Sukses

Remaja Gampang Gendut karena Iklan Makanan Cepat Saji di TV?

Liputan6.com, Jakarta Makanan cepat saji memang memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi remaja. Penggambaran lezatnya makanan siap saji kerap membuat remaja tertarik untuk mengonsumsi makanan tersebut.

Apalagi, beragam iklan makanan cepat saji yang ditayangkan saat acara anak di stasiun televisi.

Dilansir New York Times, Rabu (17/1/2018), Cancer Research di Inggris mengungkapkan, menonton iklan di televisi selama tiga jam dapat membuat remaja mampu menghabiskan 500 makanan tidak sehat dalam jangka waktu satu tahun. Tim tersebut melakukan survei pada 3.348 anak umur 11 sampai 19 tahun di Inggris mengenai kebiasaan menonton televisi dan makan.

Survei menunjukkan remaja yang menonton televisi tanpa iklan cenderung kurang mengonsumsi makanan cepat saji, sedangkan mereka yang menonton televisi dengan iklan cenderung dua kali lebih sering (139 persen) meminum minuman berkarbonasi, dan 65 persen cenderung untuk memakan makanan cepat saji.

Aliansi Kesehatan Obesitas daerah setempat pun mengungkapkan 60 persen paparan iklan makanan dan minuman cepat saji membuat remaja ingin mengonsumsi makanan tersebut. 

Pada New York Times, Dr Jyotsna Vohra dari Cancer Research di Inggris mengatakan bahwa penelitian tersebut bisa menjadi bukti kuat iklan makanan cepat saji dapat membuat beberapa remaja bernapsu untuk mengonsumsinya.

"Kami tidak mengklaim setiap remaja yang menonton iklan televisi akan langsung menyukai makanan cepat saji. Namun, data ini menunjukkan korelasi yang kuat antara iklan dan kebiasaan makan," kata dia.

 

Saksikan juga video berikut ini :

2 dari 2 halaman

Berisiko Diabetes dan Kanker

Penelitian ini dikatakan mendukung penelitian sebelumnya, di mana sebanyak 50 persen remaja yang menonton TV lebih dari tiga jam sehari cenderung mudah mengalami obesitas. Kebiasaan menonton disebutkan membuat remaja cenderung tidak melakukan aktivitas.

Ditambah lagi, sejumlah 72 persen iklan di TV komersial mengiklankan makanan yang tidak sehat, di antaranya 34 persen iklan tentang permen dan makanan ringan, 28 persen sereal, dan 10 persen makanan cepat saji.

Penelitian sebelumnya juga menyebutkan kurang lebih 9 juta remaja mengalami kelebihan berat badan. Jumlah ini tiga kali lebih besar dari tahun 1970. Selain itu, sebanyak 80 persen remaja yang memiliki berat badan berlebih tumbuh menjadi pria dewasa yang obesitas.

Obesitas yang dialami oleh pria dewasa dapat memicu munculnya penyakit yang serius, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker.