Liputan6.com, Kathmandu - Papan tulis yang berisi daftar nama pasien di sebuah rumah sakit di pusat Kathmandu, Nepal, menceritakan kisah tentang sebuah protes yang berakhir dengan tragis. Di samping setiap nama, tertulis usia mereka: 18, 22, 20, 18, 23. Daftarnya terus berlanjut.
Hingga Kamis (11/9/2025), masih ada ratusan anak muda Nepal yang dirawat karena luka tembak dan cedera lain setelah polisi melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa di Kathmandu pada Senin lalu.
Mereka dikenal sebagai para demonstran Generasi (Gen) Z, anak-anak muda Nepal yang memimpin aksi besar menentang korupsi, nepotisme, dan larangan penggunaan situs media sosial (medsos). Mereka membayar mahal, dengan luka tembak dan bahkan nyawa. Mengutip kantor berita Anadolu, terdapat 1,368 orang terluka dan sedikitnya 34 orang diyakini tewas.
Advertisement
Dari ranjang rumah sakitnya, Saurav, seorang mahasiswa berusia 18 tahun, bercerita bahwa dia sangat bersemangat ikut turun ke jalan.
"Kalau sudah bicara tentang bangsa, tidak perlu motivasi. Para politikus hanya menjual negara untuk keserakahan mereka sendiri. Itu seharusnya tidak terjadi," kata dia seperti dilansir The Guardian.
Saurav bersikeras bahwa kericuhan yang pecah sebelum polisi melepaskan tembakan ke arah kerumunan besar di luar gedung parlemen Kathmandu pada Senin (8/9/)bukanlah ulah gerakan mereka, melainkan dipicu kelompok lain dari luar pergerakan anti-korupsi.
Ketika suara tembakan mulai terdengar, Saurav mengisahkan, seorang pengunjuk rasa di depannya terkena peluru di dada dan tewas seketika. Pecahan peluru mengenai tangannya.
"Saya menjerit kesakitan dan teman-teman membawa saya ke rumah sakit ini … Itu sama sekali tidak perlu. Membunuh orang, menurut saya itu bukan kemanusiaan. Itu menjijikkan," ujarnya.
Pada Selasa (9/9) sore, Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri. Ribuan warga Nepal tumpah ke jalan, merayakan kejatuhannya dan melampiaskan amarah atas pembunuhan para pengunjuk rasa sehari sebelumnya. Dan Oli bukan satu-satunya pejabat pemerintah yang memutuskan mundur.
Awalnya, suasana dipenuhi euforia. Banyak yang merasa inilah akhir dari korupsi pemerintah yang merajalela, bercampur dengan rasa getir atas korban jiwa yang berjatuhan.
Selama 10 tahun terakhir, Nepal dipimpin oleh tiga tokoh tua yang sama – Oli, Sher Bahadur Deuba, dan Pushpa Kamal Dahal – yang silih berganti menduduki kursi perdana menteri. Tercatat, mereka sudah 12 kali memimpin negeri itu secara bergantian. Aksi protes kali ini mungkin dipicu oleh kebijakan pemerintah yang melarang puluhan situs medsos pekan lalu, namun sebenarnya bertumpu pada akumulasi kekecewaan dan kemarahan bertahun-tahun terhadap para politikus yang dianggap korup dan mementingkan diri sendiri.
Sekitar pukul 16.00 waktu setempat, jalan-jalan utama menuju jantung kota dipenuhi pengunjuk rasa, banyak yang datang dengan sepeda motor, meneriakkan slogan, bersorak, dan mengibarkan bendera Nepal, menentang jam malam yang diberlakukan pemerintah. Banyak lainnya berdiri di tepi jalan, merekam momen itu dan berswafoto, merasakan bahwa mereka sedang menyaksikan sejarah tercipta.
Kemarahan terbesar diarahkan pada Oli. Coretan tulisan tangan di dinding dan kaus-kaus bertuliskan tuntutan agar dia dihukum mati.
"Dia membunuh anak-anak muda kami. Dia seharusnya mati," kata seorang pengunjuk rasa.
Pusat perhatian massa tertuju pada Singha Durbar, kompleks kementerian pemerintah, yang kemudian berhasil mereka jebol dan bakar. Sebuah mobil van polisi bahkan berhasil mereka bawa keluar dari gerbang utama, dengan puluhan pengunjuk rasa berdiri di atapnya. Tiga pemuda memanjat gerbang berornamen megah untuk mengibarkan bendera nasional. Di bawahnya, sekelompok orang menyanyikan lagu kebangsaan. Sejumlah kecil tentara hanya berdiri mengawasi tanpa banyak campur tangan. Polisi sama sekali tidak terlihat.
Asap tebal yang menyengat membubung tinggi, menutupi jalanan dan kota. Beberapa pengunjuk rasa keluar dari gedung yang terbakar sambil membawa tumpukan kertas, kursi kantor, dan monitor komputer.
