Sukses

Wali Kota Rotterdam Kritik Acara Iklim di Inggris Banyak Omong

Liputan6.com, Singapura - Wali Kota Rotterdam Ahmed Aboutaleb melontarkan kritikan kepada acara iklim internasional COP26 yang sedang diketuai oleh Inggris. Ia berkata acara tersebut kebanyakan ngomong soal ideologi.

Pernyataan tajam itu diucapkan Wali Kota Aboutaleb ketika menjadi pembicara di World Cities Summit 2022. Politisi Belanda menganggap lebih baik pemimpin kota bertindak dengan nyata meskipun berskala kecil. 

Aboutaleb menjelaskan bahwa sah-sah saja membahas ideologi, namun ia kecewa melihat diskusi ideologi yang tidak relevan dengan tindakan di lapangan.

"Saya melihat jarak yang besar antara apa yang para pemimpin lokal kita coba lakukan atau yang dilakukan bersama warga kita dan omongan ideologis. Dan itu adalah kegagalan besar di sistem kita," ujar Wali Kota Rotterdam pada acara World Cities Summit di Singapura, Selasa (2/8/2022).

COP26 adalah acara internasional yang digelar di Glasgow pada akhir 2021. Inggris menpromosikan ajang tersebut secara besar-besaran. Wali Kota Rotterdam menganggap COP26 di Inggris sebagai buang-buang waktu dan ia mengaku tidak perlu diundang karena punya kesibukan sendiri.

"Jika ditanya apakah saya senang diminta ikut COP26 di Britania Raya, saya tidak senang. Saya punya pekerjaan yang lebih baik di negara saya sendiri," tegasnya.

Sebelumnya, aktivis Swedia Greta Thunberg juga pernah memberikan pernyataan serupa terkait COP26 yang dianggap tak menyelesaikan masalah.

Liputan6.com telah menghubungi Kedutaan Besar Inggris di Jakarta untuk mendengar respons mereka, namun pihak kedutaan masih enggan untuk berkomentar.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

BMKG: Perubahan Iklim Mengkhawatirkan, Aksi Mitigasi Gas Rumah Kaca Harus Lebih Ditingkatkan

Beralih ke dalam negeri, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyebut laju peningkatan suhu permukaan di Indonesia sangat bervariasi.

Berdasarkan analisis hasil pengukuran suhu permukaan dari 92 Stasiun BMKG dalam 40 tahun terakhir, menunjukkan kenaikan suhu permukaan lebih nyata terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Dimana, Pulau Sumatera bagian timur, Pulau Jawa bagian utara, Kalimantan dan Sulawesi bagian utara mengalami trend kenaikan > 0,3℃ per dekade.

Laju peningkatan suhu permukaan tertinggi tercatat terjadi di Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kota Samarinda (0,5℃ per dekade). Sementara itu wilayah Jakarta dan sekitarnya suhu udara permukaan meningkat dengan laju 0,40 – 0,47℃ per dekade.

"Secara rata-rata nasional, untuk wilayah Indonesia, tahun terpanas adalah tahun 2016 yaitu sebesar 0,8 °C dibandingkan periode normal 1981-2010 (mengikuti tahun terpanas global), sementara tahun terpanas ke-2 dan ke-3 adalah tahun 2020 dan tahun 2019 dengan anomali sebesar 0,7 °C dan 0,6 °C," papar Dwikorita.

Analisis BMKG tersebut, lanjut Dwikorita, senada dalam laporan Status Iklim 2021 (State of the Climate 2021) yang dirilis Badan Meteorologi Dunia (WMO) bulan Mei 2022 yang lalu. WMO menyatakan bahwa hingga akhir 2021, suhu udara permukaan global telah memanas sebesar 1,11 °C dari baseline suhu global periode pra-industri (1850-1900), dimana tahun 2021 adalah tahun terpanas ke-3 setelah tahun 2016 dan 2020.

