Sukses

Jumping Worm, Cacing Pelompat Rakus Muncul di California Bikin Tukang Kebun Waspada

Liputan6.com, California - Waspadalah para tukang kebun -- Amynthas agrestis yang invasif, juga dikenal sebagai jumping worm (cacing lompat) dari Asia, dapat menggeliat di sekitar taman di dekat Anda. Cacing ini dikenal karena nafsu makannya yang tak pernah terpuaskan dan kemampuannya untuk melompat satu kaki ke udara.

"Sesuai dengan namanya, mereka langsung melompat dan meronta-ronta saat dipegang, berperilaku lebih seperti ular yang terancam daripada cacing, terkadang bahkan mematahkan dan melepaskan ekornya saat ditangkap," kata Departemen Pangan dan Pertanian California (CDFA) dalam sebuah laporan.

Departemen itu menambahkan bahwa mereka diketahui melompat dari tanah atau keluar dari kaleng umpan.

Seolah-olah itu tidak cukup membingungkan, cacing "sangat aktif, agresif, dan memiliki nafsu makan yang rakus," CDFA memperingatkan dalam laporan itu. Menurut liputan berita baru-baru ini, cacing pelompat Asia telah terlihat di California dengan frekuensi yang lebih besar akhir-akhir ini.

Berasal dari Asia Timur, khususnya Jepang dan Semenanjung Korea, cacing ini mulai tiba di Amerika Serikat pada awal 1900-an, terselip di tanah tanaman pot, menurut Departemen Pertanian AS (USDA). Sejak itu, cacing-cacing itu telah menyebar ke seluruh AS dan sekarang dapat ditemukan di setidaknya 34 negara bagian.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Cacing dengan Senyum Mengerikan Ditarik dari Dasar Laut, Ternyata...

Cacing unik lainnya pernah ditemukan oleh nelayan Rusia Roman Fedortsov memiliki kebiasaan menarik makhluk menjijikkan dan aneh dari laut dalam. Terbaru, pria itu berhasil menangkap cacing laut yang "tersenyum", namun, dengan mimik yang menakutkan.

Dalam video yang diunggah Fedortsov di Twitter pekan lalu, bagian kepala cacing laut itu tampak menunjukkan raut wajah yang berubah-ubah, hingga pada satu titik, menunjukkan mimik seakan tersenyum seperti makhluk dalam film-film fiksi sains atau horor.

Video yang diunggah Fedortsov pun dilengkapi dengan suara latar bernada melengking, seolah-olah cacing itu mengeluarkan jeritan kala tersenyum. Tapi suara tersebut bukan berasal dari hewan melata itu.

Namun, Fedortsov mengatakan dalam tweet-nya, "Jika makhluk itu bisa berteriak, ia akan berteriak seperti ini," tulisnya, seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Kamis (22/11/2018).

Tapi ternyata, menurut Mark Siddall, seorang kurator di American Museum of Natural History, Divisions of Invertebrate Zoology, cacing dalam video Fedortsov tak benar-benar tersenyum.

Seperti dikutip dari LiveScience, apa yang sekilas dipersepsikan sebagai senyuman, hanyalah efek sudut kamera dalam proses perekaman dan bukan anatomi sesungguhnya dari hewan melata tersebut.

Apa yang tampak sebagai "kepala" cacing adalah, pada kenyataannya, faring yang dapat ditarik yang --bersama dengan rahangnya-- dapat berkontraksi untuk mengambil makanan. Ketika faring ini diselipkan ke tubuh cacing, wajahnya terlihat tersenyum.

Cacing dalam video Fedortsov adalah polychaete, atau cacing bulu laut. Dinamakan demikian karena mereka memiliki bulu kecil yang disebut chaetae di sekitar tubuh mereka, yang membantu mereka dengan cepat bergerak di laut, merayap di liang-liang karang, atau berenang, menurut National History Museum of Los Angeles County.

