Intelijen AS Sebut Pemerintahan Iran Tidak di Ambang Tumbang

Setelah dua pekan pengeboman dan pembunuhan pemimpin tertingginya, pemerintahan Iran disebut masih bertahan.

Diterbitkan 13 Maret 2026, 07:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Laporan-laporan intelijen Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran masih mempertahankan kendali atas negara tersebut. Hal itu disampaikan oleh beberapa sumber yang mengetahui hal tersebut kepada kantor berita Reuters.

Setelah dua pekan serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran—termasuk yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei—salah satu sumber mengatakan kepada Reuters terdapat analisis yang konsisten bahwa rezim tidak berada dalam bahaya runtuh dan pemerintah tetap mempertahankan kendali atas publik Iran.

Menyusul sejumlah laporan intelijen yang mencapai kesimpulan tersebut—di mana laporan terbaru muncul dalam beberapa hari terakhir—langkah Presiden Donald Trump untuk mengakhiri pengeboman dapat menjadi kegagalan besar bagi pemerintahannya. Trump mengatakan kepada CBS pada Senin (9/3) bahwa operasi militer akan berakhir "segera, sangat segera". 

Laporan-laporan tersebut muncul setelah sejumlah senator dari Partai Demokrat menyampaikan komentar usai mengikuti pengarahan tertutup dari para pejabat pemerintahan Trump pada Selasa (10/3). Para senator itu mengatakan AS "tidak memiliki rencana" di Iran dan penilaian awal Badan Intelijen Pusat (CIA) sebelumnya menyimpulkan bahwa jika para pemimpin Iran disingkirkan maka kelompok yang bahkan lebih radikal akan muncul.

Intervensi militer Trump, yang sejauh ini telah menyebabkan sedikitnya tujuh tentara AS tewas dan 140 lainnya terluka, memicu reaksi keras dari sebagian basis pendukungnya.

Sementara itu, harga minyak melonjak setelah Iran memblokir Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia. Jika pemerintahan Republik Islam Iran gagal digulingkan, situasi ini kemungkinan akan semakin menambah tekanan terhadap Gedung Putih.

Para senator yang menerima pengarahan dari para pejabat AS juga mengatakan bahwa "perubahan rezim" bukan merupakan salah satu tujuan dari perang tersebut.

Dalam laporan terpisah, Reuters menemukan bahwa para pejabat Israel tidak yakin akan terjadi pemberontakan dari publik Iran maupun runtuhnya pemerintahan negara itu, yang baru-baru ini menunjuk pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya.

Sementara itu, sumber lain menegaskan bahwa Israel tidak berniat membiarkan bentuk apa pun dari pemerintahan Iran tetap bertahan. Namun mereka juga menyatakan bahwa untuk berhasil menggulingkan rezim tersebut kemungkinan diperlukan pengerahan pasukan darat, sesuatu yang belum dikesampingkan oleh AS.

Pemerintahan Trump sebelumnya telah memberikan beberapa alasan untuk memulai Operasi Epic Fury, operasi militer yang sedang berlangsung terhadap Iran. Alasan-alasan itu antara lain sebagai tindakan membela diri terhadap ambisi nuklir Iran, sekaligus sebagai kesempatan untuk membebaskan rakyat Iran.

Namun kini, di tengah peringatan dari Iran bahwa harga minyak dapat naik jauh lebih tinggi, operasi militer terbesar AS sejak 2003 itu kemungkinan sudah menghadapi kesulitan.

Pemerintah AS juga menyampaikan pesan yang saling berbeda mengenai langkah selanjutnya.

Sehari sebelum Trump berjanji bahwa perang akan segera berakhir, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada CBS, "Ini baru permulaan."