Sekretaris Militer Netanyahu Bakal Pimpin Mossad, Sosoknya Kontroversial

Gofman akan resmi memimpin Mossad pada Juni mendatang.

Diterbitkan 13 April 2026, 08:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Pemerintah Israel secara resmi menunjuk Mayjen Roman Gofman sebagai direktur baru badan intelijen Mossad. Penunjukan ini disetujui pada Minggu (13/4/2026) setelah mendapat lampu hijau dari Komite Penasihat Penunjukan Senior.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu seperti dikutip dari laporan Times of Israel telah menandatangani surat pengangkatan resmi Gofman. Dalam pernyataan kantornya disebutkan bahwa Gofman akan mulai menjabat sebagai kepala Mossad pada 2 Juni mendatang dengan masa jabatan selama lima tahun.

Persetujuan tersebut diberikan setelah Komite Penasihat Penunjukan Senior yang dipimpin oleh mantan Presiden Mahkamah Agung Israel, Asher Grunis, melakukan evaluasi terhadap kandidat.

Sebagian besar laporan komite berfokus pada sebuah insiden yang terjadi pada tahun 2022, ketika Roman Gofman masih menjabat sebagai komandan Divisi Regional "Bashan" ke-210 di Dataran Tinggi Golan. Dalam jabatannya itu, Gofman menyetujui pelibatan seorang remaja berusia 17 tahun bernama Ori Elmakayes dalam sebuah kampanye pengaruh di media sosial berbahasa Arab yang ditujukan kepada Iran, Hizbullah, dan Hamas.

Keterlibatan remaja tersebut kemudian berujung pada masalah hukum. Elmakayes ditangkap dan ditahan oleh otoritas keamanan karena dituduh menyebarkan informasi rahasia. Menanggapi hal ini, Gofman menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui usia Elmakayes saat direkrut. Ia juga menegaskan bahwa dirinya telah menginstruksikan agar hanya informasi yang tidak bersifat rahasia yang boleh diberikan kepada remaja tersebut untuk dipublikasikan.

Meski demikian, Elmakayes tetap menjalani penahanan selama 18 bulan. Seluruh dakwaan terhadapnya baru dicabut setelah terungkap bahwa informasi rahasia yang ia unggah sebenarnya berasal dari petugas intelijen militer Israel sendiri, yang memberikannya kepada Elmakayes.

Dalam penilaian akhir, tiga anggota junior dalam Komite Penasihat Penunjukan Senior menyimpulkan bahwa insiden tersebut tidak cukup menjadi alasan untuk menggugurkan pencalonan Gofman sebagai kepala Mossad. Namun Grunis dalam pendapat terpisah justru merekomendasikan agar Gofman didiskualifikasi dari jabatan tersebut.

Menanggapi keputusan itu, Elmakayes mengkritiknya keras dan menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Melalui platform X, ia menuduh Gofman telah merekrutnya secara tidak sah, lalu meninggalkannya tanpa perlindungan ketika masalah muncul.

"Orang yang menelantarkan seorang anak berusia 17 tahun juga tidak akan melindungi agen Mossad," tulis Elmakayes, seraya menyatakan bahwa penunjukan Gofman merupakan ancaman serius bagi Mossad dan keamanan Israel, serta berjanji akan terus berupaya untuk menggagalkan pengangkatan tersebut.

 

Kritik Lainnya

Gofman dijadwalkan menggantikan kepala Mossad saat ini, David Barnea, yang masa jabatannya akan berakhir pada Juni.

Penunjukan ini turut menuai kritik dari sejumlah pejabat keamanan, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, yang menyatakan bahwa Gofman tidak memiliki latar belakang operasional dan intelijen yang biasanya menjadi syarat untuk memimpin lembaga tersebut.

Gofman dikenal memiliki kedekatan dengan Netanyahu dan telah menjabat sebagai sekretaris militer perdana menteri selama hampir dua tahun. Dalam peran itu, ia kerap melakukan perjalanan mewakili Netanyahu serta mengawasi pelaksanaan arahan perdana menteri di tubuh militer Israel.

Lahir di Belarus, Gofman pindah ke Israel bersama keluarganya pada tahun 1990 saat berusia 14 tahun. Ia meniti karier di Korps Lapis Baja Angkatan Pertahanan Israel (IDF) hingga mencapai posisi komandan divisi sebelum beralih dari peran tempur.

Pada peristiwa serangan 7 Oktober 2023, saat menjabat sebagai komandan pangkalan pelatihan Tzeelim, Gofman bergerak menuju perbatasan Gaza dan mengalami luka serius dalam baku tembak melawan militan Hamas di persimpangan Sha’ar Hanegev, dekat Kota Sderot.

Sebelum menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu pada 2024, Gofman juga sempat menulis dokumen kontroversial yang merekomendasikan agar Israel tetap mempertahankan kendali militer atas Gaza setelah mengalahkan Hamas dalam perang.

Â