Capai Kerangka Kesepakatan soal Greenland, Trump Tarik Ancaman Militer dan Tarif terhadap Eropa

Pembicaraan dengan NATO menjadi kunci dari perubahan retorika Trump.

Diterbitkan 22 Januari 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Davos - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (21/1/2026) mengumumkan telah mencapai kerangka kesepakatan yang menurutnya memuaskan terkait Greenland. Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap signifikan setelah sebelumnya ia mengancam akan merebut pulau Arktik itu dari Denmark dengan kekuatan militer serta mengenakan tarif terhadap delapan sekutu Eropa.

Trump mengatakan kesepakatan tersebut bersifat jangka panjang, namun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut. Ia juga tidak menjelaskan apakah kesepakatan itu akan mencakup penguasaan AS atas Greenland, sesuatu yang sebelumnya berulang kali ia tuntut.

Perubahan sikap mengejutkan ini disampaikan Trump setelah mengadakan pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di sela-sela pertemuan World Economic Forum (WEF) di resor ski Davos, Swiss.

"Kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan, pada kenyataannya, seluruh kawasan Arktik," tulis Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.

Trump menyatakan bahwa sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, ia akan membatalkan rencana penerapan tarif hingga 25 persen yang beberapa hari sebelumnya ia ancam akan diberlakukan mulai 1 Februari terhadap Denmark serta negara-negara sekutu yang telah mengirim pasukan ke Greenland sebagai bentuk solidaritas, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman.

Kepada para wartawan, Trump mengaku bahwa kesepakatan itu "memberikan semua yang kami inginkan" dan akan berlaku "selamanya".

Ketika ditanya apakah AS akan memperoleh kedaulatan atas pulau luas namun jarang penduduk itu, Trump sempat ragu sebelum menjawab, "Ini adalah kesepakatan jangka panjang yang paling utama."

"Saya pikir ini menempatkan semua pihak pada posisi yang sangat baik, terutama terkait keamanan, mineral, dan segala hal lainnya," ujar Trump seperti dikutip dari laporan CNA. "Ini adalah kesepakatan yang langsung diterima banyak pihak, sangat fantastis bagi AS, memberikan semua yang kami inginkan."

Namun demikian, Rutte menggarisbawahi kepada AFP bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan terkait Greenland.

"Saya pikir ini adalah pertemuan yang sangat baik malam ini. Tetapi masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," katanya di Davos.

Rutte menyebut bahwa isu kunci mengenai kedaulatan Denmark atas Greenland tidak dibahas dalam pertemuannya dengan Trump.

Ketika ditanya mengenai status Greenland sebagai wilayah Denmark, Rutte mengatakan kepada Fox News dalam program Special Report with Bret Baier bahwa "isu tersebut tidak lagi muncul dalam percakapan saya malam ini dengan presiden".

"Ia sangat fokus pada apa yang perlu kita lakukan untuk memastikan kawasan Arktik yang sangat luas itu—di mana perubahan sedang terjadi dan di mana Tiongkok serta Rusia semakin aktif—bagaimana kita bisa melindunginya," tambah Rutte. "Itulah fokus utama dalam diskusi kami.”

"Kami memiliki kesepakatan yang baik untuk benar-benar mulai mengerjakan isu-isu ini. Artinya, kami sepakat untuk melihat bagaimana NATO dan apa yang dapat dilakukan NATO secara kolektif guna memastikan seluruh kawasan Arktik tetap aman."

Juru bicara NATO Allison Hart mengatakan bahwa para sekutu akan membahas kerangka kesepakatan tersebut, yang juga menanggapi klaim Trump bahwa Greenland tidak terlindungi dari ancaman Rusia atau Tiongkok.

"Negosiasi antara Denmark, Greenland, dan AS akan berlanjut dengan tujuan memastikan bahwa Rusia dan Tiongkok tidak pernah mendapatkan pijakan—baik secara ekonomi maupun militer—di Greenland," tutur Hart.

Perubahan Retorika Trump Datangkan Kelegaan

Ancaman Trump sebelumnya telah memicu salah satu krisis transatlantik terbesar dalam beberapa dekade, dengan peringatan bahwa ia dapat secara sepihak menghancurkan NATO melalui agresi terhadap sesama anggota aliansi.

Perubahan sikap Trump meredakan ketegangan di Denmark, negara yang telah lama menjadi sekutu setia AS, di mana pernyataan keras Trump sebelumnya memicu keterkejutan dan rasa dikhianati.

"Trump mengatakan ia akan menghentikan perang dagang, ia mengatakan, 'Saya tidak akan menyerang Greenland'. Ini adalah pesan-pesan yang positif," kata Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen kepada televisi publik Denmark, DR.

Perdana Menteri Belanda Dick Schoof pun mengatakan bahwa AS dan Eropa kini "berada di jalur de-eskalasi".

Trump sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa AS, sebagai kekuatan utama NATO, "berhak" atas Greenland karena AS harus mempertahankan pulau itu dari Rusia atau Tiongkok, meskipun kedua negara tersebut tidak memiliki klaim apa pun atas wilayah tersebut.

Isu Greenland mendominasi pidato pertama Trump di World Economic Forum dalam enam tahun terakhir, di mana ia mengecam Denmark sebagai negara yang "tidak tahu berterima kasih" karena menolak menyerahkan pulau Arktik tersebut.

"Saya tidak ingin menggunakan kekuatan. Saya tidak akan menggunakan kekuatan. Yang diminta Amerika Serikat hanyalah sebuah tempat bernama Greenland," kata Trump.

Perubahan nada ini juga membawa kelegaan bagi pasar global, dengan indeks-indeks utama Wall Street mengalami kenaikan.