Sukses

Jerman Akan Kirim Tank Leopard 2 ke Ukraina, Rusia Ketar-Ketir?

Liputan6.com, Berlin - Pemerintah Jerman dikabarkan setuju untuk mengirimkan tank Leopard 2 ke Ukraina. Sebelumnya, Jerman enggan mengirim karena khawatir memperparah situasi. 

Leopard 2 buatan Jerman ini terkenal sebagai salah satu jenis tank terbaik. Sebelumnya, pemerintah Polandia juga menekan Jerman agar mengirim tank tersebut. Polandia sebetulnya ingin mengirimkan tank Leopard 2 miliknya, namun tidak bisa karena harus meminta izin Jerman selaku pembuat tanknya.

Dilaporkan BBC, Rabu (25/1/2023), Kanselir Jerman Olaf Scholz akan mengirim setidaknya 14 unit tank Leopard 2.  Tank ini dinilai bisa menjadi game-changer di perang antara Rusia melawan Ukraina

Amerika Serikat pun ingin mengirimkan tank M1 Abrams. Berdasarkan laporan-laporan media AS, Jerman hanya mau mengirimkan tank Leopard 2 apabila Amerika mengirimkan M1.

Pihak Rusia pun bereaksi pada kabar pengiriman tank M1 Abrams dan Leopard 2 ini. Juru bicara pemerintahan Rusia, Dmitry Peskov, berkata pengiriman Leopard 2 akan memperburuk relasi Jerman-Rusia.

"Pengiriman-pengiriman tersebut tidak akan memberikan hal baik kepada hubungan kedua negara," ucap Peskov.

Sementara, Duta Besar Rusia di Amerika Serikat, Anatoly Antonov, mengirim reaksi keras mendengar kabar pengiriman tank-tank tersebut. Antonov pun yakin kabar pengiriman tank ini akan diwujudkan.

"Selama krisis Ukraina, administrasi ini berkali-kali menggunakan teknik merilis informasi di media menjelang pengiriman-pengiriman signifikan senjata dan perlengkapan ke rezim Kiev," ujar Antonov dalam pernyataannya di media sosial.

Antonov yakin tank-tank kiriman AS itu akan dihancurkan, namun ia menyebut bahwa pengiriman tank itu sebagai "provokasi terang-terangan terhadap Federasi Rusia".

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Panglima Militer Norwegia: Korban Tewas Atau Luka Akibat Perang di Pihak Rusia Mencapai 180.000 Orang

Sebelumnya dilaporkan, korban tewas atau luka di pihak Rusia akibat perang mencapai 180.000 orang, sementara dari sisi Ukraina jumlahnya mencapai 100.000 orang dari kalangan militer (tewas/luka) dan 30.000 warga sipil yang tewas. Demikian perkiraan Panglima Militer Norwegia Jenderal Eirik Kristoffersen.

"Kerugian Rusia mulai mendekati sekitar 180.000 tentara yang tewas atau terluka," ujar Kristoffersen dalam wawancaranya dengan TV2, tanpa merinci bagaimana jumlah tersebut dihitung. Demikian seperti dikutip dari ABC News, Senin (23/1).

Norwegia, negara yang berbatasan dengan Rusia, telah menjadi anggota NATO sejak pakta pertahanan itu didirikan pada tahun 1949.

"Kerugian Ukraina mungkin lebih dari 100.000 (pasukan) tewas atau terluka. Selain itu, ada sekitar 30.000 warga sipil yang tewas dalam perang yang mengerikan ini," kata Kristoffersen.

Namun, menurut Kristoffersen, meski mengalami kerugian yang besar, Rusia dapat melanjutkan perang untuk waktu yang cukup lama. Ia merujuk pada mobilisasi dan kapasitas produksi senjata Moskow.

"Yang paling mengkhawatirkan adalah apakah Ukraina mampu menghalau angkatan udara Rusia dari medan perang," ujar Kristoffersen seraya menambahkan bahwa sejauh ini Ukraina bisa melakukannya berkat sistem pertahanan antipesawat.

Sebagian besar serangan Rusia dalam beberapa bulan terakhir dilancarkan melalui rudal jarak jauh.

