Iklan Rokok Elektronik Pengaruhi Anak-anak

Iklan yang menampilkan rokok elektronik dengan rasa seperti coklat dan permen karet menarik perhatian anak-anak untuk mencoba rokok itu.

Diterbitkan 23 Januari 2016, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Iklan yang menampilkan rokok elektronik dengan rasa seperti coklat dan permen karet lebih mungkin untuk menarik anak-anak sekolah membeli dan mencoba rokok elektronik daripada mereka menampilkan rokok elektronik, penelitian baru telah ditemukan.

Rokok elektronik sekarang produk nikotin yang paling umum dikonsumsi kalangan anak-anak di negara-negara dengan kebijakan pengendalian tembakau yang kuat, penelitian menunjukkan.

Sebagai penggunaan rokok elektronik naik kalangan anak-anak dan remaja, ada kekhawatiran bahwa penggunaannya dapat menyebabkan merokok tembakau, kata para peneliti dari University of Cambridge.

Baca Juga

  • Awas Rokok Elektronik Juga Bisa Bikin Kecanduan
  • Remaja di Bawah 21 Tahun Dilarang Beli Rokok
  • 1 dari 5 Remaja Masukkan Ganja dalam Rokok Elektroniknya

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal BMJ tentang Tobacco Control, peneliti ditugaskan melakukan survet terhadap 598 anak-anak sekolah ke salah satu dari tiga kelompok. Satu kelompok ditunjukkan iklan rokok elektronik dengan rasa permen; kelompok kedua iklan untuk rokok elektronik tanpa rasa; dan kelompok ketiga, kontrol, di mana anak-anak tidak melihat iklan.

Anak-anak sekolah kemudian ditanya daya tarik menggunakan e-rokok dan merokok tembakau, kerugian yang dirasakan dari merokok, berapa banyak mereka menyukai iklan dan apakah mereka tertarik dalam membeli dan mencoba rokok elektronik.

Anak-anak yang menonton iklan untuk rokok elektronik rasa permen menyukai iklan tersebut, dan menyatakan minat yang lebih besar untuk membeli dan mencoba e-rokok daripada rekan-rekan mereka.

"Kami optimis dari hasil kami bahwa iklan e-rokok tidak membuat merokok tembakau lebih menarik, tapi kami khawatir bahwa iklan untuk e-rokok dengan rasa yang mungkin menarik bagi anak-anak sekolah bisa mendorong mereka untuk mencoba produk, "kata salah satu peneliti Milica Vasiljevic dari University of Cambridge dikutip dari situs Times of India, Sabtu (23/1/2016)