Wamenlu Norwegia Tekankan Pentingnya Peran Perempuan Bagi Perdamaian dan Ekonomi

Norwegia menekankan pentingnya pengembangan kapasitas bagi perempuan sesuai dengan Rencana Aksi Nasional kelima negaranya tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan (WPS).

Diterbitkan 06 Mei 2025, 16:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Luar Negeri Norwegia Andreas Motzfeldt Kravik menekankan pentingnya peran perempuan dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan serta mendukung pertumbuhan ekonomi.

Hal ini ia sampaikan dalam kunjungannya ke Jakarta dalam rangka peringatan 10 tahun kemitraan ASEAN-Norwegia, serta partisipasinya dalam Simposium Regional tentang Perempuan dalam Proses Perdamaian yang diselenggarakan oleh ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (ASEAN-IPR).

Dalam pernyataannya, Kravik menyatakan kekagumannya atas langkah-langkah yang telah diambil negara-negara ASEAN dalam mengarusutamakan perempuan dalam agenda perdamaian dan keamanan.

"Saya sangat terkesan dengan semua yang dilakukan negara-negara ASEAN dalam hal perempuan, perdamaian, dan keamanan yang bergerak maju dengan keterlibatan yang diarahkan untuk menemukan perdamaian, menemukan rekonsiliasi antarnegara dan pemangku kepentingan non-negara," ujarnya dalam acara ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (ASEAN-IPR) Regional Symposium on Women in Peace Processes, di Jakarta, Selasa (6/5/2025). 

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan dan kredibilitas perjanjian damai sangat bergantung pada keterlibatan perempuan.

"Untuk membuat perjanjian damai bertahan dan memiliki legitimasi, perempuan harus menjadi bagian dari percakapan—bahkan menjadi bagian dari delegasi yang menciptakan perdamaian," tegasnya.

Norwegia sendiri baru saja meluncurkan Rencana Aksi Nasional kelima tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan (WPS). Kravik menyebut rencana tersebut sebagai pilar penting dalam strategi luar negeri Norwegia yang juga mencakup hak asasi manusia, perubahan iklim, serta penguatan masyarakat sipil.

"Kami sangat berkomitmen terhadap agenda WPS. Ini telah lama menjadi prioritas Norwegia dan kami senang melihat ASEAN juga menjadikan hal ini sebagai fokus utama," katanya.

Ia juga mengapresiasi peluncuran Rencana Aksi ASEAN tentang WPS pada tahun 2022 sebagai langkah besar menuju kesetaraan dan perdamaian inklusif di kawasan.

Tantangan Penguatan Peran Perempuan di ASEAN

Menanggapi tantangan penguatan kapasitas perempuan di ASEAN, Kravik mengakui bahwa semua negara menghadapi hambatan serupa, seperti keterbatasan pendanaan dan banyaknya prioritas nasional.

Namun ia menekankan bahwa agenda perempuan, perdamaian, dan keamanan harus menjadi prioritas utama pemerintah, bukan sekadar komitmen normatif.

"Kami menyampaikan secara tegas kepada mitra kami di Indonesia bahwa kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan supremasi hukum bukan hanya penting secara moral, tapi juga kunci pemerintahan yang efektif dan pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Norwegia menjadi contoh bagaimana ekonomi dapat tumbuh secara solid berkat inklusi perempuan dalam semua sektor kehidupan.

Menyinggung ambisi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen, Kravik mengingatkan, "Kalau ingin mencapai target itu, perempuan harus menjadi bagian dari solusinya."