16 Januari 2001: Ketegangan Militer di Kongo Berujung Penembakan Presiden Kabila

Konflik pemegang kekuasaan negara semakin panas di Kongo akibat adanya ketidakstabilan di militer hingga penembakan presiden Kabila.

Diterbitkan 16 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kinshasa - Presiden Republik Demokratik Kongo, Laurent Kabila, secara mendadak ditembak oleh salah satu pengawalnya sendiri. Insiden penembakan tersebut terjadi pada 16 Januari 2001 di rumah presiden yang berada di puncak bukit di Kinshasa atau dikenal sebagai Istana Marmer.

Meski dengan penjagaan ketat oleh tentara dan tank, dua peluru mengenainya—di punggung dan kaki—pelaku dari aksi penembakan itu dilakukan oleh pengawalnya sendiri selama pertemuan dengan para jenderal tentara yang telah dipecatnya, menurut Menteri Luar Negeri Belgia, Louis Michel, yang dilaporkan BBC, Jumat (16/1/2026).

Dalam kondisi kritis, ia segera dilarikan ke rumah sakit utama di Kinshasa menggunakan helikopter yang dijaga ketat. Insiden penembakan ini terjadi diakibatkan adanya ketidakpuasan di dalam militer telah meningkat selama setahun terakhir.

Perselisihan dalam perebutan kendali dalam militer ini pun menyebabkan munculnya dua faksi utama yang bersaing memperebutkan kekuasaan tersebut.

Salah satu faksi bahkan dipimpin oleh putra Kabila sendiri, Joseph, sementara otoritas pusat dalam komando militer menjadi kacau dan kehilangan arah. Pada akhirnya, situasi kacau ini membuat struktur kepemimpinan tentara melemah, sehingga konflik internal menjadi semakin serius hingga dua peluru yang dilepaskan kepada Kabila membuatnya hanya mampu bertahan selama dua hari.

Dilansir dari ABC News, pemerintah mengumumkan meninggalnya presiden Kongo pada 18 Januari 2001 di usia 59 tahun pukul 10 pagi waktu setempat melalui Menteri Komunikasi, Dominique Sakombi, dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan melalu saluran resmi milik negara.

 

Perpindahan Kekuasaan Negara

Situasi kepemimpinan yang kosong ini segera diambil alih oleh putranya, untuk menjaga kelangsungan pemerintahan. Namun, kekosongan dan pergantian yang mendadak di tengah negara yang sedang dilanda konflik bersenjata membuat kekacauan politik meningkat.

Hal ini dikarenakan sejak pelantikannya pada 1997, yang sebelumnya pada 1996 melawan presiden Mobutu Sese Seko yang sedang sakit dengan dukungan dari Rwanda dan Uganda, sehingga menyebabkan ketidakstabilan situasi pemerintahan di Kongo setelah berhasil mengambil alih kekuasaan tersebut pada 1998.

Situasi pada tahun itu pun memicu perpecahan militer di Kongo, dengan beberapa faksi membentuk dua sisi yang berbeda, yaitu ada yang tetap setiap kepada Kabila, sementara faksi lain mulai saling berebut kendali.

Dengan demikian, penembakan yang terjadi kepadanya ini menandai ketidakstabilan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun, menandai periode yang semakin buruk di bawah pemerintahan Kabila.