Perang Iran Picu Relokasi Aset Militer AS dari Korea Selatan, Kemampuan Hadapi Korea Utara Disorot

Laporan relokasi ini muncul ketika perang Iran memasuki pekan kedua setelah serangan AS dan Israel terhadap Teheran pada 28 Februari.

Diterbitkan 11 Maret 2026, 20:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Indikasi bahwa Pasukan Amerika Serikat (AS) di Korea (U.S. Forces Korea/USFK) memindahkan sebagian sistem pertahanan udara yang ditempatkan di Korea Selatan ke Timur Tengah di tengah perang Iran memunculkan kekhawatiran langkah tersebut dapat memengaruhi kemampuan Korea Selatan dalam menangkal ancaman dari Korea Utara.

Pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan diduga tengah memindahkan baterai sistem pertahanan rudal Patriot serta sebagian komponen sistem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Namun, militer Korea Selatan maupun USFK menolak mengonfirmasi hal tersebut.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Selasa (10/3/2026) mengatakan bahwa USFK mungkin mengirim sebagian sistem pertahanan udara ke luar Semenanjung Korea sesuai kebutuhan militernya sendiri.

"Bergantung pada bagaimana situasinya berkembang, USFK dapat mengirimkan beberapa sistem pertahanan udara ke luar negeri sesuai dengan kebutuhan militernya. Walaupun kami telah menyampaikan keberatan, kenyataannya kami tidak dapat sepenuhnya memaksakan posisi kami," kata Lee dalam rapat kabinet pada hari yang sama seperti dikutip dari kantor berita Yonhap.

Isu pemindahan aset militer tersebut juga muncul di tengah laporan bahwa persediaan rudal pencegat milik AS mulai menurun setelah Iran membalas dengan meluncurkan banyak rudal dan drone.

Menurut situs pelacakan penerbangan waktu nyata, sedikitnya dua pesawat angkut militer C-5 dan 11 pesawat C-17 AS telah lepas landas dari Pangkalan Udara Osan di Pyeongtaek, yang terletak di selatan Seoul, sejak akhir bulan lalu. Aktivitas ini memicu spekulasi mengenai pemindahan sebagian sistem pertahanan rudal Patriot ke Timur Tengah.

Sebelumnya, dua baterai Patriot pernah dikerahkan ke Timur Tengah, tepatnya pada Juni tahun lalu ketika Washington melakukan operasi besar yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Sistem tersebut kemudian dikembalikan ke Korea Selatan pada Oktober.

Mengutip dua pejabat AS, harian The Washington Post pada Senin (9/3) melaporkan bahwa Pentagon sedang memindahkan sebagian komponen sistem THAAD dari Korea Selatan ke Timur Tengah.

 

Korea Selatan Yakin Daya Tangkal Tetap Terjaga

Sistem THAAD merupakan bagian penting dari sistem pertahanan rudal berlapis milik Korea Selatan. Sistem ini dirancang untuk menghancurkan rudal musuh pada fase akhir lintasan penerbangannya dan telah ditempatkan untuk menghadapi ancaman rudal dari Korea Utara.

Relokasi kemungkinan aset militer AS ini dinilai sejalan dengan kebijakan Washington mengenai "fleksibilitas strategis", yaitu memperluas ruang lingkup operasi USFK di luar Semenanjung Korea guna menghadapi potensi kontingensi terkait China, termasuk kemungkinan konflik di Taiwan.

Perhatian tertuju pula pada kemungkinan apakah USFK akan memindahkan lebih banyak aset militer lainnya, seperti Army Tactical Missile System, serta kemungkinan pengerahan personel ke Timur Tengah apabila konflik Iran meningkat menjadi perang yang melibatkan pasukan darat.

Dalam sejarahnya, pada tahun 2003 pasukan tempur USFK pernah dimobilisasi selama perang Irak dan pasukan tersebut tidak kembali ke Korea Selatan setelah konflik bersenjata berakhir pada 2011.

Pemerintah Korea Selatan saat ini menilai bahwa potensi relokasi sistem pertahanan udara AS tersebut tidak akan melemahkan postur penangkal negara itu terhadap Korea Utara. Penilaian ini didasarkan pada besarnya belanja militer Korea Selatan serta kekuatan pertahanannya.

"Jika Anda bertanya apakah strategi penangkalan kami terhadap Korea Utara sangat terpengaruh oleh kemungkinan pemindahan aset tersebut, saya dapat mengatakan sama sekali tidak," ujar Presiden Lee dalam rapat kabinet.

Para pakar menyatakan bahwa baterai rudal Patriot milik militer Korea Selatan serta sistem rudal darat ke udara jarak menengah Cheongung-II dapat menggantikan sebagian peran sistem Patriot milik USFK yang kemungkinan dipindahkan ke Timur Tengah.

Namun, tidak ada sistem pertahanan lain yang dapat sepenuhnya menggantikan THAAD, karena saat ini hanya ada satu baterai THAAD yang ditempatkan di Korea Selatan. 

Pada tahun 2024, Korea Selatan menyelesaikan pengembangan sistem Long-range Surface-to-Air Missile (L-SAM) buatan dalam negeri yang dirancang untuk menembak jatuh rudal masuk pada ketinggian lebih dari 40 kilometer. Akan tetapi, pengerahan sistem L-SAM baru diperkirakan dimulai tahun depan.

Jeong Han-beom, profesor di Korea National Defense University, menilai bahwa langkah USFK tersebut tidak akan memberikan dampak langsung terhadap kemampuan penangkalan Korea Selatan terhadap Korea Utara dalam jangka dekat.

"Sepertinya tidak ada dampak terhadap penangkalan Korea Utara untuk saat ini karena aset yang dipindahkan kemungkinan merupakan aset cadangan," kata Jeong. "AS tampaknya telah menggunakan banyak rudal antipesawatnya, sehingga mencoba mengambil aset dari tempat lain untuk menutupi kekurangan rudal tersebut."