"Ini revolusi. Ini akhir dari korupsi. Sekarang giliran kami," kata Sujan Dahal, seorang pemuda Nepal yang merayakan kejatuhan perdana menteri di Kathmandu pada Selasa. "Pemerintah sangat korup. Mereka menggunakan uang itu untuk memperbaiki hidup mereka sendiri, namun tidak ada perubahan dalam kehidupan rakyat biasa."
Menjelang akhir hari, skala kehancuran membuat banyak warga Nepal terkejut, muncul perasaan bahwa gerakan ini telah disabotase oleh kelompok-kelompok yang tampak haus balas dendam dan kekerasan.
"Saya merasa tidak enak. Ini tidak baik untuk kita," kata seorang pemuda yang enggan menyebutkan namanya.
Selain gedung-gedung pemerintahan dan rumah dinas, puluhan properti lain ikut dibakar, termasuk sebuah hotel mewah dan sekolah swasta ternama.
Sepanjang hari, sejumlah kelompok pengunjuk rasa membentuk rantai manusia untuk melindungi beberapa lokasi, termasuk pintu masuk ke markas tentara.
"Kami melindungi tentara. Kami bukan melawan tentara. Kami melawan pemerintah. Melawan korupsi. Mereka mencoba membungkam suara kami dengan menutup media sosial. Hari ini kami menang. Ini kemenangan kami. Oli sudah mengundurkan diri," kata Sajad Ansari (20).
Rabu (10/9) pagi, jantung administratif Kathmandu tampak seperti baru saja dihantam rudal. Gedung-gedung terbakar masih berasap di bawah gerimis. Rangka mobil dan sepeda motor yang hangus berserakan di jalanan. Asap hitam pekat masih membubung di langit kota.
Kota kini hampir sepenuhnya terkunci, dengan tentara berjaga di persimpangan besar untuk menegakkan jam malam ketat. Masa depan pemerintahan belum jelas.
Namun, harapan tetap hidup di hati banyak anak muda seperti Saurav, meski masih dalam pemulihan.
"Kalau kekuasaan berada di tangan yang tepat, tentu Nepal akan berkembang," tuturnya. "Generasi muda kita sangat mampu. Kami tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri. Kami memikirkan kebaikan bangsa."
Frustasi Gen Z yang Melampaui Larangan Medsos
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342228/original/042053000_1757387135-Untitled.jpg)
Para demonstran Gen Z di Nepal turun ke jalan dengan penuh gaya.
Aksi yang mereka rancang lewat Instagram, Facebook, dan Discord itu menjadi ajang unjuk diri generasi baru yang ingin tampil percaya diri sambil menantang wajah lama politik Nepal yang dianggap tidak mau berubah. Lalu, mengapa tidak sekalian tampil keren?
"Generasi kami suka slay," kata Tanuja Pandey, seorang pengorganisir demo Gen Z sekaligus lulusan universitas baru-baru ini, menggunakan istilah gaul untuk tampil maksimal, seperti dikutip NY Times. "Itu senjata rahasia kami."
Namun, seperti yang diceritakan tiga pengunjuk rasa yang ikut turun ke jalan, suasana unjuk rasa berubah drastis.
Ketika massa berbaris menuju Everest Hotel pada Senin, sejumlah pria datang dengan sepeda motor dan truk, mengibarkan bendera Nepal. Mereka berteriak dengan slogan-slogan ekstremis dan menerobos barikade menuju zona terlarang. Penampilan mereka jauh dari kesan "slay".
Tidak lama kemudian, kebakaran dan penjarahan pecah. Bagi para demonstran Gen Z, peristiwa itu mengejutkan karena sejak awal mereka sudah memperingatkan ribuan pengikut di media sosial untuk tidak bertindak dengan kekerasan.
Pada hari berikutnya, sebagian anak muda memilih menjauh dari jalanan. Namun, ibu kota justru makin kacau. Gedung-gedung terbakar, hotel dilalap api, bandara sempat ditutup karena asap menutupi landasan pacu. Rumah dan kantor pejabat pemerintah diserang.
"Membunuh orang, merobohkan bangunan, melakukan vandalisme, menjarah—ini bukan generasi kami," ujar Pandey. "Kami menginginkan kemajuan, bukan mendorong keadaan mundur setidaknya 10 tahun, karena sekarang semuanya sudah hancur."
Pandey mengatakan dirinya bersama para pengunjuk rasa lain bertemu dengan Kepala Angkatan Darat Jenderal Ashok Raj Sigdel untuk meyakinkannya bahwa serangan pembakaran massal tidak datang dari gerakan mereka. Pertemuan dengan pejabat militer berlanjut sehari kemudian.
Kini para demonstran menghadapi tantangan baru: bagaimana menyatukan pesan dan memperjuangkan tuntutan mereka, sementara para pengorganisir enggan tampil ke depan. Di media sosial, akun-akun yang menamakan diri sebagai representasi gerakan Gen Z menyerukan warga untuk membersihkan jalan atau tetap tinggal di rumah menjauhi keributan.