WMO, kata dia, juga menyebutkan dekade terakhir 2011-2020, adalah rekor dekade terpanas suhu di permukaan bumi. Lonjakan suhu pada tahun 2016 dipengaruhi oleh variabilitas iklim yaitu fenomena El Nino kuat, sementara itu terus meningkatnya suhu permukaan pada dekade-dekade terakhir yang berurutan merupakan perwujudan dari pemanasan global.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Suhu Panas Melonjak, WHO: Mengerikan, Apokaliptik

Perubahan iklim yang terjadi di Eropa menjadi pemberitaan di seluruh dunia. Suhu di negara-negara Eropa bahkan mulai bersaing dengan suhu Jakarta yang biasanya sekitar 30 derajat celcius. 

Pekan lalu, BBC menyebut suhu di kota London telah tembus 40 derajat celcius. Di wilayah Eropa lain, Prancis dan Spanyol terdampak kebakaran hutan yang parah, sementara BNO News melaporkan lebih dari 1.000 orang meninggal di Spanyol dan Portugal akibat cuaca panas.  

Direktur Regional WHO, Hans Henri Kluge, menyebut kondisi yang terjadi di Eropa adalah hal menakutkan. Kantor-kantor WHO juga turut merasakannya.

"Tak pernah terjadi sebelumnya. Menakutkan. Apokaliptik," ujar Kluge dalam pernyataan di situs WHO, dikutip Senin (25/7).

"Perubahan iklim bukanlah hal yang baru. Namun, konsekuensi-konsekuensinya meningkat pada musim demi musim, tahun demi tahun, dengan hasil malapetaka," lanjutnya. 

Kluge menyorot bahwa kebakaran hutan yang biasanya terjadi di selatan Eropa kini ikut melanda wilayah Skandinavia. Selain itu, gelombang panas bisa memicu kematian dini, serta memperparah penyakit penyerta. 

WHO menyarankan agar masyarakat mengurangi dulu aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan, serta jangan meninggalkan anak kecil atau hewan peliharaan di kendaraan. Masyarakat juga diminta sering-sering minum air, namun hindari alkohol, kopi, atau minuman dengan gula. 

Apabila masyarakat merasakan gejala seperti pusing, lelah, cemas, atau sangat kehausan, segera pindah ke lokasi yang lebih sejuk. 

"Pada akhirnya, kejadian-kejadian pekan ini kembali menunjukkan perlunya kebutuhan aksi pan-Eropa untuk secara efektif menangkal perubahan iklim, krisis yang menjalar di zaman kita ini mengancam kesehatan individu dan eksistensi kemanusiaan," ujar Kluge.

4 dari 4 halaman

WHO Ikut Prihatin

Sebelumnya dilaporkan, benua Eropa sedang diterjang gelombang panas yang membuat suhu tembus 40 derajat celcius. World Meteorological Organization (WMO) memprediksi gelombang panas ini bisa terus terjadi hingga berdekade-dekade.

Dilansir UN News, Rabu (20/7), pola itu disebut terkait aktivitas manusia yang berkontribusi pada pemanasan planet. Dampak besar berisiko terjadi pada sektor agrikultur.

"Kami memperkirakan melihat dampak-dampak besar pada agrikultur. Pada gelombang panas sebelumnya di Eropa, kita kehilangan sejumlah besar panen. Dan di bawah situasi terkini, kita sudah terkena krisis pangan global akibat perang di Ukraina, gelombang panas ini akan membawa dampak pada aktivitas-aktivitas agrikultur," ujr Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal WMO, dalam konferensi pers di Jenewa.

Pihak WHO menyebut gelombang panas akan terjadi lebih sering hingga tahun 2060-an. Gelombang panas di Eropa saat ini mungkin akan terus berlanjut hingga pertengahan pekan depan.

Dampak dari gelombang panas bukan hanya membuat situasi tidak nyaman, tetapi berbahaya karena bisa menjebak polusi dan mengurangi kualitas udara. Akibatnya, para lansia terdampak parah. Pada gelombang panas 2023, sekitar 70 ribu orang meninggal di Eropa.

Gelombang panas yang terjadi di 2022 juga memicu kebakaran hutan di Spanyol.

WHO turut menyorot masalah gelombang panas ini karena gelombang panas memiliki dampak langsung terhadap kesehatan. Akses kepada makanan dan minuman pun terkena risiko, serta ada ancaman kekurangan air.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS