Sukses

Pentingnya Pendidikan Bagi Lansia Supaya SMART

Liputan6.com, Jakarta - Orang lanjut usia (lansia) seringkali dianggap sebagai beban. Akibat anggapan tersebut, tidak sedikit lansia yang diabaikan atau bahkan ditelantarkan.

AHli pengembangan kurikulum, konsultan bidang kelanjutusiaan serta pengembangan pendidikan dan pelatihan Cargiver lanjut usia, Dr Tri Suratmi M.PD mengatakan kalau saja para lansia memperoleh pendidikan yang baik, mereka bisa menjadi lansia yang SMART (sehat, mandiri, aktif, pRoduktiF). Guna mewujudkan itu, pendidikan bagi lansia merupakan hal yang penting.

“Lansia itu butuh informasi kesehatan terkait usia mereka. Jadi masalah kepikunan, Alzeimer, kemudian tentang penyakit lansia, hipertensi, osteoporosis, osteoarthritis, itu yang kita berikan. Dan juga bagaimana mem-preventnya,” kata Tri.

Maka untuk itu, penting bagi lansia untuk mengikuti aktivitas komunitas ataupun sekolah agar bisa tetap aktif dan produktif. Juga untuk menghindari perasaan sendirian serta sedih dalam menghadapi masa-masa menjadi lansia.

 

 

2 dari 3 halaman

Jumlah Lansia

Semakin tingginya teknologi pengobatan dan pengetahuan yang menyebabkan suatu fenomena kenaikan jumlah lansia atau population aging sebenarnya merupakan pertanda yang baik. Menurut Penasihat Khusus tentang Perawatan Kesehatan & Kebijakan Perawatan Jangka Panjang ERIA, Dr. Osuke Komazawa, hal ini terbukti di Jepang. Negara di mana lansianya berjumlah sekitar 30 persen dari total populasi.

“Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa population aging adalah bentuk kesuksesan umat manusia,” kata Osuke dalam acara pembukaan sekolah lansia Universitas Respati Indonesia (Urindo).

Namun penasihat itu juga menjelaskan bahwa population aging juga merupakan isu yang menantang. Hal itu berarti bahwa ada tanggung jawab untuk mengembangkan lansia, agar mereka tidak dilihat sebagai beban

3 dari 3 halaman

Sekolah untuk Lansia

Universitas Respati Indonesia ( URINDO ) meresmikan Sekolah Lansia dan Sekolah Caregiver URINDO Ramah Lansia pada Senin, 11 November 2019. 

Sekolah ini ada sebagai salah satu program pengabdian masyarakat dalam bentuk sekolah informal bagi para lanjut usia di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Camat Cipayung, yang diwakili Kasi Kesra, Saamin menyatakan rasa terima kasih dan menyambut dengan baik kegiatan sekolah lansia yang akan sangat membantu masyarakat khususnya orang dengan usia lanjut dalam meningkatkan kesejahteraan mereka di masa senja dengan lebih produktif.

Sebagai Universitas Ramah Lansia yang diresmikan oleh Menteri Sosial Republik Indonesia pada 26 September 2019, Sekolah Lansia juga bagian dari program Pusat Kajian Keluarga dan Kelanjutan Usiaan Universitas Respati Indonesia yang dikenal dengan CeFAS.

Kedua sekolah ini akan berusaha secara aktif berkontribusi dalam peningkatan kemampuan keluarga dan masyarakat agar mampu mendampingi lansia yg sudah tidak mampu merawat dirinya sendiri dan memerlukan bantuan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Secara nasional proporsinya sekitar 3,7 persen atau sekitar 600 ribu kebutuhan Caregiver.

Sekolah Lansia dan Sekolah Caregiver URINDO Ramah Lansia secara resmi dibuka oleh Direktur CEFAS (Centre for Family and Ageing Studies) Dr. H. Sudibyo Alimoeso, M.A.

Sudibyo berharap lulusan sekolah Caregiver mampu berperan sebagai emotional support, merawat pasien (memandikan, memakaikan baju, menyiapkan makan, mempersiapkan obat), mengatur keuangan, membuat keputusan tentang perawatan dan berkomunikasi dengan pelayanan kesehatan formal.

Menurut dia, Caregiver pada masyarakat Indonesia umumnya adalah keluarga, dalam hal ini adalah pasangan, anak, menantu, cucu atau saudara yang tinggal satu rumah.

Pada kesempatan tersebut Kepala Sekolah Lansia Urindo Dr Tri Suratmi M.pd, menyampaikan setiap orang adalah guru kehidupan bagi lainnya. Sekolah Lansia URINDO memiliki visi menjadi sekolah sepanjang hayat bagi lansia, SMART ( sehat, mandiri, aktif, produktif dan bermartabat).

Penulis : Selma Vandika

Loading
Artikel Selanjutnya
Berapa Kali Sehari Lansia Mengganti Popok Dewasa?
Artikel Selanjutnya
Kisah Nenek Sempel Hidup Sebatang Kara di Perbatasan Indonesia-Malaysia