Sukses

Ilmuwan Temukan Manfaat Tinja Bayi Bagi Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta Studi terbaru menemukan bahwa tinja bayi bermanfaat bagi kesehatan. Terdengar menjijikkan, namun penelitian terbaru telah membuktikan hal tersebut.

Para ilmuwan di Wake Forest School of Medicine telah mengembangkan "koktail probiotik" yang berasal dari strain bakteri usus yang ditemukan pada tinja bayi. Mereka mengklaim hal tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan kesehatan usus dan fungsi sistem kekebalan tubuh.

"Apa yang kami temukan adalah bakteri yang diisolasi dalam tinja bayi, menghasilkan jumlah asam lemak rantai pendek yang lebih tinggi," kata peneliti utama studi tersebut Hariom Yadav seperti dilansir dari Winston-Salem Journal pada Senin (27/8/2018).

"Itu bisa membantu orang dengan diabetes, obesitas, kanker, penyakit autoimun, dan lansia," tambahnya.

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di sini

 

2 dari 3 halaman

Belum Terkena Penyakit

Meningkatkan asam lemak rantai pendek (sumber utama energi untuk sel yang melapisi usus besar Anda), mungkin membantu dalam mempertahankan atau memulihkan lingkungan usus yang normal. Terutama pada orang-orang yang terganggu oleh penyakit maupun usia.

Feses bayi dipilih dalam penelitian tersebut karena bayi tidak tersentuh oleh penyakit yang berkaitan dengan usia.

"Orang dewasa juga memiliki bakteri baik, tetapi mikrobioma bayi, bakteri dalam usus mereka, jauh lebih sehat daripada yang lebih tua," ujar Yadav yang merupakan Asisten Profesor Kedokteran Molekuler di Wake Forest School of Medicine, Amerika Serikat.

Penelitian ini menguji kemampuan probiotik asal manusia untuk meningkatkan kesehatan usus. Probiotik, yang umumnya ditemukan dalam yogurt dan makanan fermentasi lainnya, adalah bakteri yang menjaga usus tetap sehat.

Simak juga video menarik berikut ini:

 

3 dari 3 halaman

Belum Bisa Digunakan Manusia

Sementara itu, "Koktail probiotik" ini belum siap untuk dikonsumsi manusia, sekalipun telah diuji dan berhasil pada tikus di dalam penelitian.

"Beberapa probiotik yang ada di pasar berasal tanah, makanan yang difermentasi, acar. Tetapi, kebanyakan probiotik harus berasal dari manusia jika mereka akan kembali ke manusia," kata Yadav.

Tahap berikutnya adalah menguji "koktail probiotik" itu pada tikus yang tidak sehat untuk melihat efeknya, serta pada primata. Hingga suatu hari nanti, bisa dimasukkan dalam yogurt, bubuk, atau kapsul untuk digunakan manusia.

Yadav sendiri tidak merekomendasikan untuk menggunakan feses bayi untuk berbagai hal saat ini.