Trump Sebut AS Akan Terhina Jika Dirinya Tak Dianugerahi Nobel Perdamaian

Apa alasan Trump menyebut dirinya layak menerima Nobel Perdamaian?

Diterbitkan 01 Oktober 2025, 16:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (30/9/2025) menyatakan bahwa akan menjadi sebuah penghinaan bagi negaranya jika ia tidak dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.

Hal ini ia sampaikan setelah mengklaim telah membantu mengakhiri tujuh konflik global, dikutip dari laman The Gill, Rabu (1/10).

Trump juga menyinggung konflik terbaru di Gaza antara Israel dan Hamas. Ia berharap pertempuran tersebut dapat diakhiri melalui rencana perdamaian 20 poin yang ia susun dan telah mendapat dukungan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Jika tercapai, Trump menyebut dirinya akan menuntaskan delapan konflik dalam delapan bulan.

“Jika ini berhasil, kita akan punya delapan, delapan dalam delapan bulan. Itu cukup bagus. Tidak ada yang pernah melakukan itu. Apakah saya akan mendapat Hadiah Nobel? Tentu saja tidak,” ujar Trump saat berpidato di hadapan puluhan jenderal dan laksamana senior di Quantico, Virginia.

Trump melanjutkan, “Mereka (Komite Nobel) akan memberikannya kepada orang yang tidak melakukan apa pun. Mereka akan memberikannya kepada orang yang hanya menulis buku tentang pemikiran Donald Trump dan bagaimana menyelesaikan perang. Hadiah Nobel akan diberikan kepada seorang penulis.”

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa yang ia inginkan bukanlah penghargaan pribadi, melainkan pengakuan untuk negaranya.

“Mari kita lihat apa yang terjadi. Tapi jika tidak, itu akan menjadi penghinaan besar bagi negara kita. Saya tidak menginginkannya untuk saya pribadi, saya ingin negara ini mendapatkannya. Karena belum pernah ada yang seperti ini,” ucapnya.

 

Rencana Perdamaian Gaza

Rencana Trump yang telah disampaikan ke Hamas melalui Qatar dan Mesir itu mencakup pembentukan “dewan perdamaian” internasional untuk mengatur dan membangun kembali Jalur Gaza. Netanyahu menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut, namun menegaskan tetap akan melanjutkan operasi militer jika Hamas menolak persyaratan yang diajukan.

Sejumlah negara, termasuk Pakistan, Indonesia, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Turki, Arab Saudi, dan Qatar, turut menyatakan dukungan, meski mengakui bahwa kesepakatan masih jauh dari kata final.

Trump belakangan aktif menggalang dukungan internasional terkait pencalonannya sebagai penerima Nobel Perdamaian. Ia mengklaim sudah menerima nominasi dari Pakistan, Kamboja, Israel, serta beberapa anggota parlemen Partai Republik.

Gedung Putih sendiri secara terbuka menyatakan “sudah waktunya” Trump meraih Nobel, sembari menunggu keputusan Komite Nobel Norwegia yang dijadwalkan diumumkan pada Desember mendatang.