Dalam kesempatan yang sama, Kristoffersen mendesak sekutu Barat untuk mempercepat pengiriman tank ke Ukraina, yang sejauh ini terkendala oleh Jerman.

"Jika mereka (Ukraina) ingin menyerang pada musim dingin, mereka akan membutuhkannya segera," tutur Kristoffersen.

Pada November, Panglima Militer Amerika Serikat Jenderal Mark Milley mengatakan bahwa tentara Rusia yang terluka atau tewas mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan jumlah korban yang mungkin serupa di pihak Ukraina. Bagaimanapun, angka-angka tersebut sulit diverifikasi. Baik Moskow maupun Kyiv belum memberikan laporan memadai tentang kerugian mereka akibat perang.

3 dari 4 halaman

Rusia Ingatkan Potensi Eskalasi hingga Perang Nuklir Jika NATO Kirim Senjata Berat ke Ukraina

Rusia memperingatkan eskalasi yang sangat berbahaya jika NATO mengerahkan bantuan senjata berat seperti tank tempur dan sistem rudal jarak jauh ke Ukraina.

Pernyataan Kremlin itu datang pada Kamis (19/1/2023), sebelum pertemuan sekutu Barat pada Jumat (20/1). Tatap muka itu akan membahas pengiriman bantuan militer yang lebih masif ke Ukraina. Demikian dilansir Al Jazeera

"Berpotensi, sangat berbahaya. Itu akan membawa konflik pada level yang sama sekali baru, yang tentu saja bukan pertanda baik dari sudut pandang global dan keamanan Eropa," ujar juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Peskov mengungkapkan hal tersebut setelah Duta Besar Rusia untuk Amerika Serikat (AS) Anatoly Antonov membuat pernyataan bernada serupa.

"Ini harus menjadi jelas bagi semua orang: Tidak peduli senjata apa yang dipasok AS atau NATO ke rezim Zelensky, kami akan menghancurkannya," kata Antonov. "Tidak mungkin mengalahkan Rusia."

Antonov menambahkan bahwa retorika AS atas Ukraina kian agresif.

"Dengan bersikeras bahwa Krimea adalah bagian dari Ukraina dan mengatakan Kyiv dapat menggunakan senjata AS untuk melindungi wilayahnya, Washington pada dasarnya mendorong rezim Kyiv untuk melakukan tindakan teror di Rusia," ungkap diplomat Rusia tersebut.

Sementara itu, secara terpisah, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan bahwa dukungan berkelanjutan Barat untuk Ukraina dapat menyebabkan perang nuklir.

"Kekalahan tenaga nuklir dalam perang konvensional dapat memicu pecahnya perang nuklir," tulis Medvedev via aplikasi perpesanan Telegram. "Kekuatan nuklir tidak pernah kalah dalam konflik besar yang menjadi sandaran nasib mereka."

Peskov menggarisbawahi bahwa komentar Medvedev sejalan dengan doktrin nuklir Rusia.

 

4 dari 4 halaman

NATO Tetap Tenang

Panglima pasukan NATO di Eropa percaya diri bahwa risiko eskalasi perang di Ukraina tetap dapat dikelola meski ada pengiriman tank tempur oleh Barat.

"Bisakah kita mengelola risiko? Ya, tentu saja. Saya percaya kita dapat mengelola risiko secara umum," kata Jenderal AS Christopher Cavoli pada Kamis di Brussels setelah pertemuan Komite Militer NATO.

Adapun Ketua Komite Militer NATO Rob Bauer menggarisbawahi pentingnya memasok tank ke Ukraina.

"Rusia bertempur dengan tank, sehingga Ukraina membutuhkan tank juga," katanya. "Penting bagi Ukraina untuk mencocokkan diri dengan apa yang dimiliki musuh dan berambisi untuk mendapatkan kembali wilayah mereka sendiri."

Melalui Twitter, penasihat presiden Ukraina, Mykhaylo Podolyak, mengatakan bahwa sekarang adalah waktunya berhenti gemetar menghadapi Vladimir Putin dan mengambil langkah terakhir.

"Ukraina membutuhkan tank, tank adalah kunci untuk mengakhiri perang dengan baik," tulis Podolyak.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS