Singapura Rilis Situs Cari Jodoh untuk Dorong Angka Kelahiran

Program ini tuai reaksi positif dan negatif dari masyarakat Singapura.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Singapura - Singapura meluncurkan jasa cari jodoh untuk pegawai pemerintah sebagai upaya negara tersebut untuk memerangi rendahnya angka kelahiran.

Dikutip dari BBC, Selasa (6/10/2026), FirstDate, yang baru rilis minggu ini menawarkan jasa untuk pegawai berusia 21 hingga 35. Situs ini menawarkan "pendekatan berbeda dalam berkencan," di mana layanan ini menggunakan algoritma pemenang Nobel untuk menjodohkan peserta dengan satu pasangan kencan dalam satu waktu. Situs tersebut memberikan keterangan, "Kelelahan karena terus menerus menggeser layar berakhir di sini."

Peserta bisa mengakses situs tersebut menggunakan sistem identitas digital dan mengisi survei tentang minat, kebiasaan, dan nilai-nilai mereka.

Peluncuran ini tuai respon beragam dari warga Singapura, dengan sebagian mendeskripsikannya sebagai "distopia," sementara yang lain menyatakan ketertarikannya untuk mencoba.

Di situs webnya, FirstDate menyoroti algoritma Gale-Sapley Stable Marriage yang menjadi dasar dari program ini. Kerangka kerja matematis ini mencocokkan dua orang dengan jumlah anggota yang sama berdasarkan preferensi masing-masing.

Mendiang seorang ahli matematika bernama Lloyd Shapley mendapatkan Hadiah Nobel Memorial bidang Ilmu Ekonomi di tahun 2012 atas penemuannya terhadap algoritma tersebut yang sudah dipakai dalam proses penerimaan siswa sekolah negeri, penempatan residen kedokteran, dan aplikasi kencan di antara hal-hal lainnya.

"Pada akhirnya, menurut saya pengalaman bertemu dengan seseorang lewat aplikasi tidak jauh berbeda di antara (berbagai jenis) aplikasi tersebut," ujar pegawai Kementerian Pertahanan bernama Elizabeth yang berumur 29 tahun dan sangat tertarik untuk mencoba FirstDate kepada BBC.

"Tapi senang rasanya mengetahui bahwa kemungkinan tertipu jauh lebih kecil. Kita semua pegawai negeri yang sedang mencari pasangan, kan?"

 

Reaksi Negatif Publik

Namun, beberapa pengguna media sosial berkata upaya ini, yang masih dalam masa percobaan, mendiskriminasi orang-orang yang tidak bekerja di pemerintahan.

Ada juga kritik tentang batasan usia. "Mereka hanya melakukan ini untuk meningkatkan angka kesuburan total. Mereka sebenarnya tidak peduli apakah kita bisa menemukan pasangan atau tidak."

"Karena adanya risiko yang lebih tinggi jika memiliki anak di usia 35 tahun ke atas, pemerintah mengabaikan para lajang yang lebih tua," tulis pengguna lainnya.

Belum jelas apakah program percobaan ini akan bisa diakses untuk masyarakat luas nanti. BBC sudah menghubungi GovTech, badan hukum yang berada di balik masa percobaan ini untuk meminta tanggapan.

Peluncuran masa percobaan ini terjadi lantaran anjloknya angka kelahiran di Singapura ke level terendah sepanjang sejarah.

Untuk pertama kalinya dalam 60 tahun, jumlah bayi yang lahir di tahun 2025 kurang dari 30 ribu bayi. Sementara itu, angka kematian terus meningkat secara stabil di negara yang penduduknya semakin menua ini, mencapai sekitar 26,5 ribu di tahun 2025.

Di bulan Agustus, Perdana Menteri Lawrence Wong mengumumkan serangkaian langkah baru untuk memberikan dukungan yang lebih baik kepada keluarga dan mendorong pasangan untuk memiliki anak, termasuk bantuan finansial sebesar hampir 70 ribu dolar Singapura (Rp 979,4 juta) untuk setiap anak hingga mereka berumur 17 tahun.

 

 

Ternyata Bukan Upaya Pertama

FirstDate bukan pertama kali negara kita ini mencoba menjadi Cupid untuk para warganya. Pada 1984, Singapura mendirikan Unit Pengembangan Sosial (SDU) yang bertugas membuat acara-acara sosial untuk mendorong para single lulusan perguruan tinggi agar bisa berkenalan.

Sasaran audiens eksklusifnya, lulusan perguruan tinggi, dikritik sebagai pendekatan yang elitis, tapi pihak berwenang membenarkan upaya tersebut dengan alasan mereka yang bukan lulusan perguruan tinggi tidak mengalami kesulitan dalam mencari pasangan. SDU pun akhirnya dibubarkan.

Tahun berikutnya, pemerintah mendirikan lembaga lain untuk mendorong pernikahan di kalangan yang bukan lulusan perguruan tinggi.

Ide layanan kencan yang dikelola pemerintah bukan hal unik di Singapura. Di tahun 2024, pemerintah metropolitan Tokyo meluncurkan aplikasi kencan berbasis AI sebagai upaya untuk memerangi penurunan angka kelahiran di negara tersebut.

Menurut data pemerintah yang dirilis pada Juli tahun ini, aplikasi tersebut, yang terbuka untuk warga single di kota tersebut, berhasil mempertemukan 265 pasangan yang kemudian menikah.

Â