Lebih khusus lagi, cacing itu mungkin masuk dalam keluarga nereids, menurut Mark Siddall.

Polychaetes muncul dalam berbagai ukuran dan bentuk dan hidup di berbagai habitat dari lubang hidrotermal ke terumbu karang.

Jadi, cacing-cacing tersenyum dan bergerombol itu kemungkinan ada di seluruh habitat laut, meskipun mungkin sayangnya, tidak benar-benar tersenyum.

3 dari 4 halaman

Penampakan Cacing Misterius Tertua di Dunia

Di lain kabar, para ilmuwan menemukan cacing tertua dan terbesar di dunia yang awalnya diperkirakan telah punah.

Cacing dengan nama latin Kuphus polythalamia ini memiliki panjang 1,5 meter dan ditemukan dalam cangkang panjang. Penemuan cacing ini merupakan kabar gembira bagi dunia ilmu pengetahuan karena tak ada yang menyangka masih ada satu yang bertahan.

Melansir dari situs Smithsonian, cacing yang memiliki tubuh besar ini memiliki sistem metabolisme khusus yang mengubah zat tertentu seperti karbon menjadi makanannya. Bahkan cacing ini bisa mencerna kayu untuk diubah menjadi hidrogen sulfida dan menjadi makanan bakteri di insangnya.

Dengan adanya sistem metabolisme khusus tersebut, tak heran cacing ini tak banyak makan. Cacing yang hidup di lumpur dasar laut ini diklaim masih satu kerabat dengan jenis kerang.

Seperti kerang, cacing Kuphus tinggal di cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat yang disekresikan. Saat ditemukan, cacing ini masih berada di dalam cangkang.

Untuk mencari tahu lebih banyak tentang cacing langka ini, para ilmuwan kemudian mengeluarkan cacing ini dari cangkang dengan hati-hati. Saat dikeluarkan, barulah terlihat tubuh gelap dan lembek dari cacing tersebut. Kini, para ilmuwan masih mendalami lebih jauh anatomi cacing Kuphus. 

4 dari 4 halaman

Kisah Gadis Penelan Pil Cacing Pita

Penyebab menggembungnya perut pasien remaja -- seperti hamil -- di Amerika Serikat sudah terjawab, setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan di sebuah rumah sakit. Dalam pemeriksaan awal termasuk proses rontgen, tak terlihat ada janin dalam perut.

Lalu tim dokter memutuskan untuk melakukan scan seluruh tubuh. Diketahui ada sesuatu, namun tak dapat dipastikan apa itu.

Tak berapa lama, pasien remaja itu buang air besar. Lalu terdengar suara teriakan dari dalam toilet. Perawat pediatrik UGD, Maricar Cabral-Osorio pun langsung berlari menghampiri.

Lalu ia terkejut melihat gundukan feses bercampur dengan cacing pita. Hewan itu masih hidup, dan menggeliat memanjat ke luar toilet. Menjijikkan!

Meski sedikit panik, Cabral-Osorio berusaha menenangkan pasiennya. Dengan mengatakan bahwa jika cacing pita itu keluar dari tubuhnya, maka ia akan baik-baik saja.

Namun bagaimana cacing pita itu bisa berada di dalam usus awalnya tak terpecahkan.

Setelah terjadi perdebatan sesaat antara perawat, dokter dan ibu pasien remaja itu. Akhirnya diketahui sang ibulah dalang insiden itu.

"Kami ingin tahu bagaimana bisa ada cacing pita di dalam perutnya, kemudian si ibu terlihat pucat," kata Cabral-Osorio.

"Ibu itu meminta maaf kepada putrinya. 'Maafkan aku. Kau tahu, aku melakukannya hanya untuk membuat kamu lebih kurus sebelum ikut kontes kecantikan," papar Cabral-Osorio.

Cabral-Osorio mengatakan ibu itu membantah memberi cacing pita pada pasien, tetapi mengakui memberikan pil penuh telur cacing pita untuk putrinya. Ada-ada saja.