Membaca, Hobi Seumur Hidup Presiden China Xi Jinping

Koper Xi Jinping muda berat dengan bawaan buku. Apa saja karya-karya yang dibacanya?

Diterbitkan 26 Agustus 2025, 07:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Setiap pemimpin dunia punya sisi pribadi yang jarang terlihat. Ada yang menyalurkan waktu luang lewat olahraga, musik, atau seni. Ada pula yang menemukan ketenangan dalam kebiasaan sederhana.

Bagi Presiden China Xi Jinping, kebiasaan itu adalah membaca. Hobi ini sudah menjadi bagian hidupnya di berbagai tahap kehidupan, mulai dari masa mudanya di Dataran Loess, saat dia menjalani penugasan di tingkat akar rumput, hingga kini ketika dia mengabdi sebagai pemimpin tertinggi China.

"Saya punya banyak hobi. Saya paling suka membaca. Membaca sudah menjadi bagian hidup saya," kata Presiden Xi dalam sebuah wawancara pada 2013, seperti dilansir China Daily.

Sejak kecil, Xi sudah tersentuh oleh jiwa patriotik Yue Fei, pahlawan nasional dari Dinasti Song (960–1279), ketika dia mendengarkan kisahnya yang dibacakan dari sebuah buku bergambar.

Dari masa kanak-kanak hingga dewasa, buku terus menjadi sahabat baik bagi Xi.

Pada 1969, ketika Xi tiba di Desa Liangjiahe di Provinsi Shaanxi sebagai seorang "pemuda terdidik", dia datang dengan membawa koper-koper berat berisi buku.

Pemuda terdidik adalah sebutan bagi anak muda lulusan sekolah di kota yang pada masa Revolusi Kebudayaan dikirim ke desa-desa untuk bekerja dan belajar dari rakyat.

Di sana, Xi membenamkan diri dalam karya-karya klasik dunia, bukan hanya dari koleksi pribadinya, namun juga dari buku-buku pinjaman. Xi begitu bersemangat membaca sampai-sampai dia melakukannya saat makan, di bawah cahaya lampu minyak tanah pada malam hari, bahkan di sela-sela istirahat dari pekerjaan bertani di ladang.

Pujian Sahabat Xi

Kebiasaan itu tidak pernah surut, bahkan ketika Xi menjalankan tugas di berbagai daerah. Di Xiamen, Fujian, maupun di Zhengding, Hebei, dia kerap berdiskusi dengan intelektual lokal tentang Das Kapital dan karya sastra Rusia.

Saat memimpin di Zhejiang awal 2000-an, Xi semakin akrab dengan khazanah klasik China. Kutipan dari Kitab Ritus, Catatan Sejarawan Agung, hingga Kitab Mencius kerap menghiasi tulisan-tulisannya di surat kabar lokal maupun pidato-pidatonya.

Dia juga mendalami catatan sejarah kuno suatu daerah sebagai landasan dalam menyusun rencana pembangunan.

"Meski belum lama di sini, dia sudah mampu berdiskusi mendalam tentang sejarah dan budaya Zhengding. Para intelektual lokal dibuat terkejut oleh keluasan bacaan dan kemampuannya menyerap pengetahuan baru," ungkap penulis Jia Dashan, sahabat Xi di Zhengding.

Dalam wawancara tahun 2014, Xi menuturkan, "Membaca menyegarkan pikiran saya, memberi inspirasi, dan menumbuhkan kekuatan moral saya."

Dia pernah menyebut Manifesto Komunis sebagai sebuah khazanah teoretis yang kaya.

"Kita bisa terus-menerus memperoleh nutrisi spiritual darinya melalui pembacaan yang berulang dan mendalam," kata dia.

 

Pesan Xi kepada Rakyat China

Saat mengutip bait puisi Rabindranath Tagore ketika berkunjung ke India, Xi mengatakan baris-baris indah penuh kebijaksanaan filosofis itu sangat menginspirasinya.

Ketika berpidato di London pada 2015, Xi membicarakan karya-karya William Shakespeare yang pernah dia baca, sekaligus mengungkapkan kekagumannya pada alur cerita yang menarik, tokoh-tokoh yang hidup, serta kedalaman emosi dalam buku-buku Shakespeare.

Dia juga memuji novel Les Misérables karya penulis Prancis Victor Hugo dan A Hero of Our Time karya penulis Rusia Mikhail Lermontov, di antara permata sastra lainnya.

Dalam surat ucapan selamatnya untuk First National Conference on Reading pada 2022, Xi menuliskan, "Membaca adalah jalur penting bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan, memperluas kebijaksanaan, dan menumbuhkan kebajikan. Membaca mencerahkan kita, membantu kita bercita-cita tinggi dan berdiri tegak."

First National Conference on Reading adalah sebuah forum tingkat nasional di China yang untuk pertama kalinya secara khusus membahas gerakan membaca di seluruh negeri.

"Sejak zaman kuno, rakyat China menjunjung tinggi tradisi membaca, menekankan pentingnya mencari pengetahuan dengan mempelajari hakikat segala sesuatu, sekaligus memperbaiki batin melalui pemikiran yang tulus. Membaca membantu rakyat China melanjutkan semangat tradisional dalam ketekunan serta membentuk karakter percaya diri dan mandiri," tambahnya.

"Saya menyerukan kepada anggota partai dan para pejabat untuk menjadi teladan dalam membaca dan belajar, menumbuhkan kebajikan serta cita-cita, dan terus meningkatkan kemampuan. Saya berharap anak-anak kita tumbuh sehat dengan kebiasaan membaca, menikmati bacaan, dan mencintai kegiatan membaca. Saya juga berharap seluruh rakyat ikut terlibat dalam membaca, sehingga tercipta suasana di mana setiap orang mencintai membaca, memiliki buku-buku yang baik untuk dibaca, dan mampu memperoleh manfaat darinya."