Liputan6.com, Beijing - Kecelakaan kapal pesiar Eastern Star yang terbalik di sungai Yangtze, China, mencapai ratusan orang tewas. Pencarian puluhan orang lainnya yang hilang juga diperluas dengan bantuan tim penanggulangan bencana dalam kecelakaan laut paling mematikan yang terjadi pada 18 Januari 2015.
Insiden ini tepatnya terjadi pada Senin malam saat kapal Eastern Star berlayar di wilayah Jianli, Provinsi Hubei. Kapal tersebut membawa lebih dari 450 orang, sebagian besar merupakan wisatawan lanjut usia, dalam perjalanan dari Nanjing menuju Chongqing, dilansir dari BBC, Minggu (18/1/2026).
Pihak berwenang mengaitkan kecelakaan ini akibat angin besar yang menghembus kapal secara tiba-tiba dan membalikkan kapal tepat sebelum pukul 21.30 malam waktu setempat.
Advertisement
Menurut laporan CBS News, para kru bekerja keras dengan menguras air yang mengisi kapal untuk mencari korban hilang dan mengevakuasi jenazah yang terjebak di dalam kapal.
Sebanyak 97 orang tewas dan lebih dari 340 orang masih dalam pencarian. Sementara itu, korban selamat sedikitnya 14 orang, termasuk tiga orang dari kantung udara di kapal yang ditemukan pada hari Selasa setelah tim penyelamat mendengar teriakan dari dalam.
Namun, menurut laporan dari saluran resmi pemerintah China, kapal yang terbalik itu dipasang rantai sebelum akhirnya dibalikkan ke posisi tegak pada Jumat untuk memudahkan pencarian, di mana tim penyelamat berhasil menemukan korban tewas yang meningkat sebanyak 406 orang hingga hari Sabtu, termasuk seorang gadis berusia 3 tahun di dek atas.
Â
Desakan Penyelidikan Publik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3404433/original/036356200_1616041786-ilustrasi-mayat-ilustrasi-jenazah-ilustrasi-orang-mati_20180416_074120.jpg)
Upaya evakuasi dilakukan secara besar-besaran dengan melibatkan polisi dan aparat keamanan bersenjata juga ditempatkan di sepanjang tepi sungai untuk memblokir akses ke lokasi kejadian, disertai penjagaan ketat terhadap wartawan yang diterapkan oleh pihak berwenang.
Namun, penyebab dari kecelakaan kapal ini masih menjadi keresahan para keluarga korban. Karena sebelum kapal itu berlayar, kerabat penumpang telah waspada lebih dulu saat peringatan cuaca buruk dikeluarkan sebelum malam kejadian itu dan mempertanyakan keputusan kapal untuk tetap melanjutkan pelayaran.
Meski demikian, bencana kecelakaan kapal tersebut terjadi. Situasi ini akhirnya memicu kemarahan keluarga korban, seperti salah seorang anggota keluarga yang menerobos kerumunan wartawan dan menuntut penyelidikan yang kemungkinan adanya kelalaian atau kesalahan manusia.
Â
"Semua penekanan tertuju pada bencana alam, tetapi kami pikir ini tidak adil," ucap Xia Yunchen, seorang dosen berusia 70 tahun itu.
"Selain bencana alam, apakah ada penyebab lain? Bukankah ini pertanyaan yang rasional?" lanjutnya lagi.
Kesedihan bagi para korban pun tak kunjung mereda setelah pihak berwenang justru mengkremasi jenazah dan mengirimkan abu kepada keluarga korban yang dilakukan sesuai dengan kebijakan pascabencana, sementara itu bantuan tim forensik dikerahkan yang mencari keluarga para korban melalui DNA untuk bertemu sebelum dikremasi.
Kecelakaan kapal Eastern Star kini dianggap sebagai bencana maritim terburuk di Tiongkok sejak tenggelamnya kapal SS Kiangya pada 1948 di lepas pantai Shanghai, yang menewaskan 2.750 hingga hampir 4.000 orang. Ditambah lagi, kecelakaan feri Dashun yang terbakar dan terbalik di lepas pantai Provinsi Shandong pada 1999, menewaskan sekitar 280 orang.
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520488/original/002175600_1782447973-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T112427.080.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261577/original/041528400_1781746737-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_07.45.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5164799/original/043621100_1742183216-dbe96acd3b3529457b7c0146890290a1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3902511/original/090747100_1762352267-fn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4873083/original/054569000_1719213705-pexels-ingewallu-173910.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4275071/original/007659000_1672215517-022041600_1517486603-20180201-Cuaca-Ekstrem-IA1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1238139/original/082014900_1521205275-pp.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261449/original/024360400_1781704034-000_B7CB6XN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8530300/original/023508000_1782462492-AP26175847717345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528304/original/000911800_1782459714-AP26177049351866.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5448078/original/040755400_1765983961-Barcelona-Pau-Cubarsi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524143/original/085744300_1782453577-Yuto_Nagatomo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520782/original/001156700_1782448403-turki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5378177/original/005816700_1760215354-Spain_s_Mikel_Oyarzabal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257100/original/080406300_1781208059-selebrasi_julian_quinones_meksiko_afrika_selatan_ap_eduardo_verdugo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520243/original/086003700_1782447581-063_2283364709.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519978/original/083186800_1782447080-063_2283364620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2748581/original/016857400_1552342962-penatagon.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8440972/original/063692400_1782333943-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8408666/original/027545800_1782291949-WhatsApp_Image_2026-06-23_at_18.58.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4347729/original/082024200_1678087558-20230306-Ekonomi-China-AP-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8356237/original/053964100_1782231067-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258474/original/070070600_1781346469-AP26163500989479.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4624471/original/065960600_1698291635-ilya-cher-UHFTNwaQg9o-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3446275/original/059417200_1620013831-eric-prouzet-UipokEnGOyE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3314597/original/073889600_1606993116-20201203-Kementan-Targetkan-8_2-Juta-Hektare-Sawah-untuk-20-Juta-Ton-Beras-2.jpg)