Pandey sendiri tumbuh sebagai putri seorang guru dan ibu rumah tangga di Nepal timur. Dia menempuh studi hukum di Kathmandu dengan impian besar, bagian dari gelombang muda terdidik yang ingin membawa perubahan. Namun, tawaran kerja yang datang padanya hanya sekitar USD 140 atau sekitar Rp2,3 juta per bulan, jumlah yang tidak cukup untuk hidup di kota.
Tiga lulusan universitas lain yang ikut demonstrasi mengaku merasakan hal serupa: jurang antara harapan mereka dan kenyataan pasar kerja membuat frustrasi. Sementara itu, gaya hidup konsumtif yang mencolok dan praktik korupsi yang dianggap biasa mempertegas jurang kesenjangan.
Pandey juga mengatakan bahwa keluarganya kini menjadi sasaran karena perannya dalam aksi.
"Saya berharap suatu hari nanti mereka akan bangga kepada saya," tutur dia tentang kedua orang tuanya, sambil suaranya tercekat menahan tangis. "Karena sekarang, semua orang menyalahkan kami, generasi kami, atas sesuatu yang tidak kami lakukan."
Seorang mahasiswa universitas yang turut mengorganisir protes mengungkapkan dia tidak pernah membayangkan perjuangan melawan larangan media sosial akan berakhir dengan luka begitu dalam bagi kota tempat tinggalnya.
"Yang kami inginkan hanyalah melawan sistem yang korup," tegas Pandey. "Namun, kami tidak mampu mengendalikan keadaan dan kini trauma kolektif ini akan terus tertanam dalam ingatan kami selamanya."
Â
Advertisement
Pemerintah Sudah Tumbang, Selanjutnya Apa?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5345407/original/066082300_1757562639-2.jpg)
Sehari setelah pengunduran diri KP Sharma Oli, seruan untuk dialog damai menggema. Militer meminta semua pihak menahan diri, Presiden Ramchandra Paudel mendesak kaum muda untuk datang berbicara. Namun, di jalanan, tumpukan puing hangus dan bangunan yang masih berasap menjadi pengingat bahwa luka kota ini belum sembuh.
Di tengah kekosongan kepemimpinan, muncul dorongan agar mantan hakim agung Sushila Karki memimpin pemerintahan interim. Nama itu banyak digaungkan oleh demonstran, meski peluang tersebut tidak mudah diwujudkan karena terbentur aturan hukum dan tarik-menarik kepentingan politik.
Harapan akan perubahan kini berpacu dengan rasa takut. Sebagian anak muda menuntut agar wajah-wajah baru dari generasi mereka ikut masuk ke dalam lingkar kekuasaan.
"Saya pikir Nepal siap melihat wajah-wajah muda berdampingan dengan yang berpengalaman," kata Sahadev Khatry, seorang pengacara muda, seperti dikutip CNN.
Namun, bayang-bayang represif masih ada.
"Ini sangat kacau. Semua grup WhatsApp penuh dengan diskusi dan ketakutan," ujar seorang mahasiswa hukum berusia 24 tahun. "Kami takut para mahasiswa yang turun dengan damai akan menjadi sasaran."
Dia menambahkan, banyak yang juga cemas pada bagaimana kelas politik—yang baru saja diguncang tantangan terbesar dalam beberapa tahun—akan merespons situasi ini.
Bagi generasi yang telah kehilangan kawan-kawan sebayanya di jalanan, kemenangan yang dirayakan tidak sepenuhnya menghadirkan lega. Yang tersisa kini adalah pertanyaan besar: apakah darah dan keberanian mereka akan membuka jalan bagi masa depan baru atau justru ditelan oleh ketidakpastian politik yang belum usai?
Yang pasti, ini bukan pertama kalinya Nepal menghadapi gelombang besar protes mahasiswa. Sejarah politik modernnya sarat dengan pergerakan kaum muda, campur tangan raja, dan lingkaran kekerasan—termasuk perang saudara selama satu dekade.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/535776/original/009019900_1469705798-share.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5343646/original/017268300_1757466527-4.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260726/original/045162900_1781650279-Mohammad_Mohebi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260101/original/022902800_1781568480-063_2281783911.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260720/original/014464000_1781645481-HK9wcDqXAAAOMgO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571518/original/019032300_1777628631-Tips_Jual_Beli_HP_Bekas_Aman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4295762/original/070036900_1674104872-ilustrasi_korupsi.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4244425/original/068669400_1669778962-ilustrasi_korupsi.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8422104/original/033931900_1782308866-598508485_18496923889078171_7455892634430590830_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5544377/original/099043800_1775102405-BPJS_Ketenagakerjaan.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3934854/original/013210600_1644918542-20220215-PENCAIRAN-JHT-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5533582/original/000661600_1773744865-IMG_2841.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5763398/original/043311900_1778666345-5.jpg)