Dubes Yoon: 3.000 Perusahaan Korsel Beroperasi di Indonesia, Serap 1 Juta Pekerja

Nilai investasi kumulatif Korsel di Indonesia disebut telah mencapai sekitar US$ 29 miliar.

Diterbitkan 02 Oktober 2026, 07:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar Korea Selatan (Dubes Korsel) untuk Indonesia Yoon Soongu mengatakan sekitar 3.000 perusahaan Korsel saat ini beroperasi di Indonesia dan mempekerjakan lebih dari satu juta orang.

"Kemitraan ekonomi kita telah bergerak melampaui perdagangan semata, semakin dalam melalui investasi yang kuat dan pembangunan rantai pasok yang berkelanjutan," ujar Dubes Yoon dalam resepsi National Day dan Armed Forces Day Korsel, Kamis (1/10/2026), di Jakarta.

Dubes Yoon mengatakan perusahaan-perusahaan Korsel yang beroperasi di Indonesia turut memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan pajak korporasi.

Ia menjelaskan, jejak bisnis Korsel di Indonesia telah mengalami perubahan besar selama beberapa dekade. Investasi yang awalnya banyak bergerak di sektor kehutanan dan garmen kemudian berkembang ke industri berat, seperti baja dan petrokimia.

Kini, lanjut Dubes Yoon, investasi Korsel semakin bergerak ke sektor ramah lingkungan dan transformasi digital.

Ia menggarisbawahi bahwa Korsel hingga tahun lalu menjadi mitra terbesar ketujuh Indonesia dalam perdagangan dan investasi.

Dubes Yoon mengatakan kerja sama kedua negara diharapkan memberi kontribusi terhadap upaya Indonesia mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Hubungan Indonesia dan Korsel, menurut Dubes Yoon, terus berkembang sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada 1973. Hubungan bilateral itu kini telah meningkat menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus atau Special Comprehensive Strategic Partnership (SCSP), yang mencakup kerja sama di berbagai bidang strategis.

Dalam kerangka tersebut, kedua negara memperluas kerja sama di bidang keamanan dan pertahanan, ketahanan rantai pasok ekonomi, serta hubungan antarmasyarakat.

Dubes Yoon menyinggung kerja sama pertahanan kedua negara dengan menyebut IF-21 sebagai salah satu simbol kemitraan strategis Indonesia-Korsel.

IF-21 merujuk pada pesawat tempur yang dikembangkan melalui proyek bersama Indonesia dan Korsel, yang di Korsel dikenal sebagai KF-21.

Ia menuturkan bahwa fondasi kerja sama pertahanan kedua negara telah dibangun sejak masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selain ekonomi dan pertahanan, Dubes Yoon menyoroti semakin eratnya hubungan masyarakat kedua negara.

Ia mengungkapkan bahwa sekitar 500.000 warga Korsel mengunjungi Indonesia pada tahun lalu, sementara sekitar 360.000 warga Indonesia bepergian ke Korsel.

Sekitar 80.000 warga Indonesia, kata Dubes Yoon, saat ini tinggal di Korsel untuk bekerja maupun menempuh pendidikan.

Ia mengatakan pemerintah Korsel akan terus mendorong pertukaran antarmasyarakat, termasuk dengan menyederhanakan prosedur visa dan memperluas kesempatan pendidikan.

Pada tahun ini, pemerintah Korsel, ungkap Dubes Yoon, mengundang 180 mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan magister dan doktoral melalui program beasiswa pemerintah.

"Kami benar-benar meyakini bahwa kemitraan yang sesungguhnya dimulai dengan mendekatkan masyarakat kedua negara," tutur Dubes Yoon.

Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menilai investasi Korsel telah berperan penting dalam perjalanan pembangunan industri Indonesia.

Peran tersebut terlihat di berbagai sektor, mulai dari manufaktur otomotif dan produksi baja hingga baterai, petrokimia, elektronik, dan energi terbarukan.

"Investasi Korea telah membantu memperkuat kemampuan industri Indonesia dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat kami," ungkap Rosan.

Ia menegaskan pemerintah Indonesia tetap berkomitmen menciptakan iklim usaha yang stabil, transparan, dan kondusif bagi investasi.

Ke depan, Rosan melihat peluang besar untuk memperdalam kerja sama kedua negara di sektor hilirisasi, manufaktur maju, teknologi digital, serta berbagai sektor berorientasi masa depan.

Ia turut menyoroti Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) sebagai kerangka penting untuk memperluas perdagangan, investasi, dan kerja sama industri kedua negara.

"Mari terus berinvestasi bersama, berinovasi bersama, dan tumbuh bersama," kata Rosan.

K-Culture Perkuat Kedekatan Masyarakat Indonesia-Korsel

Tidak terlewat, Dubes Yoon menyoroti kuatnya pengaruh K-culture atau budaya Korsel di Indonesia, mulai dari drama, film, musik, makanan hingga produk kecantikan.

Menurut Dubes Yoon, masyarakat Indonesia menunjukkan antusiasme tinggi terhadap berbagai bentuk budaya Korsel. Ia menyebut hampir semua orang di Indonesia mengenal setidaknya satu atau dua kata dalam bahasa Korea.

Dubes Yoon menyinggung pula antusiasme menjelang konser BTS pada Desember mendatang. BTS merupakan grup K-pop asal Korea Selatan yang memiliki basis penggemar besar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Namun, ia menilai hubungan budaya Indonesia dan Korea Selatan kini tidak lagi sebatas konsumsi konten.

"Generasi muda Indonesia telah bergerak jauh melampaui sekadar mengonsumsi konten Korsel. Mereka menafsirkannya dengan cara mereka sendiri dan memadukannya dengan kekayaan tradisi Indonesia," kata Dubes Yoon.

Perkembangan tersebut membuka ruang kerja sama baru di industri kreatif, termasuk produksi bersama film dan musik serta berbagai bentuk kolaborasi kreatif lainnya.

Ia mengatakan kedua negara akan terus memperdalam kerja sama di bidang budaya dan industri kreatif sebagai bagian dari hubungan Indonesia-Korea Selatan yang semakin luas.