Paus Leo XIV Resmikan Carlo Acutis sebagai Santo Milenial Pertama

Proses Carlo Acutis menuju kanonisasi tergolong sangat cepat dibandingkan dengan calon santo lain, yang biasanya memakan waktu sangat lama, yakni bisa puluhan bahkan ratusan tahun.

Diperbarui 08 September 2025, 16:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Vatican City - Setiap tahun, jutaan umat Katolik muda datang berziarah ke kota kecil Assisi di Italia tengah untuk menghormati Carlo Acutis, remaja Italia yang dikenal secara informal sebagai influencer Tuhan.

Remaja berusia 15 tahun yang jago komputer ini pada hari Minggu (7/9/2025) menjadi santo milenial pertama dalam Gereja Katolik, memberikan generasi Katolik berikutnya sosok teladan yang dapat mereka relasikan, yang menggunakan teknologi untuk menyebarkan iman.

Paus Leo XIV mengkanonisasi Carlo, yang meninggal pada 2006, dalam sebuah Misa terbuka di Lapangan Santo Petrus di hadapan sekitar 80.000 orang, banyak di antaranya adalah kaum milenial serta pasangan dengan anak-anak kecil. Leo juga mengkanonisasi sosok Italia populer lainnya yang meninggal muda, Pier Giorgio Frassati.

Bapa Suci mengatakan kedua pria itu menciptakan "mahakarya" dari hidup mereka dengan mendedikasikannya bagi Tuhan.

"Risiko terbesar dalam hidup adalah menyia-nyiakannya di luar rencana Tuhan," kata Paus Leo XIV dalam homilinya seperti dilansir CBS News.

"Para santo baru itu adalah ajakan bagi kita semua, khususnya kaum muda, untuk tidak menyia-nyiakan hidup, tetapi mengarahkannya kepada hal-hal yang luhur dan menjadikannya sebuah mahakarya."

 

Siapa Carlo Acutis?

Carlo lahir pada 3 Mei 1991 di London dari keluarga Italia yang kaya. Tak lama setelah kelahirannya, keluarganya kembali ke Milan. Menurut berbagai laporan, dia menikmati masa kecil yang bahagia dan normal, meski sejak dini terlihat semakin kuat dalam penghayatan iman.

Dia meluncurkan dan mengelola sebuah situs web untuk parokinya, kemudian juga untuk sebuah akademi yang berbasis di Vatikan. Dengan keterampilan komputernya, dia menciptakan basis data daring mengenai mukjizat Ekaristi di seluruh dunia, yang kini tersedia dalam hampir 20 bahasa. Situs itu memuat informasi tentang 196 peristiwa dalam sejarah gereja yang dianggap tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, semuanya berkaitan dengan Ekaristi yang diyakini umat Katolik sebagai tubuh Kristus.

"Carlo sangat menyadari bahwa seluruh perangkat komunikasi, iklan, dan jejaring sosial bisa digunakan untuk meninabobokan kita, membuat kita kecanduan konsumerisme dan selalu membeli barang terbaru di pasaran," tulis mendiang Paus Fransiskus dalam sebuah dokumen tahun 2019. "Namun, dia tahu bagaimana menggunakan teknologi komunikasi baru untuk mewartakan Injil, menyampaikan nilai-nilai, dan menghadirkan keindahan."

Carlo dikenal menghabiskan berjam-jam setiap hari berdoa di hadapan Ekaristi, sebuah praktik yang disebut adorasi Ekaristi.

"Itu adalah janji harian yang tak pernah ia lewatkan," kata ibunya, Antonia Salzano, dalam sebuah film dokumenter yang ditayangkan Jumat malam di seminari Amerika Serikat di Roma.

Pada Oktober 2006, saat berusia 15 tahun, Carlo jatuh sakit dan segera diketahui menderita leukemia akut. Dia meninggal di Monza, Italia, hanya beberapa hari setelah diagnosis. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Assisi dan kini dipajang secara terbuka bersama berbagai relikui yang dikaitkan dengannya.

 

Jalur Cepat Menuju Kanonisasi

Dengan mengenakan jeans, sepatu Nike, dan sweatshirt, serta kedua tangannya menggenggam rosario, Carlo telah menimbulkan ketenaran bak bintang rock di kalangan umat muda—sesuatu yang sudah lama tidak terlihat dalam Gereja Katolik.

Makam Carlo bisa dilihat secara daring melalui webcam bagi mereka yang tak bisa berziarah langsung, sesuatu yang bahkan tidak berlaku bagi makam para paus di Basilika Santo Petrus.

Perjalanan Carlo menuju kanonisasi dimulai lebih dari 10 tahun lalu, diinisiasi oleh sekelompok imam dan sahabatnya, dan secara resmi berkembang tak lama setelah Paus Fransiskus menjabat sebagai paus pada 2013.

Carlo diberi gelar venerabilis pada 2018 setelah gereja mengakui kehidupannya yang penuh kebajikan dan jasadnya dipindahkan ke sebuah tempat ziarah di Santuario della Spogliazione di Assisi, Italia—lokasi penting yang terkait dengan kehidupan Santo Fransiskus.

Remaja itu dibeatifikasi pada 2020—tahap pertama menuju kanonisasi—setelah dirinya dikaitkan dengan mukjizat penyembuhan seorang anak Brasil dari penyakit bawaan yang menyerang pankreasnya.

Tahun lalu, Paus Fransiskus menyetujui mukjizat kedua yang dibutuhkan agar Carlo dapat diangkat sebagai santo. Mukjizat kedua itu berupa kesembuhan seorang mahasiswa di Florence yang mengalami pendarahan otak setelah cedera kepala dalam kecelakaan sepeda.

Paus Fransiskus dan para kardinal yang bermukim di Roma secara resmi menyetujui kanonisasinya pada Juli 2024.

Kanonisasi—yang menjadi yang pertama bagi Paus Leo XIV—awalnya dijadwalkan berlangsung lebih awal tahun ini, namun ditunda setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April.

Frassati, santo lain yang dikanonisasi pada hari Minggu, hidup pada 1901–1925 dan meninggal dunia pada usia 24 tahun karena polio. Dia lahir dalam keluarga terkemuka di Turin, namun dikenal karena pengabdiannya dalam melayani orang miskin dan melakukan berbagai karya amal sambil menularkan iman kepada sahabat-sahabatnya.

 

Â