Vape Tak Seaman yang Dikira, Dokter Paru Ungkap 3 Bahayanya

Salah satunya, cairan vape mengandung zat pemicu kanker seperti formaldehida dan asetaldehida.

Diterbitkan 13 April 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan rokok elektronik atau vape kerap dianggap sebagai alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional. Padahal di balik citra tersebut, vape memiliki risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan termasuk mengandung zat pemicu kanker.

Guru Besar dalam Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Profesor DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) mengungkapkan bahwa vape tetap bisa memicu kecanduan atau adiktif karena ada kandungan nikotin di dalamnya. 

“Sekitar 79,5 persen pengguna vape mengalami adiksi karena kandungan nikotin,” katanya.

Ketergantungan tersebut juga mendorong pengguna beralih ke rokok konvensional. “Sekitar 40 sampai 50 persen pengguna menjadi dual user, menggunakan vape dan rokok konvensional,” ujar Agus mengutip Antara.

Kedua, cairan vape mengandung bahan karsinogen atau zat pemicu kanker seperti formaldehida dan asetaldehida. Itu artinya, meski rokok elektronik tidak mengandung tar seperti rokok konvensional, berbagai zat kimia dalam vape tetap berpotensi memicu kanker.

Memang bukti pada manusia memang masih terbatas karena penggunaan vape relatif baru, namun studi laboratorium menunjukkan adanya risiko tersebut.

Komponen ketiga adalah zat toksik yang dapat memicu peradangan di saluran pernapasan dan pembuluh darah. Paparan zat tersebut, kata dia, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut, pneumonia, asma, hingga penyakit paru kronik.

Temuan Kasus di Ruang Praktik Akibat Vape

Dalam praktik klinis, ia kerap menemukan sejumlah kasus gangguan paru pada pengguna vape. “Kasus yang sering ditemukan antara lain pneumonia, asma, hingga pneumotoraks atau paru-paru bocor,” kata dokter yang sehari-hari praktik di RSUP Persahabatan Jakarta Timur ini.

Ia juga menyoroti potensi cedera paru akut akibat rokok elektronik atau yang dikenal sebagai EVALI, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan sesak napas berat hingga memerlukan perawatan intensif.

Lalu, paparan zat dari vape juga dapat berdampak pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke dalam jangka panjang.