Putin Peringatkan Barat, Rusia Siap Gunakan Senjata Nuklir jika Kaliningrad Diserang

Kaliningrad adalah wilayah Rusia di kawasan Baltik yang diapit dua negara anggota NATO, yakni Polandia dan Lithuania.

Diterbitkan 02 Oktober 2026, 09:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan negara-negara Barat agar tidak memperuncing perang di Ukraina. Ia mengatakan Rusia siap menggunakan "seluruh senjata" yang dimilikinya, termasuk senjata nuklir, jika Kaliningrad diserang.

Dalam forum Valdai Discussion Club di Moskow pada Kamis (1/10/2026), Putin mengatakan Rusia tidak berencana menyerang negara mana pun di Eropa. Namun, ia menegaskan Moskow siap membalas jika menghadapi agresi dari Barat.

Putin secara khusus menyinggung Kaliningrad.

Peringatan itu muncul setelah NATO baru-baru ini menggelar latihan militer di sekitar Kaliningrad. NATO menyebut latihan tersebut bersifat defensif dan bertujuan memperkuat daya tangkal.

Namun, latihan itu memicu kekhawatiran di Moskow. Pada akhir September, Rusia memperingatkan akan membalas jika NATO mencoba memblokade Kaliningrad melalui jalur udara maupun laut.

"Latihan di Laut Baltik terus dilakukan satu demi satu... Kemudian ada upaya untuk menahan kapal-kapal kami. Semua ini merupakan eskalasi. Setelah itu, kami mulai mendengar pernyataan mengenai wilayah Kaliningrad," kata Putin seperti dilaporkan CNN.

"Jika sampai terjadi serangan langsung terhadap Federasi Rusia, dalam hal ini terhadap Kaliningrad dan mungkin wilayah lainnya, tentu penggunaan seluruh senjata yang ada dalam persenjataan negara kami akan masuk dalam agenda. Hal itu tidak dapat dihindari."

NATO, sejumlah negara Eropa, dan Inggris menuduh Rusia melancarkan perang hibrida terhadap mereka, termasuk lewat serangan siber, sabotase, dan aksi spionase yang disebut bertujuan melemahkan dukungan terhadap Ukraina.

Perang Rusia di Ukraina, yang disebut Moskow sebagai "operasi militer khusus", kini memasuki tahun kelima. Namun, Putin belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi serangan.

Sebaliknya, Rusia meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina dan ibu kota Kyiv menjelang musim dingin yang diperkirakan berlangsung sangat berat.

Di sisi lain, serangan drone Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia belakangan ini memicu kelangkaan bahan bakar di berbagai wilayah. Kondisi itu sekaligus menunjukkan bahwa dampak perang mulai semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Rusia.

Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah pom bensin di kota-kota besar. Sementara itu, serangan terhadap perusahaan ritel daring terbesar di Rusia semakin menambah tekanan terhadap perekonomian yang sudah terbebani perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kerap menyebut serangan drone Ukraina jauh ke dalam wilayah Rusia sebagai "sanksi jarak jauh". Menurut Zelensky, serangan tersebut ditujukan untuk mengurangi pendapatan Rusia, melemahkan kemampuan militernya, dan mendorong Kremlin ke meja perundingan.

 

Putin Akui Kerugian Ekonomi, tapi Anggaran Pertahanan Tetap Naik

Dalam pidatonya pada Kamis di hadapan kalangan akademisi bidang kebijakan luar negeri dan hubungan internasional, Putin mengakui serangan Ukraina telah berdampak pada perekonomian Rusia.

Ia mengatakan serangan itu menyebabkan Rusia kehilangan sekitar 1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Putin juga menyebut operasi militer Ukraina di Laut Hitam telah melumpuhkan lebih dari 100 kapal Rusia.

Meski demikian, Putin menegaskan Rusia tidak akan mundur.

"Di Laut Hitam, itu adalah zona pertempuran. Kami menyerang kapal militer dan kapal yang mengangkut muatan militer, dan kami hampir tidak pernah salah sasaran. Sepanjang rangkaian ini, mereka (Ukraina) telah melumpuhkan lebih dari 100 kapal kami. Ya, kami kemudian mulai membalas, dan sekarang kami dihujani seruan dari segala arah: 'Oh, tolong hentikan itu'," kata Putin.

"Hal yang sama terjadi terhadap kilang minyak kami. Mereka [Ukraina] secara terbuka menyatakan bahwa tujuan mereka adalah merusak perekonomian kami. Apakah mereka berhasil? Sebagian. Menurut perkiraan kami, kami kehilangan sekitar satu persen dari PDB. Dan itu dilakukan dengan sengaja. Bagaimanapun, yang menjadi sasaran adalah objek sipil. Jadi, mereka mendapat balasan yang setimpal."

Pengakuan Putin soal dampak serangan Ukraina terhadap perekonomian Rusia itu disampaikan hanya sehari setelah ia mengatakan kepada para anggota baru Duma Negara, majelis rendah parlemen Rusia, bahwa perekonomian negara tersebut tetap stabil.

Dalam pemilu itu, partai Rusia Bersatu yang mendukung Putin kembali mempertahankan mayoritas kursi.

Putin juga menggunakan kesempatan tersebut untuk menyindir ketergantungan Ukraina pada bantuan keuangan dari negara-negara Barat.

"Kesalahan, terutama dalam situasi sekarang, sama sekali tidak bisa ditoleransi," kata Putin kepada para anggota parlemen.

"Tidak seperti sebagian pihak—dan kami tidak akan menyebut siapa—Rusia tidak bisa berkeliling dunia meminta bantuan dengan merendahkan diri. Pertama, karena seperti yang sudah saya katakan, itu memalukan. Kedua, tidak ada yang akan memberi kita apa pun, dan kita sangat memahami hal itu. Ketiga, dan yang paling penting, kita tidak membutuhkannya. Sistem keuangan dan perekonomian Rusia berada dalam kondisi aman."

Meski dalam beberapa pekan terakhir memberi sinyal bahwa dirinya tidak berniat mengurangi intensitas perang di Ukraina, Putin juga mengatakan lebih memilih konflik tersebut berakhir melalui perundingan.

Menjelang pemilu, Putin mengatakan hasil pemilihan akan menunjukkan bahwa masyarakat Rusia bersatu mendukung militer dan tujuan-tujuannya.

Namun, jajak pendapat Levada Center, lembaga survei independen, pada Agustus menunjukkan 59 persen warga Rusia mendukung dimulainya perundingan damai.

Rencana Rusia untuk terus melanjutkan "operasi militer khusus" juga terlihat dari anggaran pertahanannya. Dokumen yang ditinjau Reuters menunjukkan Moskow berencana mengalokasikan 17,1 triliun rubel atau sekitar US$ 205,112 miliar untuk sektor pertahanan pada 2027.

Angka itu sekitar 27 persen lebih tinggi dibandingkan anggaran yang sebelumnya direncanakan dan menjadi yang terbesar sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.