tersebut berhubungan dengan dermatitis yang disebabkan karena kontak dengan popok sekali pakai, sedangkan pada anak yang lebih besar, hal ini berhubungan dengan balanitis xerotica obliterans."

Loading