Ilmuwan Selidiki Penyebab Oksigen Venus Lepas Ke Luar Angkasa

Para ilmuwan mengungkap fenomena mengejutkan di atmosfer Venus pada 2024 lalu. Mereka menemukan kebocoran ion karbon (C) dan oksigen (O) ke luar angkasa.

Diterbitkan 19 April 2025, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Venus kerap disebut sebagai kembaran bumi karena memiliki ukuran, massa, kepadatan, komposisi, dan gravitasi yang mirip. Planet ini sebenarnya hanya sedikit lebih kecil dari planet Bumi, yakni dengan massa sekitar 80 persen dari bumi.

Para ilmuwan mengungkap fenomena mengejutkan di atmosfer Venus pada 2024 lalu. Mereka menemukan kebocoran ion karbon (C) dan oksigen (O) ke luar angkasa.

Melansir laman Space ada Jumat (18/04/2025), penemuan ini berasal dari data yang dikumpulkan oleh wahana antariksa BepiColombo milik European Space Agency (ESA) dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) saat melakukan flyby kedua di Venus pada Agustus 2021. Meskipun misi utama BepiColombo adalah menuju Merkurius, perlintasan ini memberikan wawasan penting tentang dinamika atmosfer Venus.

Selama 90 menit perlintasan, instrumen BepiColombo mendeteksi ion-ion berat seperti karbon dan oksigen yang melarikan diri dari atmosfer Venus dengan kecepatan tinggi, cukup untuk mengatasi gravitasi planet tersebut. Hal ini merupakan pertama kalinya ion karbon terdeteksi keluar dari atmosfer Venus, sementara ion oksigen sebelumnya telah diamati oleh misi lain.

Ion-ion ini biasanya bergerak lambat, sehingga mekanisme percepatan mereka masih menjadi misteri. Para ilmuwan menduga bahwa angin matahari dan medan magnet lemah Venus berperan dalam proses ini, namun detailnya masih dalam penelitian lebih lanjut.

Kehilangan ion-ion berat ini memberikan petunjuk penting tentang sejarah atmosfer Venus. Dahulu, Venus diperkirakan memiliki iklim yang lebih sejuk dan mungkin memiliki air di permukaannya.

 

Atmosfer Padat

Namun, saat ini, Venus memiliki atmosfer yang sangat padat dengan karbon dioksida dan suhu permukaan yang ekstrem. Proses seperti recombinasi disosiatif, di mana molekul-molekul di atmosfer dipecah oleh radiasi ultraviolet, dapat menyebabkan hilangnya hidrogen dan oksigen, komponen utama air.

Selain itu, angin listrik yang kuat, yang didorong oleh angin matahari, dapat mempercepat ion-ion ini keluar dari atmosfer, mempercepat hilangnya air dari planet tersebut. Meskipun penemuan ini signifikan, para ilmuwan menyadari bahwa laju kehilangan ion-ion berat saat ini tidak cukup untuk menjelaskan hilangnya seluruh air yang pernah ada di Venus.

Model-model menunjukkan bahwa Venus mungkin pernah memiliki lautan dangkal, namun mekanisme kehilangan air secara keseluruhan masih belum sepenuhnya dipahami. Faktor-faktor seperti aktivitas vulkanik yang intens dan kurangnya tektonik lempeng dapat berkontribusi pada akumulasi gas rumah kaca di atmosfer, mempercepat efek rumah kaca dan menguapkan air permukaan.

Setidaknya ada tiga misi yang sedang dikerjakan untuk mempelajari Venus dalam waktu dekat, yang diharapkan dapat menjelaskan banyak pertanyaan. Hal ini mencakup mekanisme pelepasan karbon, apakah planet ini masih aktif secara vulkanik, pertanyaan besar apakah ada kehidupan yang bersembunyi di balik awannya, dan tentu saja, bagaimana ia berevolusi dari dunia yang dulunya mungkin sangat mirip dengan bumi.

(Tifani)