Studi Ini Ungkap Bahaya Kimia Plastik bagi Kesehatan Jantung, Asia Paling Terdampak

Studi teranyar dari para peneliti di NYU Langone Health di AS menunjukkan bahan kimia plastik umum tertentu mungkin terkait dengan lebih dari 10% kematian akibat penyakit jantung pada orang dewasa berusia 55 hingga 64 tahun.

OlehDW
Diterbitkan 02 Mei 2025, 20:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

, Berlin - Produk plastik yang kita gunakan sehari-hari mungkin menyimpan ancaman serius bagi kesehatan jantung. Sebuah penelitian terbaru dari NYU Langone Health, Amerika Serikat, mengungkapkan kaitan mengkhawatirkan antara bahan kimia plastik dan penyakit kardiovaskular (CVD) yang menjadi pembunuh nomor satu global.

(Penyakit kardiovaskular mengacu pada gangguan yang melibatkan jantung dan pembuluh darah, seperti penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi, dan sebagainya.)

CVD menyebabkan 17.9 juta kematian tiap tahun (data WHO).

Studi teranyar dari para peneliti di NYU Langone Health di AS menunjukkan bahan kimia plastik umum tertentu mungkin terkait dengan lebih dari 10% kematian akibat penyakit jantung pada orang dewasa berusia 55 hingga 64 tahun.

Hasil riset yang dikutip dari DW Indonesia pada Jumat (2/5/2025) menyebut bahwa bahan kimia dalam plastik rumah tangga diduga kuat terkait peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung. Lalu didapati wilayah Asia, Timur Tengah, dan Pasifik mencatat dampak paling signifikan.

Riset tersebut juga mencatat perubahan pola penggunaan plastik harian dapat menekan risiko kesehatan.

Tim peneliti dari NYU Langone Health menganalisis data kesehatan global untuk meneliti dampak ftalat—bahan kimia yang digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas plastik. Fokus utama penelitian adalah DEHP (di-2-etilheksil ftalat), zat aditif yang banyak ditemukan dalam produk plastik sehari-hari.

Meski penelitian tidak membuktikan hubungan sebab-akibat langsung, hasil pemodelan menunjukkan korelasi yang signifikan antara paparan DEHP dan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Berdasarkan analisis mereka, diperkirakan paparan ftalat DEHP (di-2-etilheksil ftalat) mungkin telah menyebabkan 350.000 kematian pada tahun 2018.

Karena penelitian ini tidak dirancang untuk menetapkan apakah DEHP secara langsung menyebabkan penyakit jantung, mereka memperingatkan agar tidak menarik kesimpulan yang pasti.

"Idenya pada dasarnya adalah melacak paparan [terhadap DEHP]. Kami harus memodelkan paparan di seluruh dunia berdasarkan data yang tersedia, jadi, ada keterbatasan dalam apa yang kami miliki," ujar peneliti utama Leonardo Trasande, yang merupakan Direktur Pusat Investigasi Bahaya Lingkungan NYU, AS.

Meskipun DEHP tersebar luas di berbagai belahan dunia, penelitian mengungkapkan bahwa dampak kesehatannya terpusat di wilayah-wilayah tertentu. Tiga wilayah - Asia, Timur Tengah, dan Pasifik - menjadi penyumbang utama, mencakup 75% dari total perkiraan kematian yang terkait dengan paparan bahan kimia plastik ini.

Di antara negara-negara yang terdampak, India mencatat angka yang paling mengkhawatirkan dengan lebih dari 100.000 kematian terkait DEHP. Dua negara berikutnya dengan angka kematian tertinggi adalah Pakistan dan Mesir, menunjukkan pola dampak kesehatan yang konsisten di kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah.

Dr. Trasande menekankan bahwa penelitian ini telah mempertimbangkan berbagai faktor pengganggu potensial: "Dalam membangun model penelitian kami, kami telah memasukkan berbagai variabel termasuk indeks massa tubuh, pola konsumsi makanan, tingkat aktivitas fisik, serta berbagai determinan sosial kesehatan lainnya yang mungkin memberikan penjelasan alternatif."

Pola distribusi dampak kesehatan ini mengindikasikan bahwa selain faktor paparan kimia, kondisi sosial-ekonomi dan sistem kesehatan di wilayah-wilayah tersebut mungkin turut berperan dalam memperburuk efek kesehatan dari paparan DEHP. Temuan ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih holistik dalam menangani isu kesehatan lingkungan global.  

Ftalat: Ancaman Kesehatan Tersembunyi dan Langkah Pencegahannya

Risiko Kesehatan yang Terungkap:Penelitian terkini memperkuat temuan sebelumnya tentang bahaya ftalat, bahan kimia yang banyak digunakan dalam produk plastik. Zat ini telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk:

  • Masalah reproduksi
  • Gangguan sistem imun
  • Kelainan metabolik
  • Penyakit kardiovaskular

"Yang kita ketahui saat ini adalah bahwa banyak bahan kimia yang digunakan dalam bahan plastik berkontribusi terhadap peradangan, merusak hormon, dan molekul sinyal alami yang mendasari fungsi biologis dasar, termasuk metabolisme dan fungsi kardiovaskular," ujar Trasande.

Untuk mengurangi paparan ftalat, masyarakat disarankan hal berikut:

  • Hindari penggunaan wadah plastik berkode daur ulang 3 (PVC)
  • Pilih produk berlabel "bebas ftalat"
  • Kurangi konsumsi makanan kemasan plastik. Gunakan alternatif berbahan kaca atau stainless steel

"Namun, penelitian ini dan penelitian yang menjadi dasarnya, tidak berdiri sendiri. Ada banyak penelitian dari laboratorium, dari hewan dan manusia yang menunjukkan bahwa bahan kimia ini berkontribusi terhadap penyakit jantung," papar Trasande.

 

Cara Pencegahan

Dalam kehidupan modern, plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Meski sulit untuk sepenuhnya menghindarinya, Dr. Trasande menegaskan bahwa ada langkah-langkah praktis yang bisa kita ambil untuk meminimalkan risikonya.

"Kita dapat merundingkan kembali hubungan kita dengan plastik," kata Trasande. "Khususnya, hindari memanaskan plastik dalam microwave dan mencucinya di mesin pencuci piring, karena hal ini bisa menyebabkan penyerapan bahan kimia yang terkandung dalam plastik atau perubahannya menjadi mikroplastik yang dapat menyalurkan bahan kimia ini ke dalam tubuh manusia."

Di tingkat global, upaya pengendalian plastik semakin gencar dilakukan.

PBB diketahui sedang dalam proses negosiasi perjanjian plastik globalUni Eropa telah melarang penggunaan ftalat seperti DEHP dalam produk mainan dan kosmetik. "Ada koalisi negara-negara berambisi tinggi yang berupaya [...] tidak hanya mengurangi bahan kimia yang digunakan dalam bahan plastik yang menjadi perhatian, tetapi juga mengatasi besarnya polusi plastik."

Langkah-langkah ini menunjukkan kesadaran global yang semakin meningkat tentang bahaya plastik dan komitmen untuk mencari solusi berkelanjutan. Sementara menunggu kebijakan yang lebih ketat, setiap individu bisa mulai mengurangi ketergantungan pada plastik dalam kehidupan sehari-hari. Â