Kisah Seniman Suriname Belajar Pewarnaan Batik Alami hingga ke Yogyakarta

Pertemuan Sri dengan seorang pembatik di Yogyakarta membuka pengetahuan baru yang membuatnya dengan cepat jatuh hati.

Diperbarui 18 September 2025, 09:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sri Irodikromo, seniman ternama asal Suriname keturunan Jawa, punya ketertarikan mendalam pada batik. Hal ini terlihat dalam perjalanan liburannya ke Indonesia, termasuk Yogyakarta.

Sebelum berangkat, Sri lebih dulu menyambangi KBRI Paramaribo pada Agustus. Di sana dia bercerita tentang rencananya berlibur sekaligus bertanya soal sanggar batik.

Pihak KBRI Paramaribo kemudian mengenalkannya kepada Nuri Ningsih Hidayati, peneliti di Balai Penelitian Batik Yogyakarta sekaligus pemilik Batik Marenggo, yang kerap tampil di pameran INACRAFT maupun di luar negeri.

Sri pun berangkat ke Indonesia pada 6 September via Jakarta sebelum lanjut ke Yogyakarta. Pada 15-16 September, dia bertemu Nuri di sanggarnya di Moro Bangun, Jogotirto, Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Di sana dia menyaksikan contoh warna dan teknik pewarnaan alami yang diterapkan Nuri.

Ketertarikan Sri pada teknik pewarnaan alami begitu besar, hingga keesokan harinya dia kembali ke sanggar untuk mengikuti workshop pewarnaan batik dengan bahan-bahan dari alam.

"Kembali ke dasar… bagaimana membuat warna tekstil," ujarnya.

 

 

Lebih Ramah pada Alam

Di Suriname sendiri, Sri membuka kursus batik. Sanggar seninya bernama Soeki Irodikromo Volksacademie voor Kunst & Cultuur.

Setelah perkenalannya dengan Nuri, dia bertekad akan menerapkan ilmu yang didapat di Suriname.

"Kita bisa membuat warna dari pohon dan tanaman yang tumbuh di Suriname… tanpa cat kimia… yang tidak baik bagi kesehatan kita maupun alam," imbuhnya.

Perjalanan singkat ke Yogyakarta pun meninggalkan kesan mendalam. Bagi Sri, pengalaman ini bukan sekadar liburan, melainkan bekal penting untuk menghidupkan tradisi batik di Suriname dengan cara yang lebih ramah bagi manusia dan lingkungan.