Anak Ukraina Dipaksa Mencintai Rusia Lewat Bendera hingga Lagu?

Anak-anak Ukraina di wilayah pendudukan Rusia dipaksa ikut nyanyikan lagu kebangsaan Rusia, berlatih militer, dan bahkan dibawa ke Rusia.

Diterbitkan 21 Juli 2025, 13:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kyiv - Anak-anak di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia dilaporkan menjadi sasaran utama kampanye ideologis dan militerisasi yang masif.

Melalui sekolah-sekolah, organisasi pemuda, dan kegiatan budaya, mereka diajarkan untuk mencintai Rusia sejak usia dini—seringkali dengan cara yang memaksa dan kontroversial.

Di sebuah taman kanak-kanak di Luhansk, lebih dari 70 anak terlihat mengangkat bendera militer Rusia berwarna hitam-oranye dalam bentuk huruf Z, simbol yang diasosiasikan dengan invasi Rusia ke Ukraina. Sementara itu, di Kota Anthracite, anak-anak membuat lilin parit dan selimut untuk tentara Rusia.

Mengutip BBC, Senin (21/7/2025), langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menghapus identitas nasional Ukraina dan menanamkan loyalitas kepada Rusia. Kampanye ini menjadi mungkin karena banyak guru Ukraina yang melarikan diri dari wilayah pendudukan, sehingga pemerintah Moskow menawarkan insentif hingga 2 juta rubel kepada guru Rusia yang bersedia pindah ke daerah tersebut.

Salah satu organisasi paling menonjol dalam kampanye ini adalah Yunarmia (Youth Army), sayap pemuda yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan Rusia. Anak-anak mulai usia delapan tahun dapat bergabung dan dilatih dengan keterampilan dasar militer. Di wilayah Zaporizhzhia yang diduduki, anak-anak diajari menembak di lapangan sekolah sambil diawasi tentara bersenjata lengkap.

"Anak-anak kami dilatih untuk memahami pentingnya tugas militer," ujar Fidail Bikbulatov, pemimpin Yunarmia setempat.

Bikbulatov sebelumnya mengepalai divisi "Youth Guard atau Penjaga Pemuda" dari partai berkuasa United Russia di Bashkortostan, Rusia.

Uni Eropa dan Inggris telah menjatuhkan sanksi kepada Yunarmia dan Bikbulatov karena dianggap terlibat dalam militerisasi dan indoktrinasi anak-anak Ukraina.

Selain Yunarmia, organisasi lain seperti "Movement of the First Ones" dan "Warrior" juga beroperasi, menyelenggarakan kompetisi bergaya Soviet seperti Zarnitsa, yang menguji literasi militer dan pemahaman sejarah Rusia.

 

 

Klaim Terhadap Ukraina

Kurikulum sekolah di wilayah pendudukan sepenuhnya mengikuti standar Rusia. Buku teks menyebut Ukraina sebagai ciptaan Barat dan membenarkan invasi 2022 sebagai langkah penyelamatan peradaban.

Seorang mantan siswa dari Donetsk, Lisa, menceritakan bahwa dirinya dipaksa menghadiri parade dan menghafal lagu kebangsaan Rusia demi kelulusan.

Di luar sekolah, anak-anak Ukraina dibawa ke pameran dan acara budaya yang menonjolkan kebanggaan terhadap Rusia dan operasi militernya. Pemerintah Rusia juga mengadakan program wisata besar-besaran yang membawa puluhan ribu anak ke wilayah Rusia, termasuk melalui program bernama "4+85", yang diklaim bertujuan "mengintegrasikan generasi baru ke dalam masyarakat Rusia yang bersatu".

Namun, tidak semua anak dikembalikan. Menurut pemerintah Ukraina, lebih dari 19.000 anak telah dideportasi secara paksa ke Rusia sejak invasi dimulai. Sebagian dari mereka ditempatkan di kamp-kamp re-edukasi. Inggris memperkirakan ada sekitar 6.000 anak yang ditempatkan dalam jaringan kamp tersebut.

Pakar hukum internasional menilai praktik ini sebagai pelanggaran terhadap hukum humaniter, termasuk Konvensi Jenewa yang melarang perekrutan atau indoktrinasi paksa anak-anak oleh kekuatan pendudukan.

Pada tahun 2023, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Presiden Vladimir Putin atas dugaan deportasi ilegal anak-anak.