Kamboja Tangkap Lebih dari 200 Warga Vietnam dalam Penumpasan Jaringan Penipuan Online

Kerugian akibat praktik penipuan online diperkirakan mencapai USD 40 miliar per tahun secara global.

Diterbitkan 17 Juli 2025, 10:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Phnom Penh - Pihak berwenang Kamboja menangkap lebih dari 200 warga Vietnam dalam serangkaian penggerebekan terhadap pusat-pusat penipuan daring. Pernyataan ini disampaikan oleh kepolisian pada Rabu (16/7/2025), menyusul instruksi langsung dari Perdana Menteri Hun Manet yang memerintahkan pemberantasan besar-besaran terhadap kejahatan siber.

Hun Manet mengeluarkan perintah tersebut pada Selasa (15/7), yang isinya menginstruksikan aparat penegak hukum dan militer mencegah dan memberantas penipuan online. Dia juga memperingatkan bahwa siapa pun yang gagal bertindak bisa kehilangan jabatannya. Demikian seperti dilansir CNA.

Menurut polisi, penggerebekan dilakukan pada Senin (14/7) dan Selasa di dua gedung di ibu kota Phnom Penh, yang diketahui digunakan oleh jaringan penipuan daring. Dari lokasi tersebut, polisi menangkap 149 warga Vietnam, tiga warga negara China, dan 85 warga Kamboja.

Sementara itu, di kota pesisir Sihanoukville, penggerebekan pada Selasa di empat lokasi berbeda menyebabkan 63 warga Vietnam ditangkap dan 54 komputer disita. Informasi ini tertuang dalam laporan polisi yang dilihat kantor berita AFP pada Rabu.

Fenomena pusat penipuan daring di Asia Tenggara telah menjadi perhatian dunia internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebut kawasan ini sebagai "ground zero" dari industri penipuan global. Dalam skema yang lazim, para pelaku biasanya menggunakan kedok hubungan asmara atau peluang bisnis untuk menipu pengguna media sosial. 

Skala Besar

Banyak dari yang diselamatkan dari pusat-pusat penipuan di Asia Tenggara mengaku bahwa mereka dijebak atau direkrut dengan tipu muslihat.

Laporan yang diterbitkan bulan lalu oleh Amnesty International menyebutkan, pelanggaran di pusat-pusat penipuan Kamboja terjadi dalam skala besar. Laporan tersebut menyatakan bahwa setidaknya ada 53 kompleks penipuan di Kamboja, tempat kelompok kriminal terorganisir melakukan perdagangan manusia, kerja paksa, pekerja anak, penyiksaan, perampasan kebebasan, dan perbudakan.

Pada Maret, Kamboja mendeportasi 119 warga Thailand – dari total 230 warga negara asing yang ditahan selama penggerebekan terhadap dugaan pusat-pusat penipuan siber di kota perbatasan Poipet.

Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) pada April lalu memperingatkan bahwa industri penipuan daring kini mulai meluas ke luar Asia Tenggara. Kelompok-kelompok kriminal disebut tengah membangun operasi baru di wilayah yang jauh, seperti Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, Eropa, hingga beberapa pulau di kawasan Pasifik. Â