Jejak Sejarah Budaya Kerja 966 di China

Seperti apa jejak tradisi dinasti kuno di China dan apa itu budaya kerja 966?

Diterbitkan 10 Maret 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Jejak budaya kerja keras yang dikenal luas di China modern ternyata memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Praktik kerja dengan jam panjang dan disiplin ketat sudah terlihat sejak lebih dari dua milenium lalu, ketika para pejabat dan pekerja di berbagai dinasti menghadapi tekanan kerja yang tinggi.

Di China masa kini, perdebatan sering muncul mengenai apa yang dikenal sebagai budaya kerja “996”, yaitu bekerja dari pukul 09.00 hingga 21.00 selama enam hari dalam seminggu. Sebagian kalangan memandang pola kerja tersebut sebagai jalan menuju kesuksesan, sementara yang lain mengecamnya sebagai bentuk eksploitasi modern karena jam kerja yang ekstrem dapat memicu gangguan kesehatan bahkan kematian akibat kelelahan.

Namun, pola kerja panjang sebenarnya bukan fenomena baru. Pada masa Dinasti Qin, para pejabat pemerintah sudah harus meninggalkan rumah sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi akibat keterbatasan transportasi dan sering bekerja hingga sekitar pukul 19.00, dikutip dari laman SCMP, Selasa (10/3/2026).

Para petani pada masa itu bekerja dari matahari terbit hingga terbenam, sementara para pedagang kerap tidur kurang dari empat jam demi menjalankan usaha mereka. Kehadiran dalam rapat pagi juga dianggap sangat penting sebagai cara menegakkan disiplin waktu dan etos kerja.

Pada masa Dinasti Tang, aturan kerja bahkan disertai hukuman fisik yang keras. Seorang pejabat yang absen selama satu hari bisa dijatuhi hukuman 20 cambukan, sementara ketidakhadiran hingga 35 hari dapat berujung hukuman penjara selama satu tahun. Pegawai yang datang terlambat juga berisiko dipukul sebagai bentuk disiplin.

Tekanan kerja yang tinggi juga tercatat pada masa Dinasti Ming. Seorang pejabat dilaporkan panik karena takut terlambat menghadiri tugasnya di istana hingga berlari tergesa-gesa dan akhirnya terpeleset serta tenggelam di sungai.

Selain jam kerja panjang, pejabat pemerintah pada masa itu juga harus menjalani sistem kerja bergilir. Pada era Dinasti Tang, sebagian pejabat diwajibkan menjalani tiga hingga empat shift malam dalam periode 10 hari untuk menangani dokumen rutin serta urusan mendesak pemerintahan.

 

Masa Dinasti Han Timur

Meski tidak menerima bayaran lembur, kerja keras kadang berbuah penghargaan. Pada masa Dinasti Han Timur, seorang pejabat bernama Huang Xiang dikenal sering menggantikan rekan-rekannya yang tidak hadir. Ketika kaisar mengetahui ia bekerja hingga di luar jam tugas, dedikasinya justru membuatnya dipromosikan.

Kisah lain datang dari pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang. Ia disebut meninjau sekitar 1.660 memorandum dalam waktu hanya delapan hari dan mewajibkan para menterinya memproses lebih dari 200 dokumen setiap hari.

Sementara itu, pada masa Dinasti Qing, Kaisar Yongzheng dikenal sebagai penguasa yang sangat pekerja keras. Ia dikabarkan hanya tidur sekitar empat jam setiap malam dan sepanjang hidupnya menulis lebih dari 10 juta kata dalam dokumen pemerintahan.

Meski demikian, beberapa dinasti juga mulai memperkenalkan konsep hari libur. Pada masa Dinasti Han, pemerintah memperkenalkan kebijakan “hari istirahat dan mandi”, yang memberi pejabat satu hari libur setiap lima hari.

Pada periode Dinasti Tang dan Dinasti Song yang ditandai dengan kemakmuran ekonomi, pekerja juga menikmati waktu istirahat yang relatif lebih banyak. Pejabat Dinasti Tang misalnya mendapat satu hari libur setiap 10 hari, ditambah libur saat festival, kunjungan kepada orang tua lanjut usia, hingga cuti pernikahan yang bisa mencapai sembilan bulan.

Sejarah panjang tersebut menunjukkan bahwa etos kerja keras yang kini diperdebatkan di China modern memiliki akar budaya yang sangat tua, terbentuk melalui sistem birokrasi dan sosial yang menuntut disiplin tinggi sejak era kekaisaran.