Ilmuwan Temukan Kemungkinan Matahari Picu Munculnya Air di Bulan

Lunar Trailblazer akan mencari keberadaan khususnya di kawah-kawah yang selalu berada dalam bayangan di kutub Bulan. Keberadaan air di Bulan telah lama memikat perhatian para ilmuwan.

Diterbitkan 29 April 2025, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - National Aeronautics and Space Administration (NASA) memulai pencarian air di Bulan dengan meluncurkan satelit Lunar Trailblazer. Roket SpaceX Falcon 9 yang membawa Lunar Trailblazer lepas landas dari Kennedy Space Center di Cape Canaveral pada 26 Februari 2025 lalu.

Lunar Trailblazer akan mencari keberadaan khususnya di kawah-kawah yang selalu berada dalam bayangan di kutub Bulan. Keberadaan air di Bulan telah lama memikat perhatian para ilmuwan.

Sejak 1960-an, para peneliti telah berspekulasi bahwa matahari mungkin berperan dalam pembentukan air di Bulan. Dikutip dari laman Earth pada Senin (28/04/2025), gagasan ini didasarkan pada teori bahwa partikel bermuatan dari matahari, atau angin surya, yang mengenai permukaan Bulan dapat memicu reaksi kimia yang menghasilkan air.

Teori ini mendapat dukungan eksperimen dari para ilmuwan dari Goddard Space Flight Center milik NASA. Mereka telah berhasil mensimulasikan proses ini di laboratorium.

Mereka menggunakan pengujian yang sangat realistis, menyerupai kondisi ketika angin surya menghantam debu bulan. Menariknya, para ilmuwan ini menemukan air dapat diciptakan hanya dengan menggunakan tanah bulan dan satu unsur dasar dari matahari, yakni hidrogen.

Matahari terus-menerus menyemburkan aliran partikel bermuatan ke seluruh tata surya yang disebut angin surya. Partikel-partikel ini terutama terdiri dari proton hidrogen dan melaju lebih dari 1,6 juta kilometer per jam.

Bumi memiliki medan magnet dan atmosfer yang melindunginya dari serangan partikel ini, tetapi bulan tidak. Permukaan bulan yang kering dan berdebu, disebut regolit, terpapar sepenuhnya.

Ketika proton dari angin surya mengenai regolit, mereka mengambil elektron dan berubah menjadi atom hidrogen. Atom-atom ini kemudian menyusup ke permukaan bulan dan bereaksi dengan oksigen yang ada dalam mineral seperti silika.

Hasil dari proses ini adalah terbentuknya molekul hidroksil (OH) dan terkadang molekul air (H2O). Bukti keberadaan keduanya telah ditemukan di lapisan paling atas permukaan bulan, hanya beberapa milimeter kedalamannya.

 

Sulit Membedakan

Namun membedakan antara hidroksil dan air murni sangatlah sulit. Oleh karena itu, para ilmuwan kerap menggunakan istilah “air” sebagai istilah umum untuk keduanya.

Selain simulasi laboratorium, pengamatan dari pesawat luar angkasa sebelumnya juga menunjukkan bahwa keberadaan air di Bulan bisa jadi bersifat dinamis. Salah satu petunjuk utamanya adalah perubahan sinyal air sepanjang hari.

Untuk mendeteksi perubahan, tim menggunakan spektrometer, alat yang mengukur pantulan cahaya. Mereka menemukan penurunan sinyal cahaya di panjang gelombang inframerah, tepat di area di mana air biasa menyerap energi.

Di beberapa lokasi, sinyal keberadaan air lebih kuat di pagi hari yang dingin. Kemudian, sinyal melemah di siang hari yang panas, dan kembali muncul di malam hari.

Hal ini menunjukkan bahwa air tidak menetap, melainkan terus terbentuk dan menguap secara berkala. Penurunan ini adalah tanda khas terbentuknya air atau hidroksil.

Meskipun tidak bisa memastikan bentuk pastinya, sinyal ini menunjukkan bahwa keduanya kemungkinan besar telah terbentuk.

(Tifani)